Beranda blog

Petualangan Baru Dimulai

0
Konsolidasi bersama Tim E-marketing Lab Terpadu FEB Unsoed

Membersamai Tim Rumah Digital Desa Purbalingga melakukan konsolidasi dengan Tim E-marketing Lab Terpadu FEB Unsoed Purwokerto (Sabtu, 11 Januari 2020). Keterlibatan akademisi guna mengakselerasi capacity building desa dibutuhkan.

Sebagai inkubator bisnis online, Lab Terpadu FEB Unsoed, menjadi salah satu aset yang harus dioptimalkan. Menyederhanakan bahasa ilmiah dan teknis sebagai penghalang transfer ilmu bagi orang desa menjadi PR.

Saya berbangga diri bisa terlibat didalamnya. Apalagi penanggung jawab program di Lab Terpadu FEB Unsoed tersebut adalah dosen saya di Magister Manajemen.

Semoga beliau hafal NIM saya. Eh.

Konsolidasi bersama Tim E-marketing Lab Terpadu FEB Unsoed
Santuy
Pembagian tugas Tim

Komitmen dan Disiplin Usaha ala Pizza Dezzo

0
Recommended

Benarkah jika kita berwirausaha bisa bekerja semaunya. Bebas tidak ada yang mengatur. Terserah kita? Nyatanya enggak gitu juga. Kita mesti tetap disiplin.

Sikap disiplin terbukti membantu orang meraih kesuksesan. Terlebih jika usaha yang kita lakukan berhubungan langsung dengan konsumen end user. Mereka pun menuntut kita disiplin sesuai pesanan. Jika tidak, maka kaburlah mereka ke kompetitor.

Ini yang aku bisa simpulkan.

Recommended

Komitmen

Saat menunggu pesanan di Pizza Dezzo Berkoh Purwokerto, pemilik outlet sedang privat training. Seksama aku mendengarkan diskusi kedua pihak, pemilik outlet dan franchisor. Penekanan untuk komitmen dengan apa yang kita promosikan. Disiplin waktu penjualan.

Boleh lah kita berlibur. Tapi mesti diatur sesuai informasi yang sudah di share ke publik. Buka mulai jam berapa hingga jam berapa, kapan libur, berapa hari seminggu, mesti disiplin.

Saat sudah menginformasikan jam layanan, maka harus buka dengan sudah persiapan sebelumnya. Kredibilitas di mata konsumen dipertaruhkan. Masih beruntung jika konsumen mau komplain. Bisa jadi bahan evaluasi. Tapi jika tiba-tiba konsumen pergi karena sering terlambat buka atau libur semaunya, repot lah kita.

Daftar menu

Dipraktekkan

Komitmen mendahulukan pelanggan terbukti. Saat asyik diskusi, mereka berhenti. Pasalnya ada Mas Grab datang mengambil pesanan. Layanan diprioritaskan meski diskusi pemantapan strategi bisnis lagi seru.

Saat Mas Grab pergi, diskusi dilanjutkan sembari melakukan training pada karyawan pemasak pizza. Pendampingan usaha dari sisi manajemen, praktik memasak, dan strandar pelayanan memang harus dilakukan pihak franchisor. Demi keberlanjutan usaha keduanya.

Kamu pengin order? Pilih grab food, lalu search Pizza Dezzo. Nanti diarahkan ke resto Pizza Dezzo. Tapi layanan dimulai jam 13.00 WIB ya, Temans. Atau kontak di nomor 085641774480.

Semangat ya. Semoga sukses. Aamiin.

Lokasi Pizza Dezzo Purwokerto

Menjadi Konsumen Ala Channel Hobby Makan

0

Menemukan dan terus mengikuti vlog dari channel Hobby Makan menjadi aktifitas yang menghibur. Tak sengaja menemukan vlog pada Ramadhan kemarin, akhirnya keterusan sampai sekarang. Vlog yang dibuat oleh pasangan suami istri Richard Erfany dan Pratiwi Utami dari Pontianak sangat inspiratif. Akhirnya banyak vlog serupa bermunculan. Tak mengapa jika kebaikan dijiplak oleh yang lain.

Bang Evan dan Mami Tiwi hampir tiap hari mencari para pedagang kecil yang berjualan keliling atau bertempat di pinggir jalan. Selain melakukan review atas jajanan tersebut, pasangan yang memiliki dua orang putera ini pun mempromosikan via vlog. Tak jarang mereka memborong semua dagangan mereka. Seringkali makanan yang diborongnya tidak dibawa serta. Mereka hanya mengambil beberapa, sisanya diberikan kepercayaan pada si pedagang untuk membagikan kepada siapa saja.

Dari beberapa vlog yang ada, sedikit bisa dikategorikan pembeliannya. Jika pedagang masih muda usia, maka makanan yang ada akan dibelikan seharga 300 ribuan. Tatkala sudah paruh baya, maka nilainya sekitar 500 ribuan. Andai pedagangnya sudah renta, maka 1 jutaan akan mereka belanjakan. Tentunya pengkategorian ini subyektif sifatnya. Bagi pembaca yang ingin lebih tahu, silakan klik channel Hobby Makan di youtube.

Inspiratif

Ketika kebanyakan orang ingin terlihat kaya dan bahagia dengan dunia gemerlap, maka tidak dengan keduanya. Namun bukan berarti mereka tidak menikmati itu. Tak jarang mereka pun jalan-jalan ke luar negeri. Hanya saja, kepedulian kepada sesama menjadi nilai plus. Dari vlog yang aku temui, secara nominal mungkin sedikit dibawah Baim Wong.

Entah apa profesi Bang Evan atau Mami Tiwi, yang pasti mobil Voxy yang mereka kendarai, menunjukkan mereka orang berada. Yang membedakan adalah kemampuan untuk mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan dengan berbagi. Itu lah sisi positifnya. Pesan-pesan moral yang selalu diselipkan di akhir video yang mereka unggah, menjadi pengingat.

Apa yang keduanya lakukan memberikan inspirasi bagi vlogger lain. Muncul berbagai vlog yang mirip. Mereka menyebarkan kebaikan dengan memborong semua dagangan dari penjaja pinggir jalan. Mempromosikan penjajanya bagi para subscriber-nya. Inspirasi kebaikan memang harus disebarkan melalui media apapun. Lupakan komentar dan anggapan miring terhadap upaya kebaikan itu. Andai ada sifat riya dari pelakunya, biarkan. Itu urusan Tuhan.

Menjadi konsumen

Jika dibandingkan dengan pelaku pemberdayaan, atau para pengaku pecinta negeri ini, hal yang dilakukan Bang Evan dan Mami Tiwi adalah wujud nyatanya. Mereka tak berteori soal itu. Aksi nyata menjadi pembeli (konsumen) bagi pelaku usaha kecil menjadi hal mahal. Pasalnya tak sedikit pelaku pemberdayaan dan atau mereka yang mengaku nasionalis, justru enggan menjadi konsumen bagi usaha kecil. Lebih merasa bangga dan gengsi tatkala terlihat kaya dengan mengalirkan uang ke pengusaha besar (konsumerisme).

Pelaku pemberdayaan yang berkutat dengan upaya peningkatan kapasitas masyarakat, tak sedikit yang enggan menjadi konsumennya. Padahal tatkala usaha kecil selaku produsen, mereka membutuhkan konsumen demi keberlanjutan usahanya. Pendampingan dan pemberian modal lunak saja tak berarti jika tak ada yang mau membeli barang atau jasa yang mereka hasilkan. Alhasil keberlanjutan usaha mandek. Jika pelaku pemberdayaan saja enggan, apatah lagi mereka yang nggak ngeh tentang pemberdayaan.

Mencintai negeri ini butuh bukti nyata. Menjadi konsumen yang dihasilkan oleh masyarakat, demi menjaga keberlangsungan hidup mereka, menjadi keharusan. Andai mereka tetap miskin atau menjadi miskin, akan menjadi beban bagi negara. Harga diri negara pun tergantung dari kemampuannya mensejahterakan warganya. Apakah ini tugas negara semata? Tentu tidak.

Menjadi konsumen bagi usaha kecil merupakan sumbangsih nyata bagi bangsa ini.

Yuk!

 

Sumber:

Koperasi Berseri

0
Foto bersama

Mewujudkan mimpi dan harapan menjadi kenyataan seperti mengubah energi potensial menjadi kinetis. Membutuhkan effort yang besar dan konsisten. Apalagi saat mimpi-mimpi yang dibangun bermula dari sebuah trauma yang masih membekas.

Keinginan mendirikan koperasi para ketua kelompok dana bergulir awalnya terhantui akan gagalnya sebuah koperasi di kecamatan Kebasen. Setelah beberapa tahun berjalan, akhirnya terbentuklah koperasi yang diimpikan. Pembentukan pengurus, jenis koperasi, pemilihan nama, dan ketentuan lain tentang perkoperasian yang mengarah ke badan hukum, terlaksana jua.

Terasa spesial karena pembentukan koperasi disaksikan oleh Umi Sangadah, S.Sos., MM., dari Disnakerkop dan UKM kab. Banyumas. Sesi ini merupakan rangkaian dari pelatihan tentang perkoperasian yang diselenggarakan oleh BKAD Kec. Kebasen pada Kamis, 14 Maret 2019 di Aula Balai Desa Kalisalak Kec. Kebasen.

Berdasar musyawarah mufakat, koperasi ini diberi nama ‘Berkah Sumber Rejeki’ atau disingkat ‘Berseri’. Yang nantinya akan digawangi oleh Robingah (Ketua), Tri Budi Setianti (Sekretaris), Nur Ismaryanti (Bendahara), dan Rosi Kurnia (Pengawas).

Selamat!

Sambutan Ketua Forum Kepala Desa se-Kec. Kebasen
Paparan materi oleh narasumber dari Disnakerkop dan UKM Kab. Banyumas
Peserta antusias mengikuti pelatihan perkoperasian
Sambutan ketua koperasi terpilih
Foto bersama

Bisnis Sosial BUMDesa

0
Branding BPR BKD

Salah satu perbedaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) dengan badan usaha yang lain, terletak pada kemauan dan kemampuannya dalam menjalankan bisnis sosial. Esensi bisnis sosial adalah menyelesaikan masalah-masalah sosial yang ditangani dengan manajemen bisnis. BUMDesa dalam tataran bisnis sosial tidak menekankan pada sisi profit, akan tetapi benefit. Ukurannya adalah berapa masalah sosial di desa yang mampu ditangani secara bisnis.

Setiap layanan dasar sosial di desa yang mampu dikelola secara profesional dengan menekankan nilai manfaat daripada surplus, itu lah bisnis sosial. Yang seyogyanya dilakukan oleh BUMDesa. Ini artinya kehadiran BUMDesa dalam menyelesaikan masalah sosial dengan tetap memperhatikan kemampuan operasional menjadi tujuan yang diharapkan.

Pertanyaannya bolehkah BUMDesa mengambil pembayaran dari pemanfaatnya? Boleh.

Akan tetapi besaran tarif yang dikenakan dihitung sekedar cukup untuk membiayai operasional BUMDesa, termasuk gaji karyawan, dan sedikit cadangan resiko. Rencana bisnis yang disusun oleh pengurus BUMDesa tetap menekankan efektifitas dan efisiensi. Sedangkan surplus tidak menjadi skala prioritas, sehingga penilaian kelayakan usaha tidak didasarkan atas hitung-hitungan dalam laporan keuangan semata. Bahkan, lebih dominan pada seberapa manfaat yang diterima oleh masyarakat desa yang terkena masalah sosial tersebut.

Solutif dan Kolektif

Usaha yang dijalankan BUMDesa dalam bisnis sosial harus bersifat solutif. Ketika ada masalah yang dialami oleh masyarakat, yang belum cukup dilakukan dengan program kerja desa, bisa dilakukan atau dilanjutkan oleh BUMDesa. Jauhi pikiran tentang berapa surplus atau Pendapatan Asli Desa (PADes) yang didapatkan dengan jenis bisnis ini. Karena disamping sebagai penghasil PADes, BUMDesa memiliki peran sebagai kepanjangtanganan Kepala Desa dalam mensejahterakan masyarakat. Titik fokusnya pada kesejahteraan masyarakat, dengan cara menambah pendapatan, mengurangi pengeluaran, atau meminimalisir dampak buruk dari permasalahan sosial yang perlu ditangani.

Ketika penyediaan air bersih menjadi jenis usaha BUMDesa, maka tarif yang dikenakan tidak terlalu tinggi. Cukuplah untuk menggaji karyawan secara layak, biaya perawatan jaringan, cadangan perbaikan jaringan. Untuk pemasangan jaringan baru, bisa dianggarkan melalui APBDes pada pos belanja. Pemanfaatan air untuk usaha lain seperti air minum kemasan atau kolam ikan, harus memperhatikan betul kecukupan ketersediaan air bagi masyarakat yang lebih urgen. Jangan karena tergiur keuntungan yang lebih besar, maka layanan dasar masalah air diabaikan. Maka yang harus disadari pada jenis usaha ini, bagi pengurus, utamanya tentang kemanfaatan usaha ini bagi masyarakat.

Permasalahan sampah pun demikian. Seyogyanya, iuran yang ditarik dari warga untuk pengelolaannya, sekedar cukup untuk mengurangi dampak dari sampah. Pemerintah Desa bisa menganggarkan biaya guna tempat pengolahan sampah baik yang kering atau basah. Selain itu, upaya re-use, reduce, dan recylce penting untuk terus dikampanyekan. Masyarakat didorong, melalui keteladanan tentunya, untuk memanfaatkan sampah sebelum benar-benar tak digunakan lagi.

Aneka pelatihan pengolahan sampah menjadi barang bernilai lebih tinggi, sebaiknya kontinu. Dirikan tempat-tempat workshop guna daur ulang. Kampanye menggunakan kembali barang yang masih layak pakai, membawa tas sendiri saat berbelanja, dan mengurangi penggunaan plastik menjadi contoh kegiatan-kegiatan dalam meringankan dampak sampah. Tanamkan pula pemahaman bahwa membayar iuran bulanan guna pengelolaan sampah, bukan berarti tuntas masalah sampah.

Penanganan masalah sosial baik yang dilakukan secara konvensional maupun bisnis sosial, tak bisa bersifat parsial. Pelaksanaannya melibatkan banyak pihak. Meski BUMDesa bisa dijadikan motor penggerak, lembaga lain, dan masyarakat dengan kepemimpinan Kepala Desa lah yang bisa menyelesaikannya. Karenanya kerja-kerja kolaboratif secara massif mesti dilakukan secara berkesinambungan.

Memperbesar skala

Saat kita masih berpikir bahwa bisnis sosial yang dilakukan dalam kadar biasa-biasa saja, yakinlah keberhasilannya akan jauh panggang dari api. Bisnis sosial pun membutuhkan skala usaha yang lebih. Besaran skala semestinya lebih daripada sasaran masalah sosial itu sendiri. Karena hampir mustahil ada usaha yang berhasil 100% dari yang direncanakan. Selain terasa manfaatnya, skala usaha dalam bisnis sosial BUMDesa, akan terhindar dari jebakan‘mematikan’ usaha warga.

Tak sedikit BUMDesa yang latah menjalankan usahanya. Ketika usaha BUMDes Mart, pengelolaan sampah, wisata desa, pengelolaan air bersih, dan lain sebagainya berhasil, mereka ikut-ikutan. Tanpa memahami substansi dari bentuk kegiatan tersebut, pengurus BUMDesa pun menjalankan usaha yang sama. Maka tak jarang kehadiran BUMDes Mart justru tak jauh beda dengan toko modern lainnya, ikut andil mematikan usaha warga desa. Pengelolaan wisata desa dengan memanfaatkan alam, mungkin masih lebih baik. Akan tetapi titik jenuh pengunjung karena spot-spot yang tersedia dalam wahana tersebut, perlu diantisipasi. Karena saat titik jenuh itu muncul, penurunan pengunjung pun akan dialami.

Bisnis sosial yang dilakukan oleh BUMDesa harus mampu bekerja dalam berskala besar. Kebutuhan akan tempat tinggal yang selama ini disediakan oleh pengembang yang profit oriented, tak ada salahnya BUMDesa mengambil peran itu. Saluran distribusi produk-produk pertanian, peternakan, dan perikanan yang menjadi sasaran yang juga mesti di bidik, sehingga ketersediaan produk yang kadang dipermainkan pedagang besar, akan terpengaruhi keputusaannya saat BUMDesa bisa hadir dengan misi sosialnya.

Besaran skala bisa dilakukan dengan melakukan kerjasama antar desa dalam pelayanan usaha melalui BUMDesa Bersama. Keberadaan BPR BKD Banyumas sebagai lembaga intermedia dan konsolidasi modal yang dimiliki desa merupakan contoh bisnis sosial. Lembaga keuangan yang lahir satu tahun setelah BRI dan berbasis di desa ini, menjawab kesulitan akses permodalan masyarakat desa pada lembaga perbankan umum. Pengelolaan bersama antar desa mempermudah dalam perencanaan, pengawasan, dan evaluasinya karena sistem manajemen dibuat bercirikan desa.

Salam.

 

Ujicoba Overpass Kebasen

4
Peninjauan oleh Babinsa (@SakiminDiro)

Setelah menunggu lama, akhirnya ujicoba overpass Kebasen diberlakukan. Pembukaan jalan dari Purwokerto ke Cilacap melalui jalur Kebasen sudah dimulai per hari ini (Kamis, 10 Januari 2019). Selain untuk menguji kelayakan jalan, penyempurnaan di sana sini masih terlihat. Drainase, pengaman jalan, lampu, marka jalan, dan tentu masih banyak pekerjaan lain yang mesti diselesaikan.

Seperti yang kita ketahui, sejak tanggal 28 Mei 2018 jalur kendaraan dari Purwokerto ke Cilacap atau sebaliknya ditutup. Pembuatan overpass guna mempermudah pemberlakuan rel ganda kereta api membuat kebijakan ini diambil. Sejak hari itu, pengendara roda empat dialihkan melalui Rawalo. Sedang pengendara roda dua dibuatkan jalur alternatif tak jauh dari situ. Meski sering ditambal sana sini, jalur alternatif tetap tak nyaman dilewati. Namun begitu lah kenyataannya. Mesti sabar untuk menikmati fasilitas jalan yang lebih baik lagi.

Sebelum dibuka, jalur ini sudah ramai dikunjungi masyarakat. Pihak penanggungjawab proyek mengijinkan masyarakat untuk sekedar melihat hasil pekerjaan. Apalagi pemandangan ke arah sungai Serayu dan terowongan baru, instagramable. Bagi yang penasaran, silakan mencoba. Yang penting tetap berhati-hati, karena pengaman belum semua terpasang, lalu lalang kendaraan pun perlu diwaspadai.

Kondisi sementara. Dokumentasi: Radar Banyumas

Ikon

Overpass ini akan menjadi ikon baru di kecamatan Kebasen. Pasalnya untuk kabupaten Banyumas, baru disinilah adanya overpass. Orang akan mudah mengenal wilayah Kebasen, tatkala ingat overpass yang dilalui. Apalagi jika menyempatkan diri berfoto ria di sini. Rencana pembuatan overpass selanjutnya memang di perlintasan kereta api di Kaliwangi Rawalo.

Beberapa hari lalu, ketika masyarakat sudah diijinkan melihat-lihat, di media sosial sudah berseliweran foto-foto. Rasa penasaran menyeruak. Tak sedikit yang ingin melihat dan berfoto disana. Terlihat tadi tak sedikit pejalan kaki, sepeda motor, dan sepeda berhenti dan mengambil foto. Tampak sumringah.

Overpass yang panjangnya kurang lebih 500 meter ini menjadi sesuatu yang baru. Terasa melewati jalanan di ibukota. Hanya lebar jalan dan tonase yang tidak sama. Batasan maksimal kendaraan yang diijinkan melewati jalur ini hanya 8 ton. Oleh karenanya, Dinas Perhubungan akan memasang rambu-rambu tentang ini. Dikhawatirkan jika dibiarkan akan memperpendek umur overpass. Kerusakan jalan atau bahkan dinding penyangga bisa menimbulkan korban jiwa, jika kendaraan dengan tonase besar tetap melintas.

Salah seorang warga Desa Kebasen (@Hastuti)

Overpass Kaliwangi

Setelah proyek ini, menurut informasi rencananya juga akan dilakukan pembuatan overpass serupa di Kaliwangi Rawalo. Jika tiba masanya, jalan Purwokerto-Cilacap dan Purwoketo-Bandung akan ditutup pula. Pengalihan kendaraan akan dilakukan pula tentunya. Mungkin kendaraan kecil, akan dilewatkan jalur ini. Sedangkan kendaraan besar akan dialihkan melalui Ajibarang tembus Wangon.

Jika benar, tentunya volume kendaraan akan meningkat. Kewaspadaan mesti ditingkatkan. Apalagi sampai saat ini, lebar jalan sejak dari Desa Mandirancan sampai Gambarsari, terutama di Desa Tumiyang masih sempit dan berliku. Perawatan jalan di jalur ini masih hanya menambal saja. Perbaikan jembatan di Tumiyang yakni di Brug Menceng dan Kali Loning hanya menambah lebar sekitar 1 meter saja. Drainase di beberapa titik pun menggambarkan adanya pelebaran jalan yang signifikan. Sejak dulu jalur ini memang jalur alternatif.

Yang pasti ketika penambahan volume kendaraan nantinya, mesti diingatkan pada para pengguna untuk bersabar. Jalur ini tak begitu lebar, masih banyak anak-anak dan orang tua yang menyeberang jalan, beda dengan jalur utama di Rawalo. Pun demikian bagi warga, harus berhati-hati. Perhatikan kondisi jalan, jika memang aman baru lah menyeberang atau sekedar nongkrong di pinggirnya.

Dokumentasi pengerjaan. Oleh: @muktiutami
Dokumentasi Pengerjaan. Oleh: PT. KAI
Pengendara jalur alternatif. Foto oleh: @hexatography

Geliat mobilitas

Tentunya pembukaan jalan ini disambut antusias oleh warga pengguna jalan. Mereka yang hampir setiap hari melewati jalur ini, tentu sangat berterima kasih. Pasalnya selain akan mempercepat waktu, aspal jalan yang halus tidak mempercepat kendornya baut-baut pada kendaraan. Jalur alternatif yang dibuat, dengan lobang dimana-mana membuat totok-totok cepat rusak. Baut kendor, ban cepat aus, dan lebih lama perjalanan. Apalagi saat musim hujan, becek.

Para sopir koperades, bis mikro, dan kendaraan roda empat lain juga senang. Mobilitas warga akan kembali meningkat. Pulang pergi ke rumah saudara, kota, pasar, tempat hiburan, lebih mudah. Aktifitas ekonomi pun akan berimbas pula. Gaung tempat wisata seperti Watumeja di Desa Tumiyang, yang sempat terlupakan, akan terekspos lagi. Sedangkan rencana Pemdes Gambarsari untuk menjadikan jalur alternatif sebagai jalur wisata susur sungai Serayu, semoga bisa segera terealisasi.

Tentunya kami berharap pihak pemerintah tidak segera menerima pekerjaan sebelum pemegang proyek benar-benar menyelesaikan pekerjaannya. Pasalnya permasalahan drainase di Desa Mandirancan akibat pembuatan drainase baru yang satu paket dengan proyek Duplikat Jembatan Merah, sampai saat ini belum teratasi. Genangan air menjadi sarang nyamuk dan menimbulkan bau tak sedap. Air tak bisa mengalir karena lantai dasar di dekat jembatan lebih tinggi daripada saluran air yang lama. Teliti benar dalam evaluasi. Jangan sampai kecolongan lagi.

Melalui tulisan ini dan sebagai pengguna jalan yang hampir setiap hari melaluinya, kami sampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah. Selama proses pembuatan overpass kami terus berharap agar cepat selesai. Alhamdulillah terkabul.

Salam.

Peninjauan oleh Babinsa (@SakiminDiro)
Peninjauan oleh Babinsa (@SakiminDiro)
Top