Beranda blog

Idul Fitri yang Adem

2
Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1439 H di Mandirancan

Pada saat shalat Ied dilaksanakan kemarin (Jum’at, 15/06/2018), cuaca tidak panas. Cahaya matahari nampaknya malu-malu menyinari bumi. Sepertinya Idul Fitri tahun 1439 H ini memang benar-benar adem. Tidak terjadinya perbedaan awal dan akhir puasa, sehingga shalat Ied pun bisa dilaksanakan bersama-sama.

Sepanjang ramadhan, materi khutbah tidak lagi membahas keutamaan dari perbedaan diantara pendapat tentang shalat tarawih. Para dai karbitan dari ormas-ormas yang gemar mengunggulkan pendapatnya, tak memiliki alasan untuk itu. Kadang heran, mengapa orang-orang begitu menyukai perbedaan yang berujung perselisihan. Panggung pengajian yang semestinya menyatukan ummat, malah entah sadar atau tidak, sering menjadi sarana agitasi.

Pada pertengahan ramadhan pun terasa sangat adem. Ketika malam menjelang, turun embun. Dinginnya malam membuat batuk pilek sempat menjangkit. Puskesmas ramai dikunjungi pasien dengan keluhan yang hampir sama. Untung saja, aku tak perlu ke sana. Cukup beli obat di apotik. Alhamdulillah sembuh.

Meski demikian, gairah olahraga yang sedang digandrungi di Desa Mandirancan, yakni badminton, tetap ramai. Hangat suasana kebersamaan selepas shalat tarawih dan tadarus mengakrabkan. Obrolan antar mereka pun seolah tak terpengaruh dengan ramai, panas, dan membosankan provokasi politik di media sosial.

Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1439 H di Mandirancan

Tetap adem

Khotib pada pelaksanaan shalat Ied di lapangan Desa Mandirancan pun berwasiat demikian. Masyarakat tidak perlu baper dengan perbedaan pendapat antar elit. Tontonan sengit nan panas pada acara debat, berbeda jauh dengan kondisi setelahnya. Bisa jadi kemudian mereka makan, minum, dan atau bersendau gurau bareng. Maka tak perlu meneruskan emosi debat antar mereka. Cukup sebagai penambah wawasan.

Guyonan politik yang lebay dari para pendukung sepertinya tak begitu ditanggapi. Ketika spanduk-spanduk dan atau meme tentang jalan tol ramai dan membuat panas telinga, cukup menjadi wilayah media sosial. Karena akal waras lebih utama daripada populer tapi cacat logika.

Suasana yang tetap rukun dipertontonkan paska shalat Ied. Setelah bersalam-salaman antar jama’ah, beberapa titik melakukan hal yang sama. Masyarakat di sekitar masjid An-Nur bermaaf-maafan di jalan sebelah selatannya. Warga sekitar mushola Al Fattah, grumbul Ndesa pun demikian. Ini menjadi tradisi baik yang harus dilestarikan. Saling meminta dan memaafkan antar sesama.

Tahun politik memang biasanya membuat gerah. Namun suasana harus tetap adem, akal waras dijaga, dan badan juga mesti sehat. Munculnya para badut politik yang sedang mencari makan dan atau panggung, tinggal dicermati atau bahkan abaikan. Kita doakan semoga rizkinya dihalalkan dan pernyataan-pernyataan mereka tidak dicatat sebagai dosa jariyah.

Jama’ah perempuan

Pembangunan desa

Pada saat memberikan sambutan, penjabat Kepala Desa Mandirancan, Drs. Argo Imam Sasongko, M.Si, menyempatkan memperkenalkan diri. Beliau menjalankan tugas sebagai kepala desa atas SK Bupati Banyumas sampai terpilihnya Kepala Desa definitif. Beliau juga menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk bersama-sama membangun desa. Sekecil apapun sumbangsih warga akan sangat berguna.

Pada kesempatan itu, beliau pun memamerkan mobil ambulans yang diperuntukkan bagi masyarakat Mandirancan yang membutuhkan. Sebagian dari pelayanan publik, mobil yang baru dibeli dari dana APBDes, diharapkan bisa mempercepat pelayanan kesehatan masyarakat. Mobil ambulans tersebut sengaja di parkir di jalan depan para jama’ah.

Sayangnya partisipasi masyarakat terhadap zakat fitrah sedikit berkurang. Sebagai perbandingan pada tahun 2018, panitia mendapat zakat beras dan uang, yang dikonversi menjadi beras, sejumlah 6.956 kilogram. Ini 2 kilogram lebih sedikit dari perolehan tahun 2017, yakni 6.958 kilogram. Sedangkan penerima zakat naik, dari 1.739 menjadi 1.823 jiwa. Ini dimungkinkan terjadi, karena belum semua panen.

Berdasarkan informasi dari Pemdes, hasil infak shalat Idul Fitri 1439 H Desa Mandirancan mencapai Rp 12.107.000,00 (dua belas juta seratus tujuh ribu rupiah). Sedangkan operasional pelaksanaan shalat Id sebesar Rp 953.000,00 (sembilan ratus lima puluh tiga ribu rupiah). Dana operasional diantaranya untuk membiayai honor Linmas, kebersihan, sound system, konsumsi, dan lain sebagainya (rincian sudah diposting di grup WA Musdes Mandirancan).

Sebesar 10% dari infak bersih diambil untuk kas penyelenggaraan hari-hari besar Islam, dan selebihnya untuk pembelian karpet guna pelaksanaan shalat Id di lapangan.

Akhirnya, saya atas nama pribadi dan keluarga mengucapkan: “Taqobbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian). Mohon maaf lahir dan batin.

Salam.

Merenungi Syair Lagu Deen Assalaam

0

Akhir-akhir ini, telinga kita akrab mendengar syair lagu-lagu syahdu berbahasa arab yang disenandungkan oleh si cantik Nissa Sabyan. Merdu suara Nissa menjadikan lagu yang meski kita tak tahu artinya, tetap enak didengar. Terlebih jika kita mengerti artinya, tentu rasa haru akan menyeruak. Salah satu lagu tersebut berjudul Deen Assalam.

Namun ini hanya lah sebuah syair biasa, bukan sholawat atau pun doa. Tak perlu mengamini saat mendengar, cukup resapi maknanya, dan praktekkan dalam dunia nyata.

Lagu yang pertama kali diperkenalkan oleh Sulaiman Al-Mughni, seorang remaja Arab Saudi, sudah dinyanyikan ulang dengan berbagai versi. Salah satunya si Nissa Sabyan tersebut. Petikan gitar dari Nathan Fingerstyle dari lagu ini pun enak didengar.

Mendengar lirik dan nada lagunya saja sudah menyentuh di hati. Apalagi jika kita tahu makna lagu tersebut. Si pencipta lagu seakan ini sesederhana mungkin mengatakan pada para pendengar bahwa Islam agama toleransi. Dimana rasa itu akan didapat jika kita bisa berlapang dada.

Turn back Terorism

Munculnya cover lagu Deen Assalaam yang dibawakan oleh Nissa Sabyan dirasa tepat waktu. Berbagai kejadian bom bunuh diri beberapa hari sebelum bulan Ramadhan, bukanlah ajaran al-Islam. Terlebih dilakukan di sebuah wilayah yang tidak sedang berperang. Berbeda kondisinya jika Islam diperangi seperti di Palestina.

Dakwah Islam yang secara lembut diperkenalkan sejak dulu hingga kini, seakan omong kosong. Perilaku dan atribut yang mereka pakai, membuat saudara-saudara muslim yang beratribut sama, dianggap sama perilakunya. Padahal tidak demikian juga. Ciri teroris yang disematkan kemudian menstigmakan bahwa Islam adalah agama teroris. Meski masih menjadi perdebatan pula, mengapa pelaku teror lain, semisal di tanah Papua, tidak dilabeli teroris juga.

Mereka yang menghalalkan darah sesama muslim atau kaum kafir jelas mengingkari wasiat Rasulullah SAW.

“Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Beredar lama

Sebenarnya lagu ini sudah cukup lama dinyanyikan. Namun ketika lagu ini dinyanyikan ulang oleh Sabyan Gambus dengan Nissa sebagai vokalis, cepat sekali viral. Entah karena lirik dan nadanya yang enak didengar, waktu peluncurannya tepat, atau mungkin terkesima dengan penyanyinya.

Senandung lagu dan lirik Deen Assalaam yang lembut membawa pesan kedamaian. Dalam syairnya dikatakan bahwa dunia akan terasa sempit jika hidup tanpa toleransi. Namun jika hidup penuh cinta, kita akan bahagia, sesempit apapun dunia ini. Pesan ini tersirat dalam QS Al An’am ayat 125.

Berikut syair dan arti lagu Deen Assalaam:

Kala ha dil ar maa taq fi masahat
La u na hasib la sama hat
Wan ta ayas na bahb
La ta ghay kal ar tha nas kan kal ya ghar

Ab ta hayat wab salaam
An syaru wah lal kalam
Zay nu dini yakh te rabb
Ab ma habbat wab ta sam

An syaru ba anil ana
Ha da hud deen as salaam

Arti Lirik Deen Assalam:

Seluruh bumi ini akan terasa sempit
jika kita hidup tanpa toleransi
namun jika hidup dengan perasaan cinta
meski bumi sempit kita kan bahagia

melalui perlaku mulia dan damai
sebarkanlah ucapan yang manis
hiasilah dunia dengan sikap yang hormat
dengan cinta dan senyuman

sebarkanlah diantara insan
Inilah Islam agama perdamaian

*)Tulisan ini diolah dari berbagai sumber.

Mensikapi Rencana Penutupan Jalan Kebasen – Patikraja

0
Survei lokasi

Akhirnya penutupan jalan raya Kebasen – Patikraja akan dilakukan. Setelah melalui proses yang cukup lama, keputusan penutupan jalan raya ini pun dipastikan. Berdasarkan rapat sosialisasi yang bertempat di kantor kecamatan Kebasen (Jum’at, 18/02/2018), penutupan jalan akan mulai dilakukan sejak tanggal 28 Mei 2018. Rencana penutupan akan dilakukan sekitar 300 hari kalender. Kekhawatiran yang tertunda, akhirnya terjadi juga.

Kendaraan roda empat harus memutar melalui jalur Rawalo atau Buntu. Sedang kendaraan roda dua, sudah dipersiapkan jalurnya. Jalan alternatif melalui jalur bekas rel SS (Staatsspoorwegen) diteruskan dari Bendung Gerak Serayu hingga grumbul Losari Desa Gambarsari, menyusuri sungai Serayu. Pembuatan jalur alternatif ini menjadi salah satu konsekuensi atas pembangunan jalan layang yang sedang dilakukan. Pembangunan jalan layang yang lokasinya di dekat terowongan kereta di sisi utara, dimaksudkan agar pengendara tidak terhalang pintu kereta api nantinya.

Pembuatan jalur alternatif yang sebelumnya diisukan melalui jalan Tumiyang tembus Kebasen, urung. Meski ada sebagian masyarakat yang mengharapkan itu terjadi. Pasalnya jalur alternatif Tumiyang – Kebasen akan melalui jalan Perhutani yang mempermudah akses menuju lokasi wisata Watu Meja.

Keberatan dari warga masyarakat grumbul Losari Desa Gambarsari tak menghendaki harus memutar. Pasalnya jarak tempuh akan semakin jauh. Padahal keperluan mereka ke balai desa, kantor kecamatan, pasar, dan atau mengantar anak sekolah di SD dan atau TK hampir setiap hari dilakukan.

lokasi pembangunan jalan layang

Cukup untuk kendaraan roda dua

Bagi para pengendara yang terbiasa melalui jalan ini, tentu akan menyayangkan jalur alternatif yang hanya cukup untuk kendaraan roda dua saja. Pembuatan jembatan kecil pada 100 meter setelah Bendung Gerak Serayu memang cukup untuk persimpangan sepeda motor. Namun demikian, pengendara harus berhati-hati dan tidak membawa keranjang samping. Karena lebar jalan dan jembatan kecil hanya sekitar 2 meter dengan pengaman jalan di kanan kiri sejak depan kantor Bendung Gerak Serayu hingga jembatan kecil.

Pembuatan jalur alternatif tentu akan berdampak pengguna jalan. Baik mereka yang menuju dan atau dari Purwokerto yang memanfaatkan jalur ini. Padatnya kendaraan pada pagi hari tentu tak bisa dielakkan. Terlebih penutupan jalan ini dilakukan sebelum lebaran. Para pengendara mesti waspada, tahu diri, tidak menang sendiri, dan menghormati pengendara lain.

Berdasar pantauan penulis, jalan tersebut layak. Sebagian menggunakan kontruksi jalan aspal, sebagian lagi cor beton, meski ada sebagian yang masih berupa tanah. Jembatan kecil itu pun kokoh dengan catatan tidak terjadi kemacetan diatasnya. Perlu jasa pengatur jembatan agar pengendara mau berbagi kesempatan melintas tatkala ada pengendara membawa keranjang samping. Sepeda motor yang lumayan besar atau pun yang kecil perlu sedikit melambatkan laju saat melintas di jembatan kecil tersebut.

Survei lokasi

Upaya pemerintah lokal

Tidak henti-hentinya pemerintah lokal memperjuangkan kepentingan umum. Kepala Desa Gambarsari, selaku pemangku wilayah yang ketempatan proyek jalan layang, selalu menolak membubuhkan tanda tangan, sebelum jalur alternatif jadi. Keputusan beliau didukung oleh masyarakat, para Kepala Desa tetangga, dan tentu pihak kecamatan Kebasen sendiri.

Keinginan sebagian besar masyarakat agar pembangunan jalan layang tanpa penutupan tidak terpenuhi. Berkali-kali lobi dan diskusi dilakukan agar kepentingan umum tidak dikalahkan. Namun apa lacur, pembangunan jalan layang harus dilakukan dengan penutupan dan pengalihan jalur lalu lintas. Toh ini dilakukan demi keamanan pengguna jalan juga.

Sebelumnya, ketika pembuatan dua terowongan kereta, wacana penutupan jalan sudah mencuat. Namun atas desakan masyarakat, penutupan itu urung dilakukan. Bayangkan saja, penutupan jalan ketika pembuatan terowongan dan jalan layang, diprediksikan mencapai dua tahun.

Penampakan jembatan kecil

Konsekuensi perubahan

Setiap perubahan pasti berdampak. Entah itu positif atau pun negatif. Mereka yang terkena imbas atas perubahan zaman mesti bisa menyesuaikan. Kalau tak mampu, alhasil mereka hanya akan jadi pecundang. Pembangunan demi pembangunan pasti akan membawa keuntungan dan kerugian. Keadaan ini tergantung bagaimana kita mensikapi. Meski pada prosesnya, lebih sering tak mengenakkan.

Sebagai upaya pemanfaatan jalan paska proyek, Pemerintah Desa Gambarsari sudah mengajukan permohonan atas aset jalan alternatif tersebut. Pemerintah Desa meminta agar aset tanah, jalan, dan jembatan kecil tidak di bongkar. Biarkan saja untuk kepentingan umum desa. Menurut Kepala Desa Gambarsari, Arif Zulfikar (34 tahun), jalan tersebut kelak akan dimanfaatkan untuk prasarana wisata desa susur Serayu.

Oleh karena nya, daripada mengeluh, menggerutu, dan atau mengumpat, lebih baik kita terima dan mensikapi secara bijak. Upaya yang dilakukan oleh Pemdes Gambarsari pantas diacungi jempol. Mampu melihat peluang bagus di masa mendatang.

Lagipula, keluhan, gerutuan, dan atau umpatan yang diucapkan, tak akan bisa mengubah apapun. Konsekuensi atas pembangunan untuk perubahan memang demikian. Pilihan ada di tangan kita. Akan kan terus menyalahkan keadaan atau mensikapi secara dewasa.

 

Salam.

Jalur susur Serayu kelak.

Sadar Diri

0
Syamil, Haidar, Ata

Ini kali ketiga Syamil kecelakaan. Kecelakaan kecil. Pertama, dia terserempet motor. Ketika dia tahu ada motor lewat, bukannya meminggirkan sepeda. Dia malah ke tengah dan berhenti mendadak. Alhasil pengendara pun kaget dan menyerempetnya. Kedua, Syamil menabrak mobil saat bersepeda. Pelek sepeda rusak. Syamil sendiri sedikit luka. Dia agak trauma. Enggan bersepeda lagi. Tapi hanya berselang dua hari saja. Berikutnya dia asyik bersepeda lagi.

Hampir semua tetangga tahu, Syamil kalau naik sepeda memang tak lihat jalan. Senangnya cepat, tak mau mengerem, dan matanya jelalatan entah apa yang dilihat. Nah, begitu keluar dari gang, dia langsung menabrak bagian belakang mobil dari arah selatan. Dia sendiri bersepeda dari arah barat.

Kecelakaan ketiga ini tanpa bersepeda. Dia berlari menabrak sepeda motor. Kecelakaan ketiga ini agak parah. Pelipis kirinya sedikit sobek, bahkan kata Bu Bidan Erly, baiknya di jahit agak cepat sembuh. Syamil menangis menolak. Untung tak terlalu lebar, butuh satu jahitan.

Bibir atasnya jontor. Telinga kanan memar dan luka lecet. Sedang kepala bagian atas telinga kanan benjol. Pipi sedikit tergores. Luka yang membuatnya kesulitan adalah lecet pada lutut kanan. Lecet-lecet sedikit pada bagian atas jemari kaki ada. Hari itu sampai malam, dan pagi harinya, aku meski membantunya berjalan, bahkan sebelumnya selalu minta di bopong.

Kronologis

Persisnya kejadian tak bisa terekam. Syamil saat ditanya bilang nggak tahu. Pasalnya, paska dia menabrak sepeda motor, sempat pingsan. Kata Lik Narso, Syamil pun bertanya kenapa bisa tiduran di rumah Bu Bidan Erly. Saat kejadian, si pembonceng sigap membopong Syamil. Karena kendaraan tak sedang melaju kencang.

Kecelakaan itu terjadi di jalan desa dekat Pos Ronda, sebelah rumahnya Mas Dirun. Dari cerita yang aku himpun, Syamil sedang asyik bermain bersama Aisyah, Syifa, dan Okta di Pos Ronda. Tiba-tiba Syamil berlari tanpa melihat kanan kiri. Ini kebiasaan buruknya. Sradak sruduk.

Setelah sadarkan diri, Syamil pun enggak menangis. Hanya mengerang. Namun saat melihatku datang, dia mau menangis. Aku bilang nggak boleh menangis, biar cepat sembuh. Saat itu dia sedang disuapi oleh Bidan Erly. Istri ku sedang mencari Haidar yang terus menangis, meski sudah dibopong sama Bibi Salem.

Sadar Diri

Saat istri ku menelpon agar aku pulang sebentar, aku tak punya perasaan apa-apa. Andai benar dia terserempet, aku tahu kalau Syamil memang sradak sruduk. Apalagi mendengar keterangan bahwa Syamil lah yang menabrak motor. Aku hanya tersenyum. Tak mencari kambing hitam.

Saat si pengendara mendekatiku dan minta maaf, aku katakan nggak apa-apa. Jangankan motor, mobil pun pernah dia tabrak. Lalu dia berpamitan. Beberapa orang menyarankan aku minta KTP nya, kalau ada apa-apa. Biar saja.

Aku sadar sepenuhnya. Ini bukan salah siapa-siapa. Murni kecelakaan yang memang sudah digariskan terjadi. Saat istriku bilang sudah mencegahnya bermain, aku pun tak menyalahkannya. Kebetulan pula, pagi hari nya, Ibuku berpamitan hendak ke Slawi. Jadi tentu dia repot mengurusi Syamil dan Haidar sendirian.

Tanggung jawab

Orang-orang yang mengenalku dan istri agak heran. Syamil ini menuruni sifatnya siapa. Padahal bapak ibunya dikenal kalem. Tidak neko-neko. Apalagi istriku, sangat berhati-hati. Aku pun tidak jauh berbeda. Tapi ini lah tanggung jawab. Allah SWT sudah percaya memandatkan Syamil pada kami. Aku yakin, Dia akan memampukan kami. Aaamiin.

Sebagai bentuk tanggung jawab kala Syamil menabrak mobil, pengendara malah memberi uang. Padahal sudah jelas posisinya. Tapi ya, Alhamdulillah buat ongkos pijat urut. Sisanya digunakan untuk tambahan servis sepeda. Meski andai tidak, aku pun bertanggung jawab. Ini bukan salah si pengendara mobil.

Kejadian kali ini, aku pun tak meminta pada si pengendara motor. Alasannya memang mereka tak bersalah dan kalau lihat profesinya, insya Allah aku harus lebih banyak bersyukur. Ini tanggung jawabku sepenuhnya sebagai orang tua. Apalagi Bidan Erly sudah sangat baik. Dia tak mau diganti biaya pertolongan dan obat yang diberikan. Terima kasih, Bu Bidan.

Sehari semalam aku menunggu perkembangan. Kalau-kalau badannya panas atau dia merasa pusing. Aku ingin memastikan tak ada luka dalam.

Tapi dasar Syamil, meski jalannya masih agak terpincang-pincang, dia sudah bersepeda lagi esok harinya. Alhamdulillah hanya luka luar saja.

Fabiayyi ‘ala irobbikuma tukadziban….

Syamil, Haidar, Ata

Kampanye Kaos atau Kaos Kampanye

8
Desain by TDK

Akhirnya keinginan memiliki kaos bergambar sendiri kesampaian. Mirip kayak anak kecil sih. Tapi ya biar. Lha wong ingin sih, gimana lagi. Sebenarnya tinggal sablon kaos di Pasar Wage, bisa keturutan. Desain kaos yang begini sepertinya mudah. Hanya tak yakin bisa awet. Kaos ini yakin bisa lebih tahan lama. Tengkiu ya, Ep.

Rencana kaos ini malah tak buat lebih banyak. Hanya mereka yang beruntung yang bisa mendapatkan. Kamu nggak boleh minta; tapi jangan ditolak kalau pas aku beri. Senang meminta-minta itu tanda mental miskin. Menolak orang berbuat baik pun tidak baik. Ini dalam rangka kampanye kaos, bukan kaos kampanye… hehe….

Yang jelas, kaos ini akan diproduksi buat keluarga terlebih dulu. Hitam putih sebagai warna kesukaan akan memonopoli. Dua warna yang aku sukai. Tentu warna putih selalu dipakai sebagai atasan kala dipadukan. Biar orang bilang mirip tukang glidig, aku tetap suka keduanya.

Identitas

Desain kaos yang demikian awalnya dibuat untuk lukisan pada kayu dari Jegos Studio. Pesanan yang aku inginkan dari Budi Pulkamfest malah tak permanenkan jadi foto profil di akun facebook. Lukisan itu sendiri aku pajang di kantor. Sampai suatu saat akan aku pindahkan di rumah. Pemanfaatan kayu bekas palet yang menjadi nilai seni, menarik sekali. Aku suka kreatifitasnya.

Kalau simpan nomor whatsapp-ku, pun akan kamu temui lukisan itu. Sengaja aku permanenkan sebagai identitas. Termasuk di kaos yang ini. Bisa saja kamu temui nanti, aku selalu memakai kaos ini. Kamu pun akan kira, kalau kaos ini ringgo-ringgo (garing dienggo = kering dipakai). Padahal aku sengaja membuatnya lebih dari 4 (empat) buah. Nantinya sih.

Mengapa identitas itu perlu dipatenkan. Biar orang ingat selalu. Aku belajar dari lembaga atau produk yang sudah berpuluh-puluh tahun bertahan. Mereka selalu mengidentikkan diri dengan suatu lambang yang yang ketika orang melihatnya, langsung bisa mengenali. Identitas dengan lukisan dan warna hitam putih, akan diidentikkan.

Desain by TDK

Tokoh

Seseorang pernah bertanya pada Mba Cici. Itu yang di kaos putih, tokoh apa ya? Sontak kami tertawa. Belum jadi tokoh sudah dikira tokoh. Mba Tika kasih jawaban: Tokoh BUMDes. Apa iya lah?

Kaos bergambar seperti itu memang identik dengan ketokohan. Tak sedikit diantara kita yang memakai kaos dengan para tokoh yang diidolakan. Mengidolakan seorang tokoh yang mungkin identik dengan dirinya, itu wajar. Tentunya wajar pula dong kalau aku mengidolakan diri sendiri, meski belum menjadi tokoh. Paling tidak, diidolakan sama istri dan anak-anak. Aamiin.

Seorang penulis pernah mengatakan, jika kamu bermimpi dan berusaha menjadi orang besar, maka kamu akan sampai. Nah, aku termasuk orang-orang itu. Mimpi dan berusaha menjadi orang besar, telah, sedang, dan akan aku lakukan. Entah dalam hal apa. Yang jelas, bukan besar kepala, besar hutang, apalagi besar nafsu. Jauh-jauh deh.

Kampanye

Pembuatan kaos yang berbarengan dengan hiruk pikuk menjelang pemilu, di kira lagi kampanye. Padahal kampanye bukan monopoli pilkada(l). Mereka yang berjualan pun pada dasarnya sedang kampanye dagangannya. Aku pun sedang kampanye kaos. Kampanye kaos ini bagus. Percaya diri dan menjadi diri sendiri itu penting. Andai suatu saat kampanye itu perlu dilakukan, aku sudah merintisnya mulai sekarang.

Pemberian kaos saat kampanye, menurutku bagus. Daripada memasang baliho berjajar dan menempel di pohon-pohon. Baliho bekas itu hanya jadi sampah. Apalagi yang menempel dan dipakukan di pohon, malah merusak. Baliho besar pun pasti berlubang-lubang. Andai masih utuh, tentu tak kuat menahan angin. Padahal andai masih untuk, bisa dimanfaatkan untuk pelihara ikan pakai terpal. Atau jadi pelindung kandang ayam.

Nah, buat kamu yang sedang ikut-ikutan kampanye, berikan kaos saja. Tapi tolong sedikit diperbaiki kualitas bahannya. Jangan seperti saringan ampas. Kualitasmu kan berbanding lurus dengan apa yang kamu berikan. Kalau ingin didukung, baiknya berikan yang terbaik. Termasuk bahan kaos yang bagus.

Sepakat?

Kampanye kaos

Jangan Menunggu Sempurna

0
Kafe dari kandang kerbau

Tulisan ini terinspirasi dari kunjungan belajar ke DolaNdeso. Wahana permainan ala desa yang ada di Desa Banjarasri Kec. Kalibawang Kab. Kulonprogo-Yogyakarta. Misinya ingin mengajak orang kembali mengenal desa jaman dulu. Tips dan trik yang dia berikan sedikit banyak terekam pada tulisan ini.

“Jangan menunggu sempurna”, begitu nasihat dari Mas Hartono, pengelola DolaNdeso.

Dia tak perlu menunggu DolaNdeso sempurna. Setelah beberapa properti terpasang dia segera jualan. Dia promosikan dan mengajak pengunjung datang. Masukan-masukan dari pengunjung lah yang dia jadikan modal pengembangan. Meski masih dalam konsep besar yang digagasnya.

Kebiasaan menunggu sempurna akan menghilangkan momentum. Padahal kesempurnaan yang ada dalam pikiran kita belum tentu diinginkan oleh konsumen. Kita terjebak pada egoistis bahwa aplikasi konsep seperti yang dibayangkan akan diterima oleh konsumen. Ketidakmampuan dan keengganan memposisikan diri pada orang lain, sering membuat usaha yang kita rintis gagal.

Kita merasa benar, pintar, dan serba tahu kemauan konsumen. Maka dibuatlah gagasan, tahapan aplikasi, dan pembuatan properti usaha sesuai apa yang ada dalam otak kita. Kedangkalan akan pemahaman perilaku konsumen dan konsumen jenis apa yang kita sasar berakibat mandeknya usaha. Tak sedikit yang gulung tikar dan atau layu sebelum berkembang.

Pojok Selfie

Mengalir

Perencanaan dalam berbagai hal itu harus. Tanpa perencanaan, sulit mengukur tingkat kesuksesan sesuatu. Namun saat perencanaan dibuat sedetail mungkin untuk menghindari kesalahan, yakinlah kita akan gagap dalam pelaksanaan. Sebab sedetail apapun perencanaan, akan bertemu dengan kenyataan yang berbeda dari yang kita bayangkan.

Orang bijak mengatakan, sederhanalah dalam merencanakan, toleransi dalam pelaksanaan, tetapi tetaplah fokus pada tujuan. Perencanaan yang sederhana akan mempermudah kreatifitas saat aplikasi. Ketika keadaan yang ditemui berbeda dari yang dibayangkan, kreatifitas akan muncul. Tidak ada alasan menyalahi aturan atau prosedur, sebab ruang kreatifitas terjamin ketika perencanaannya sederhana. Biarkan pengembangan itu mengalir.

Pengembangan yang dilakukan disesuaikan dengan keinginan konsumen. Oleh karenanya, Mas Hartono menyarankan untuk mendengarkan masukan dari konsumen. Temani mereka saat berkunjung, gali fantasi, saran, dan masukan dari mereka. Semakin banyak orang yang menyarankan sesuatu, maka berpotensi itu diterima oleh khalayak. Namun demikian, keputusan ada di tangan kita. Ini berarti tidak boleh menyalahkan konsumen.

Santai

Pemupukan aset

Ketika pengembangan dilakukan secara bertahap pemupukan aset akan lebih tepat. Pemasukan dari pembayaran konsumen menjadi modal tambahan pengembangan. Model pengembangan bertahap sesuai kemauan konsumen akan mengurangi beban modal diawal. Hal ini meminimalkan kesalahan investasi awal yang disesuaikan dengan imajinasi kita.

Berbagai program outbond dan kegiatan di DolaNdeso dilakukan apa musimnya. Ketika musim penghujan, pemanfaatan air akan dimaksimalkan. Namun tatkala musim kemarau datang, kegiatan didasarkan pada apa yang ada. Karena dia berkeyakinan bahwa segala apa yang ada di bumi ada nilainya. Kita harus bisa menjual nilai, bukan semata produk.

Dari modal awal sekitar 250 juta, dia bersama tim mampu mengubah bekas lahan tebu menjadi wahana bermain dengan omset mencapai 600 juta per bulan. Secara bertahap properti yang dibutuhkan untuk memenuhi keinginan konsumen bertambah. Demikian pula imbas langsung ke masyarakat sekitar.

Homestay bekas lumbung padi

Inovasi

Nasihat lain yang dia berikan adalah teruslah berinovasi. Jangan cepat merasa puas. Cepat merasa puas dan berhasil adalah musuh kesuksesan. Stagnasi akan didapati tatkala rasa itu muncul dan melingkupi diri. Kepuasan dan merasa diri sukses biasanya akan mematikan inovasi. Padahal kompetitor sedang bertumbuh, titik jenuh konsumen terus beranjak, dan perilaku konsumen terus berubah-ubah.

Orang-orang hebat semacam Bill Gates dan Steve Jobs adalah orang bertipikal seperti ini. Keduanya beserta orang lain yang sukses, tidak merasa puas begitu saja dengan kesuksesannya. Mereka selalu memposisikan diri dalam kondisi harus berinovasi. Kalau inovasi didapatkan saat kondisi tak nyaman atau kepepet, maka ciptakan kondisi itu, agar inovasi terus bermunculan.

Frasa “nrimo ing pandum” sebenarnya bukan bermakna pasrah. Kita tidak pernah tahu seberapa besar “pandum” yang menjadi jatah kita. Kalau kita beranggapan bahwa “pandum” hanya apa yang sekarang kita dapatkan, bisa jadi keliru. Sebab mungkin saja “pandum” yang tertulis di Lauhul Mahfudz bisa lebih banyak dari itu.

Pemahaman bersyukur atas nikmat yang diberikan, bukan berhenti berkarya. Justru berkarya dengan berbagai inovasi menjadi wujud rasa syukur. Harapannya agar kemanfaatan yang kita lakukan lebih banyak dirasakan oleh orang lain. Karena sebaik-baik orang ialah mereka yang bermanfaat bagi orang lain.

Diskusi Kang Manto, Mas Hartono & Kang Jalu
Kafe dari kandang kerbau
Top