Beranda blog

Wisata Pertapan Desa Gerduren

2
Pintu Masuk Pertapan

(Banyumas, 04/04/2021) Pilihan akhirnya jatuh ke Pertapan Gerduren. Tempat wisata alam di Desa Gerduren Kec. Purwojati – Banyumas. Beberapa kali liburan ke rumah Mbah di Tunjung Lor – Jatilawang hanya melewati saat dari dan ke Wangon lewat Gerduren. Wisata alam ini dikelola oleh BUMDesa “Usaha Mandiri” Desa Gerduren. Tentu tak lepas dari peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) “Pesona Gerduren”.

Selain karena dekat, relatif murah (HTM: 3 ribu rupiah), juga cocok untuk anak-anak yang suka eksplorasi (baca: bermain dan berlarian). Terlebih bagi Syamil (10 th) anakku yang kedua. Dia senang bermain di alam terbuka, seperti bukit, pegunungan, dan pantai. Dia semangat naik hingga ke puncak bukit tertinggi di Pertapan.

 

Selamat datang di Pertapan Gerduren
Cocok untuk bermain anak-anak

Lokasi

Bagi kamu yang tinggal di daerah Purwojati, Gentawangi, Tunjung Lor, tentu sudah familier. Karena tempat wisata ini sudah beroperasi sejak 2019. Pandemi covid19 menjadikan beberapa spot dan warung rusak belum diperbaiki. Namun pengunjung sudah mulai ramai. Warung yang sudah beroperasi baru milik BUMDesa.

Untuk pengunjung lain disarankan mengikuti jalur dari pertigaan Wangon ke arah utara setelah lampu lalu lintas. Ikuti jalan menuju Gerduren lewat Glempang. Pakai aplikasi pencari lokasi Pertapan Gerduren atau GPS (Gunakan Penduduk Setempat). Karena kalau diceritakan agak membingungkan, jalannya berkelak-kelok, meski sudah beraspal bagus.

Optimisme akan ramai pengunjung ditandai dengan perluasan tempat parkir. Saat saya datang ke sana, ada 2 (dua) kelompok besar yang mengadakan acara. Satu perkumpulan ibu-ibu, satu lagi dari Paguyuban Warga Ngapak (PWN). Sepertinya anggota PWN sudah mudik duluan sebelum larangan mudik ditetapkan.

Tempat parkit cukup luas

Wahana

Memasuki area wisata, kamu bisa melihat aneka bunga sekitar pintu masuk. Pembatas area parkir ditandai dengan patung Ular. Kemudian ada pendopo guna pertemuan. Di sekitar itu ada warung yang menyediakan makanan dan minuman. Tersedia bekal jika kamu ingin naik ke atas ke tempat Pertapan. Bayar tentunya ya.

Selain itu, kamu bisa bermain Egrang (pemainan). Yakni jenis permainan yang menjadikan keseimbangan tubuh sebagai kekuatan. Dimana kamu berjalan menggunakan alat buatan dari bambu. Kemudian ada ayunan, tempat duduk-duduk, dan arena foto.

Saat kamu putuskan untuk naik, saya sarankan untuk membawa bekal air minum yang cukup dan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Saat terik matahari akan membuat baju basah bermandikan keringat. Akan tetapi indahnya pemandangan dari atas akan memanjakan mata. Sebagai buah dari usaha kamu menaiki jalan setapak.

Indah pemandangannya
Aku sampai puncak bukit lho.

Hasil Perjuangan

Lahan yang sekarang dikelola oleh BUMDesa “Usaha Mandiri” adalah buah perjuangan. Pemerintah Desa mengajukan Izin Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial (IPHPS)ke Perhutani sebagai bagian dari keinginan untuk mensejahterakan masyarakat. Karena selain dimanfaatkan untuk wisata, warga diijinkan menanami tanaman sela. Saat saya berkunjung ke sana, terlihat ada tanaman palawija. Beberapa warga sedang menyiangi rumput diantara tanaman kacang hijau.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 39 tahun 2017 tentang Perhutanan Sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani membuka peluang pemanfaatan lahan hutan bagi desa. Namun demikian, perlu edukasi bagi warga tentang kelestarian. Hal ini juga menjadi peluang dan tantangan. Peluang untuk pemanfaatan hutan bagi kesejahteraan, namun tantangan untuk kelestarian alam. Jangan sampai, pemanfaatan lahan justru merusak hutan.

Tanaman Sela.
Pemanfaatan lahan oleh masyarakat.

 

 

Eksekusi yang Berkualitas

0
Serahkan pada ahlinya

Orang sering bertanya mengapa pekerjaan di satu tempat bisa berhasil, sedang di tempat lain tidak. Padahal pekerjaan di tempat yang tidak berhasil sudah meniru apa yang dilakukan dari tempat yang berhasil. Semua proses perencanaan, pengorganisasian, penganggaran, dan contoh-contoh kegiatan sudah menerapkan ATP (Amati, Tiru, Plek) atau ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi).

Tidak sedikit pula dalam prosesnya mereka didampingi oleh mentor profesional. Sudah sesuai dengan regulasi, baik regulasi eksternal maupun internal. Nyatanya tidak berhasil. Tak jarang kemudian orang kemudian bersikap pesimis. Mereka berujar: “ah, teori”.

Padahal proses terjadinya teori didasari dari praktik-praktik baik yang dilakukan oleh kebanyakan. Prosesnya deduktif, bukan induktif. Itu lah kenapa teori didefinisikan sebagai “kebenaran yang bersifat umum”. Karena kebenarannya sudah jamak dilakukan oleh banyak pihak.

Kualitas Eksekusi

Jawaban paling tepat adalah kualitas dari eksekusinya. Sebagus apapun proses perencanaan dan pengorganisasian, jika di eksekusi dengan tanpa kualitas, maka hasilnya nihil. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor kedisiplinan menjadi tolok ukur. Apakah dalam pelaksanaan perencanaan dilakukan sesuai standar, jangka waktu, personal, dan kemampuan adaptif terhadap perubahan.

Eksekusi berkaitan dengan ketersediaan sumber daya (terutama manusia), pilihan strategi, dan operasionalisasi strategi. Bagaimana menterjemahkan pilihan strategi dalam operasionalisasi, dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada, hanya bisa dilakukan oleh mereka yang paham akan kualitas eksekusi itu sendiri. Biasanya ini didapatkan oleh mereka yang memiliki jam terbang yang tinggi pada bidangnya.

Jika dalam pelaksanaannya tidak dilakukan dengan disiplin, maka yang kualitasnya tentu jauh dari harapan. Hal ini menyebabkan target tidak tercapai. Realitasnya para karyawan menginginkan pekerjaan yang nyaman tanpa dikenai target. Mental yang demikian perlu di upgrade. Bahkan, tak jarang pada titik tertentu harus di rotasi peran mereka.

Kualitas Eksekutor

Seperti kita tahu, sekelompok Singa hanya bisa mengembik, saat dipimpin oleh seekor kambing. Oleh karenanya, kualitas eksekutor menjadi kunci. Tentunya hal ini dinisbatkan pada pimpinan yang diberi mandat. Jika mental pimpinan lemah, karena hanya ingin bekerja biasa-biasa saja, maka jangan berharap ada perubahan yang kentara. Karena seorang pimpinan harus berpikir, bertindak, dan menangkap perubahan dengan cara ekstra. Disinilah fungsi pengorganisasian berbicara.

Eksekusi yang baik hanya bisa dilakukan oleh eksekutor yang baik. Dia tidak hanya mampu menggerakkan Tim, memastikan perencanaan berjalan baik, sesuai target waktu dan capaian, tapi juga sigap melakukan perubahan. Pengalaman dan keberanian mengambil keputusan menjadi kunci pilihan seorang eksekutor. Tetap berpegang teguh pada visi, misi, tupoksi diri dan bawahan, serta disiplin menegakkannya.

Eksekutor yang baik bukan dilahirkan, tapi dibentuk, terbentuk, dan membentuk. Dibentuk oleh leader dan sistem. Terbentuk oleh kondisi lingkungan yang senantiasa berubah-ubah. Dan membentuk super Tim untuk membantunya menyelesaikan mandat.

Adaptif

Tak jarang pilihan strategi saat perencanaan dibuat, tidak sesuai realita. Maka yang dibutuhkan oleh seorang eksekutor adalah kemampuan berpikir, merumuskan alternatif strategi, dan tindakan adaptif. Perubahan yang terjadi baik dari sisi internal maupun eksternal segera di respon. Komunikasikan dengan baik kepada para pihak yang terlibat. Berikan alternatif strategi berdasar analisisnya, rencana pembagian kerjanya, dan target capaiannya.

Jika eksekusi yang dilakukan tidak adaptif, baik pada perubahan besar atau kecil, maka sulit berkembang. Yang terjadi adalah kekakuan. Prinsip asal aman, tidak melanggar aturan, dan enggan beririsan dengan resiko, hanya berlaku pada seorang karyawan biasa. Sedangkan sikap adaptif mesti dianut oleh seorang eksekutor.

Kemampuan adaptif bisa didapatkan dari seorang eksekutor yang memiliki skill berbeda. Mampu menganalisa lingkungan internal dan eksternal, mengkategorikan perlu tidaknya perubahan strategi, memberikan alternatif strategi jika memang perlu perubahan, dan bersiap menanggung resiko atas pilihannya. Tentunya resiko yang terukur dan tidak merugikan diri sendiri, karyawan, maupun perusahaannya.

Masukan Regulasi Transformasi UPK

0
Bersama Sekjend Kemendesa, Pak Taufik Madjid

Akhirnya ke Jakarta juga. Misinya tak jauh-jauh dari isu transformasi UPK menjadi unit usaha BUMDesa Bersama. Mencari banyak informasi sebagai bahan pengajuan usul dalam klausul regulasinya. Pengalaman mendampingi transformasi Badan Kredit Desa (BKD) menjadi unit usaha BUMDesa Bersama, mungkin bisa menambah kekayaan khasanah.

Berbeda dari kunjungan yang dulu-dulu, kesempatan kali lebih banyak bertemu para pihak yang bisa diajak berdiskusi. Efek pandemi Covid19 membuat beliau-beliau mengurangi aktivitas luar kota. Mereka sebagian besar memiliki akses terhadap penyusunan rencana peraturan pemerintah tersebut, meski tidak dilibatkan secara langsung. Berkesempatan pula berdiskusi cukup panjang dengan orang dekat Pak Menteri. Siapa-siapa yang perlu dihubungi agar masukan bisa lebih didengar oleh Pak Menteri. His name is effort.

Seperti biasanya, kesempatan berdiskusi panjang ini justru tidak pada acara yang dituju. Tapi pada pertemuan informal di sela-sela acara resmi lain. Istilah “tamu VVIP” untuk saya adalah guyonan sebagai peserta tak diundang. LOL.

Perihal Transformasi

Beberapa hal menarik yang bisa disampaikan disini adalah bahwa Pak Menteri turun langsung dalam perumusan regulasi ini. Pengalaman sekitar 15 tahun beliau jadi anggota DPRD Kab. Jombang dengan 2 (dua) periode menjadi Ketua DPRD, membuat beliau fasih dalam hal ini. Proses transformasi UPK jadi unit usaha BUMDesa Bersama di Jatim, ingin beliau terapkan. Momentum pengakuan BUMDesa dan BUMDesa Bersama menjadi badan hukum dimanfaatkan betul. Salah satu pejabat yang terlibat dalam penyusunan Rapermen (Rancangan Peraturan Menteri) sebelumnya mengatakan bahwa Pak Menteri tidak suka dengan status quo. Perubahan adalah keniscayaan. Hal itu juga didukung oleh hasil kajian internal terbaru Kementerian Desa.

Hal lain yang ingin dituju dari regulasi ini, versi Kementrian Desa, agar keberadaan dana yang selama ini dikelola akan lebih luas kemanfaatannya. Kalau pengelolaan sekarang memang diakui sudah sangat bermanfaat. Tapi peluang untuk memperluas cakupan bagi masyarakat, menurut mereka, akan lebih luas lagi. Sedangkan kekhawatiran akan adanya move dari oknum agar aset terbagi, pihak Kementerian Desa menjamin, tidak akan ada pembagian aset. Keberadaan sumber daya manusia yang selama ini mengelola pun akan ‘diamankan’ agar tidak diserobot oleh pihak lain.

Hal-hal teknis terkait transformasi ini memang belum dibahas detail. Meski gambaran itu sudah ada. Hal ini dikarenakan masih menggodok regulasi umumnya dulu. Ini pun masih uji publik, sehingga semua yang merasa berkepentingan diijinkan memberi masukan. Kalau soal polemik, mereka sadar. Itu hal biasa dalam setiap proses perubahan. Tentu hasilnya tidak akan memuaskan semua pihak. Sekali lagi, perubahan adalah keniscayaan.

Tulisan ini pun sengaja diketengahkan agar terjadi diskusi-diskusi. Sepanjang mengarah kepada kebaikan bersama dan bisa disampaikan (disarankan secara tertulis), pihak Kementerian Desa siap menerima sebagai masukan berharga.

Hal lain yang tak kalah penting

Perlu diketahui kepada khalayak bahwa pengelolaan dana bergulir sudah berjalan baik. Dana Bantuan Modal Langsung (BLM) yang selama ini dikelola bukan hanya lestari, tapi berkembang biak. Total dana pengembangan hasil kegiatan (akumulasi modal ditahan) jumlahnya melebihi total dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang diberikan oleh pemerintah. Ini menunjukkan kredibilitas baik para pengelola. Jika hanya urusan teknis pengelolaan dan pelaporan, mungkin bisa dipelajari. Akan tetapi, kredibilitas untuk tidak ‘mengambil’ guna memperkaya diri, merupakan sesuatu yang harus diapresiasi. Kebodohan bisa diatasi dengan belajar, tapi kejujuran adalah logam mulia kemewahan seorang manusia.

Pada kesempatan ini pun bisa memberikan ucapan selamat secara langsung kepada Pak Taufik Madjid, Sekjend Kementerian Desa yang baru. Pertama kali berkenalan dan berdiskusi bersama beliau saat FGD pengakhiran PNPM MP di Kantor Staf Presiden (KSP), pada awal 2016. Saat itu beliau masih menjadi salah satu Direktur di Dirjen PPMD. Beliau masih ingat dan tidak lupa momen di KSP itu. Ketika naik jabatan menjadi Dirjen PPMD pun sempat memberi ucapan selamat saat acara di Panggungharjo.

Sejak pandemi Covid19, baru kali ini berani ke Jakarta. Protokol kesehatan berkendara kereta api mesti dipenuhi. Surat keterangan sehat dari Puskesmas ternyata cukup, tidak harus rapid test. Biayanya pun jauh lebih murah daripada rapid test. Yang menyenangkan dari perjalanan kali ini adalah tempat duduk yang berjarak. Meski pada perjalanan pulang terpaksa naik kereta ekonomi, tetap nyaman. Bisa tidur dan selonjoran.

Tamu VVIP. LOL
Para donatur beasiswa. Semoga.

Mencari Habitat Dimana Kita Dibutuhkan dan Dihargai

0
Kerjasama saling menghargai

Seorang pria duduk disebelahku terpekur dengan HP-nya. Meski begitu terlihat dia muram. Kalau dia muram, aku gelisah. Aku gelisah karena menunggu teman yang tak kunjung datang. Janji ketemuan jam 11 siang, sudah hampir dhuhur belum datang juga. Andai bukan karena aku yang butuh, sudah aku batalkan pertemuan ini. Kopi yang aku pesan juga sudah hampir habis.

Sesaat kemudian teman si pria datang. Mereka terlibat perbincangan yang cukup serius. Sebenarnya tak hendak mencuri dengar, tapi topik bahasan mengulik rasa ingin tahuku. Meski dibicarakan dengan santai, obrolan mereka menarik didengar. Sekilas aku pandang wajah mereka, sepertinya tak jauh berbeda dengan usiaku. Sebut saja namanya Indra dan temannya, Andi.

Aku dengar keluhan dari Indra. Dia baru beberapa hari ini di PHK. Menurutnya tak ada alasan kuat dia dipecat. Tapi apa daya, argumennya tidak diterima oleh si bos. Menurutnya isu apa yang sudah didengar oleh si bos sehingga dia dipecat, tak dia ketahui dengan pasti. Indra kecewa. Pasalnya dia mengaku sudah berjuang sejak si bos baru merangkak. Hingga asetnya sekarang lebih dari 2 kali lipat. Indra merasa habis manis sepah dibuang.

Loyalitas yang tak berbalas

Kemudian Andi berkata bahwa Indra lah yang salah. Kata Andi, Indra memang pintar, tapi tidak cerdas. Tak terima dengan ucapan Andi, si Indra berargumen. Indra mengaku sudah mendedikasikan seluruh kemampuannya untuk perusahaan si bos. Loyalitasnya hampir tanpa batas. Tawaran bekerja di tempat lain, saat membangun bisnis bersama si bos, dia tolak.

Indra mengaku rela dibayar murah, dengan impian bisa bersama-sama menikmati hasil kelak bersama si bos. Apa salahku, tanya Indra. Indra juga merasa heran dengan para anak buahnya. Kenapa mereka tidak melakukan pembelaan saat dirinya di PHK. Padahal menurutnya dulu Indra sering membela mereka dihadapan si bos. Indra juga kerap memperjuangkan kesejahteraan para anak buahnya.

Andi tersenyum dan menjawab dedikasi dan loyalitas terhadap sesuatu yang bukan milik kita adalah kesalahan terbesar. Kalau Indra cerdas, dia tidak akan demikian. Soal pembelaan dan memperjuangkan hak bawahan, itu sudah kewajiban sebagai pimpinan. Biasa saja. Tidak usah didramatisir, demikian timpal Andi.

Sesaat aku berpikir. Kenapa si Andi bilang begitu. Bukankan sudah seharusnya seorang bawahan bersikap loyal dan berdedikasi terhadap pekerjaannya. Justru dengan dia loyal dan berdedikasi, karir seseorang bisa melesat dan di apresiasi perusahaan.

Cerita seorang mekanik kapal

Kemudian Andi bercerita tentang kisah mekanik kapal. Dimana seorang mekanik kapal mampu memperbaiki kapal hanya dengan ketukan di beberapa titik. Padahal sebelumnya baik nakhoda, mekanik internal, dan pemilik bingung. Kapalnya tidak bisa dihidupkan mesinnya. Tapi si pemilik tidak terima dengan tagihan si mekanik handal tadi. Masa hanya kerja sebentar dan cuma beberapa ketuk, tagihannya besar.

Cerita ini sudah baca beberapa kali. Inti dari cerita tersebut adalah seringnya kita tidak bisa menghargai profesionalisme kerja seseorang. Keahlian si mekanik dengan memperbaiki kapal hanya beberapa ketukan berdasarkan ilmu, pengalaman, dan jam terbang tinggi. Pekerjaannya menjadi efektif dan efisien.

Jika ada orang yang memamerkan beratnya pekerjaannya karena harus dikerjakan berhari-hari atau bahkan lembur sampai larut malam, justru timbul tanda tanya. Karena pekerjaan serupa bisa dikerjakan dengan waktu yang lebih singkat dan tepat oleh orang lain. Secara tidak sadar, mereka yang memamerkan beratnya pekerjaannya, sedang menunjukkan keamatirannya.

Berpindah habitat

Andi bilang bahwa Indra diibaratkan seperti si mekanik kapal. Sedangkan si bos seperti pemilik kapal. Tidak bisa menghargai profesionalisme si mekanik handal tersebut. Padahal jika kembali berfungsinya mesin kapal dikerjakan oleh orang amatiran, bisa lama atau bahkan tambah rusak.

“Tapi kamu salah tempat, Ndra. Habitat yang kamu diami selama ini tidak baik. Mereka memang membutuhkan keahlianmu, tapi mereka tidak bisa menghargai kamu”.

Secara lugas Andi mengatakan bahwa selain karena Indra salah terlalu berdedikasi dan loyal, tempat bekerjanya pun bisa dikatakan tidak tahu terima kasih. Berdedikasi dan loyal itu bagus tapi harus pada tempatnya. Yaitu mereka yang bisa menghargai kinerja kita, bukan cuma karena butuh. Kalau soal butuh tidak butuh sih banyak, Ndra. Tapi yang bisa menghargai kita, itu sedikit.

“Terus menurut kamu, aku harus bagaimana?” tanya Indra.

“Kalau kamu memang merasa profesional. Jangan mengeluh. Jangan pula menyalahkan mereka. Carilah habitat dimana kinerja mu dibutuhkan dan dihargai”, ujar Andi.

Hmm… gitu ya.

 

Dibalik Orang Sukses, Ada Sederet Mantan yang Menyesal

2
Gambar pemanis

Aku pernah punya usaha jasa pengetikan. Oleh karenanya sering berhubungan dengan berbagai macam karakter manusia. Unik dan asik. Sembari mengetik, sering diajak ngobrol banyak hal. Dari situlah aku belajar sabar, memposisikan diri, dan berempati.

Ada satu pelanggan yang unik. Beliau seorang guru. Setelah beberapa kali kunjungan, akhirnya beliau memilih datang malam hari, sekitar jam 9 malam. Mau ditolak tidak enak. Pasalnya itu rejeki. Beliau mau membayar lebih mahal dari pelanggan lain. Sering pula membawa jajanan.

Dari kebiasaannya itu, aku jadi tahu. Sebenarnya beliau bukan hanya butuh jasa pengetikan. Tapi butuh teman curhat. Lebih tepatnya teman yang mau mendengarkan cerita-ceritanya. Beliau tidak butuh masukan. Hanya butuh orang yang mau mendengarkan saja. Hampir semua yang beliau alami diceritakannya. Termasuk hal-hal yang sepele.

Suatu saat beliau cerita tentang masa mudanya. Gejolak masa remaja membuatnya jatuh cinta pada seorang gadis. Cantik. Begitu katanya. Perjuangan untuk apel tiap malam minggu sudah dilakukannya. Meski jarak dari rumahnya cukup jauh. Kalau sekarang sekitar 20 menit pakai motor. Tapi kejadian itu sekitar 40 tahun yang lalu. Jadi, jalanan masih sepi dan tidak banyak kendaraan.

Suatu ketika beliau ditemui oleh orang tua gadis pujaannya. Mereka mengatakan bahwa anak gadisnya sedang disuruh fokus kuliah. Jadi tidak boleh berpacaran dulu. Beliau menangkap apa yang dimaksud. Sejak saat itu beliau tidak lagi datang apel malam minggu.

Namun, apa lacur. Berselang sekitar 6 bulan kemudian, beliau mendapat undangan pernikahan. Gadis pujaannya dipinang oleh orang lain. Calon mempelai pria adalah seorang karyawan bank. Tragisnya, yang demikian sudah terjadi berulang kali. Penolakan demi penolakan.

Beliau sadar diri. Apalah arti seorang guru honorer. Masa depan tidak jelas. Masa bakti entah kapan akan berakhir baik.

Saat itu, aku tidak memperhatikan apakah ada air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Selain merasa tidak sopan, fokus pada ketikan, dan posisinya yang sedang rebahan membuatku tidak tahu apa yang dirasakan. Sakit? Pasti.

Kala itu beliau meminta aku membantunya mengurus sertifikasi guru. Ini awal-awal program sertifikasi bagi para pendidik. Saat itu beliau sudah berstatus PNS. Alhamdulillah beliau berhasil lolos.

Namun kisah cintanya berakhir bahagia. Beliau menemukan istri sholihah. Cantik. Dosen, PNS pula. Tak jarang beliau memposting kebahagiaan bersama keluarga dan memuji-muji istrinya.

Ada janji beliau padaku yang sempat diucapkan dan belum ditunaikan, “nanti kalau saya sudah dapat sertifikasi, Mas Kikis akan saya traktir sate”. Suatu saat akan saya tagih. Bukan karena aku tidak ikhlas atau tidak mampu beli sate.

Aku hanya akan berujar: “Pak, Sis. Dibalik orang sukses, ada sederet mantan yang menyesal”.

Semoga beliau tidak membaca postingan ini. Kalau telanjur membaca, mohon janjinya ditunaikan, Pak… eh.

Menjadi Koresponden Tugas Akhir

0
Salinan thesis dan souvenir

Kaos berwarna putih, dua dompet kecil, dua gantungan kunci, dan dua salinan thesis aku terima beberapa waktu lalu. Kiriman dari Qonita Rohmah, yang belum lama ini di wisuda di Tokyo University, hanya berselang sehari sejak dia minta alamat. Meski aku hanya minta dua salinan thesis, nyatanya souvenir dia sertakan. Alhamdulillah buat kenang-kenangan.

Qonita adalah ASN (aparatur sipil negara) di Kementrian Keuangan RI yang tahun kemarin sedang menyelesaikan thesisnya. Komunikasi dan informasi yang aku berikan sedikit banyak membantu dalam hal penyelesaian tugas akhirnya tersebut. Meski sebenarnya aku merasa tidak maksimal dalam membantunya mencarikan informasi. Pasalnya data yang dia butuhkan lebih banyak disimpan di Dinas.

Koresponden

Ini kali ketiga ketika aku dimintai menjadi koresponden bagi para mahasiswa tingkat akhir. Pertama ketika seorang mahasiswa program doktoral Ilmu Bahasa di Universitas Indonesia membutuhkan koresponden dalam menyelesaikan disertasinya. Kala itu tema yang diusung adalah tentang seberapa besar tingkat literasi remaja. Meski sudah punya satu anak, aku dianggap masih remaja. Mungkin dia tertipu dengan foto profil di akun sosial media. Kala itu hadiah yang diberikan berupa buku. Tentunya bertemakan remaja. Terima kasih, Mba Intan.

Komunikasi lanjut tentang thesis bagi mahasiswa PhD di Sopron University, Rosita. Mahasiswa asal Indonesia ini mengambil tema koperasi bagi petani di Hungaria. Salah satu informasi yang dia butuhkan adalah sejarah akan rural financial institution (RFI) yang sekarang dikenal dengan nama Badan Kredit Desa (BKD). Kebetulan sejarah itu bermula di Purwokerto pada 1896. Dia senang mendengar cerita tentang BKD di Banyumas sekarang. Namun sekarang, mungkin karena kesibukannya, komunikasi sudah terhenti.

Qonita mengaku mendapatkan nomor kontak dari Mas Budiman Sudjatmiko. Dia disarankan oleh teman sejawat di OJK untuk menghubungi Mas Budiman. Lalu Mas Budiman menyarankan untuk menghubungi aku.

Thesis tentang public policy dengan adanya BUMDesa menjadi tema yang dia angkat. Kebetulan atas saran dari beberapa pihak, dia memilih Banyumas, sebagai salah satu yang disasar. Komunikasi menjadi lebih cair karena dia pernah sekolah di SMAN 1 Purwokerto, dan asli dari Bumiayu.

Efek Baik

Ternyata menjadi koresponden menjadi hal yang menyenangkan. Meski secara materi tidak mendapat apa-apa, akan tetapi keinginan untuk belajar menjadi lebih besar. Saat Mba Intan Savitri meminta informasi, mau tidak mau aku harus banyak membaca. Akhirnya membeli buku menjadi hobi. Dalam satu bulan, sebelum pandemi covid19, wajib rasanya beli minimal 1 (buku) judul buku.

Saat Bu Rosita bercerita tentang perlunya lembaga keuangan berbasis desa dan sentuhan fintech di Hungaria, aku tergerak. Banyak jurnal dengan tema rural financial institution segera aku unduh. Bangga rasanya, ternyata banyak penelitian tentang keberadaan RFI yang berkiblat ke Indonesia. Ini menjadi hal yang miris saat pemerintah Indonesia kurang respek terhadap keberadaan RFI. Meski secara empiris mampu membantu pelaku usaha kecil dalam bertahan hidup. BKD harus bertransformasi, UPK eks PNPM MP masih di PHP, pengajuan ijin LKM terkendala regulasi, koperasi simpan pinjam pun terstigma negatif.

Penelitian Qonita tentang BUMDesa dilihat dari perspektif pemerintah, maka perlu dievaluasi capaiannya terhadap indikator kemiskinan. Apakah sudah ada perubahan tentang kemiskinan bagi masyarakat. Jika belum kenapa dan bagaimana pemerintah harus berperan dalam menjadikan BUMDesa sebagai salah satu tools dalam reduksi angka kemiskinan.

 

Top