Beranda blog

Masukan Regulasi Transformasi UPK

0
Bersama Sekjend Kemendesa, Pak Taufik Madjid

Akhirnya ke Jakarta juga. Misinya tak jauh-jauh dari isu transformasi UPK menjadi unit usaha BUMDesa Bersama. Mencari banyak informasi sebagai bahan pengajuan usul dalam klausul regulasinya. Pengalaman mendampingi transformasi Badan Kredit Desa (BKD) menjadi unit usaha BUMDesa Bersama, mungkin bisa menambah kekayaan khasanah.

Berbeda dari kunjungan yang dulu-dulu, kesempatan kali lebih banyak bertemu para pihak yang bisa diajak berdiskusi. Efek pandemi Covid19 membuat beliau-beliau mengurangi aktivitas luar kota. Mereka sebagian besar memiliki akses terhadap penyusunan rencana peraturan pemerintah tersebut, meski tidak dilibatkan secara langsung. Berkesempatan pula berdiskusi cukup panjang dengan orang dekat Pak Menteri. Siapa-siapa yang perlu dihubungi agar masukan bisa lebih didengar oleh Pak Menteri. His name is effort.

Seperti biasanya, kesempatan berdiskusi panjang ini justru tidak pada acara yang dituju. Tapi pada pertemuan informal di sela-sela acara resmi lain. Istilah “tamu VVIP” untuk saya adalah guyonan sebagai peserta tak diundang. LOL.

Perihal Transformasi

Beberapa hal menarik yang bisa disampaikan disini adalah bahwa Pak Menteri turun langsung dalam perumusan regulasi ini. Pengalaman sekitar 15 tahun beliau jadi anggota DPRD Kab. Jombang dengan 2 (dua) periode menjadi Ketua DPRD, membuat beliau fasih dalam hal ini. Proses transformasi UPK jadi unit usaha BUMDesa Bersama di Jatim, ingin beliau terapkan. Momentum pengakuan BUMDesa dan BUMDesa Bersama menjadi badan hukum dimanfaatkan betul. Salah satu pejabat yang terlibat dalam penyusunan Rapermen (Rancangan Peraturan Menteri) sebelumnya mengatakan bahwa Pak Menteri tidak suka dengan status quo. Perubahan adalah keniscayaan. Hal itu juga didukung oleh hasil kajian internal terbaru Kementerian Desa.

Hal lain yang ingin dituju dari regulasi ini, versi Kementrian Desa, agar keberadaan dana yang selama ini dikelola akan lebih luas kemanfaatannya. Kalau pengelolaan sekarang memang diakui sudah sangat bermanfaat. Tapi peluang untuk memperluas cakupan bagi masyarakat, menurut mereka, akan lebih luas lagi. Sedangkan kekhawatiran akan adanya move dari oknum agar aset terbagi, pihak Kementerian Desa menjamin, tidak akan ada pembagian aset. Keberadaan sumber daya manusia yang selama ini mengelola pun akan ‘diamankan’ agar tidak diserobot oleh pihak lain.

Hal-hal teknis terkait transformasi ini memang belum dibahas detail. Meski gambaran itu sudah ada. Hal ini dikarenakan masih menggodok regulasi umumnya dulu. Ini pun masih uji publik, sehingga semua yang merasa berkepentingan diijinkan memberi masukan. Kalau soal polemik, mereka sadar. Itu hal biasa dalam setiap proses perubahan. Tentu hasilnya tidak akan memuaskan semua pihak. Sekali lagi, perubahan adalah keniscayaan.

Tulisan ini pun sengaja diketengahkan agar terjadi diskusi-diskusi. Sepanjang mengarah kepada kebaikan bersama dan bisa disampaikan (disarankan secara tertulis), pihak Kementerian Desa siap menerima sebagai masukan berharga.

Hal lain yang tak kalah penting

Perlu diketahui kepada khalayak bahwa pengelolaan dana bergulir sudah berjalan baik. Dana Bantuan Modal Langsung (BLM) yang selama ini dikelola bukan hanya lestari, tapi berkembang biak. Total dana pengembangan hasil kegiatan (akumulasi modal ditahan) jumlahnya melebihi total dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) yang diberikan oleh pemerintah. Ini menunjukkan kredibilitas baik para pengelola. Jika hanya urusan teknis pengelolaan dan pelaporan, mungkin bisa dipelajari. Akan tetapi, kredibilitas untuk tidak ‘mengambil’ guna memperkaya diri, merupakan sesuatu yang harus diapresiasi. Kebodohan bisa diatasi dengan belajar, tapi kejujuran adalah logam mulia kemewahan seorang manusia.

Pada kesempatan ini pun bisa memberikan ucapan selamat secara langsung kepada Pak Taufik Madjid, Sekjend Kementerian Desa yang baru. Pertama kali berkenalan dan berdiskusi bersama beliau saat FGD pengakhiran PNPM MP di Kantor Staf Presiden (KSP), pada awal 2016. Saat itu beliau masih menjadi salah satu Direktur di Dirjen PPMD. Beliau masih ingat dan tidak lupa momen di KSP itu. Ketika naik jabatan menjadi Dirjen PPMD pun sempat memberi ucapan selamat saat acara di Panggungharjo.

Sejak pandemi Covid19, baru kali ini berani ke Jakarta. Protokol kesehatan berkendara kereta api mesti dipenuhi. Surat keterangan sehat dari Puskesmas ternyata cukup, tidak harus rapid test. Biayanya pun jauh lebih murah daripada rapid test. Yang menyenangkan dari perjalanan kali ini adalah tempat duduk yang berjarak. Meski pada perjalanan pulang terpaksa naik kereta ekonomi, tetap nyaman. Bisa tidur dan selonjoran.

Tamu VVIP. LOL
Para donatur beasiswa. Semoga.

Mencari Habitat Dimana Kita Dibutuhkan dan Dihargai

0
Kerjasama saling menghargai

Seorang pria duduk disebelahku terpekur dengan HP-nya. Meski begitu terlihat dia muram. Kalau dia muram, aku gelisah. Aku gelisah karena menunggu teman yang tak kunjung datang. Janji ketemuan jam 11 siang, sudah hampir dhuhur belum datang juga. Andai bukan karena aku yang butuh, sudah aku batalkan pertemuan ini. Kopi yang aku pesan juga sudah hampir habis.

Sesaat kemudian teman si pria datang. Mereka terlibat perbincangan yang cukup serius. Sebenarnya tak hendak mencuri dengar, tapi topik bahasan mengulik rasa ingin tahuku. Meski dibicarakan dengan santai, obrolan mereka menarik didengar. Sekilas aku pandang wajah mereka, sepertinya tak jauh berbeda dengan usiaku. Sebut saja namanya Indra dan temannya, Andi.

Aku dengar keluhan dari Indra. Dia baru beberapa hari ini di PHK. Menurutnya tak ada alasan kuat dia dipecat. Tapi apa daya, argumennya tidak diterima oleh si bos. Menurutnya isu apa yang sudah didengar oleh si bos sehingga dia dipecat, tak dia ketahui dengan pasti. Indra kecewa. Pasalnya dia mengaku sudah berjuang sejak si bos baru merangkak. Hingga asetnya sekarang lebih dari 2 kali lipat. Indra merasa habis manis sepah dibuang.

Loyalitas yang tak berbalas

Kemudian Andi berkata bahwa Indra lah yang salah. Kata Andi, Indra memang pintar, tapi tidak cerdas. Tak terima dengan ucapan Andi, si Indra berargumen. Indra mengaku sudah mendedikasikan seluruh kemampuannya untuk perusahaan si bos. Loyalitasnya hampir tanpa batas. Tawaran bekerja di tempat lain, saat membangun bisnis bersama si bos, dia tolak.

Indra mengaku rela dibayar murah, dengan impian bisa bersama-sama menikmati hasil kelak bersama si bos. Apa salahku, tanya Indra. Indra juga merasa heran dengan para anak buahnya. Kenapa mereka tidak melakukan pembelaan saat dirinya di PHK. Padahal menurutnya dulu Indra sering membela mereka dihadapan si bos. Indra juga kerap memperjuangkan kesejahteraan para anak buahnya.

Andi tersenyum dan menjawab dedikasi dan loyalitas terhadap sesuatu yang bukan milik kita adalah kesalahan terbesar. Kalau Indra cerdas, dia tidak akan demikian. Soal pembelaan dan memperjuangkan hak bawahan, itu sudah kewajiban sebagai pimpinan. Biasa saja. Tidak usah didramatisir, demikian timpal Andi.

Sesaat aku berpikir. Kenapa si Andi bilang begitu. Bukankan sudah seharusnya seorang bawahan bersikap loyal dan berdedikasi terhadap pekerjaannya. Justru dengan dia loyal dan berdedikasi, karir seseorang bisa melesat dan di apresiasi perusahaan.

Cerita seorang mekanik kapal

Kemudian Andi bercerita tentang kisah mekanik kapal. Dimana seorang mekanik kapal mampu memperbaiki kapal hanya dengan ketukan di beberapa titik. Padahal sebelumnya baik nakhoda, mekanik internal, dan pemilik bingung. Kapalnya tidak bisa dihidupkan mesinnya. Tapi si pemilik tidak terima dengan tagihan si mekanik handal tadi. Masa hanya kerja sebentar dan cuma beberapa ketuk, tagihannya besar.

Cerita ini sudah baca beberapa kali. Inti dari cerita tersebut adalah seringnya kita tidak bisa menghargai profesionalisme kerja seseorang. Keahlian si mekanik dengan memperbaiki kapal hanya beberapa ketukan berdasarkan ilmu, pengalaman, dan jam terbang tinggi. Pekerjaannya menjadi efektif dan efisien.

Jika ada orang yang memamerkan beratnya pekerjaannya karena harus dikerjakan berhari-hari atau bahkan lembur sampai larut malam, justru timbul tanda tanya. Karena pekerjaan serupa bisa dikerjakan dengan waktu yang lebih singkat dan tepat oleh orang lain. Secara tidak sadar, mereka yang memamerkan beratnya pekerjaannya, sedang menunjukkan keamatirannya.

Berpindah habitat

Andi bilang bahwa Indra diibaratkan seperti si mekanik kapal. Sedangkan si bos seperti pemilik kapal. Tidak bisa menghargai profesionalisme si mekanik handal tersebut. Padahal jika kembali berfungsinya mesin kapal dikerjakan oleh orang amatiran, bisa lama atau bahkan tambah rusak.

“Tapi kamu salah tempat, Ndra. Habitat yang kamu diami selama ini tidak baik. Mereka memang membutuhkan keahlianmu, tapi mereka tidak bisa menghargai kamu”.

Secara lugas Andi mengatakan bahwa selain karena Indra salah terlalu berdedikasi dan loyal, tempat bekerjanya pun bisa dikatakan tidak tahu terima kasih. Berdedikasi dan loyal itu bagus tapi harus pada tempatnya. Yaitu mereka yang bisa menghargai kinerja kita, bukan cuma karena butuh. Kalau soal butuh tidak butuh sih banyak, Ndra. Tapi yang bisa menghargai kita, itu sedikit.

“Terus menurut kamu, aku harus bagaimana?” tanya Indra.

“Kalau kamu memang merasa profesional. Jangan mengeluh. Jangan pula menyalahkan mereka. Carilah habitat dimana kinerja mu dibutuhkan dan dihargai”, ujar Andi.

Hmm… gitu ya.

 

Dibalik Orang Sukses, Ada Sederet Mantan yang Menyesal

0
Gambar pemanis

Aku pernah punya usaha jasa pengetikan. Oleh karenanya sering berhubungan dengan berbagai macam karakter manusia. Unik dan asik. Sembari mengetik, sering diajak ngobrol banyak hal. Dari situlah aku belajar sabar, memposisikan diri, dan berempati.

Ada satu pelanggan yang unik. Beliau seorang guru. Setelah beberapa kali kunjungan, akhirnya beliau memilih datang malam hari, sekitar jam 9 malam. Mau ditolak tidak enak. Pasalnya itu rejeki. Beliau mau membayar lebih mahal dari pelanggan lain. Sering pula membawa jajanan.

Dari kebiasaannya itu, aku jadi tahu. Sebenarnya beliau bukan hanya butuh jasa pengetikan. Tapi butuh teman curhat. Lebih tepatnya teman yang mau mendengarkan cerita-ceritanya. Beliau tidak butuh masukan. Hanya butuh orang yang mau mendengarkan saja. Hampir semua yang beliau alami diceritakannya. Termasuk hal-hal yang sepele.

Suatu saat beliau cerita tentang masa mudanya. Gejolak masa remaja membuatnya jatuh cinta pada seorang gadis. Cantik. Begitu katanya. Perjuangan untuk apel tiap malam minggu sudah dilakukannya. Meski jarak dari rumahnya cukup jauh. Kalau sekarang sekitar 20 menit pakai motor. Tapi kejadian itu sekitar 40 tahun yang lalu. Jadi, jalanan masih sepi dan tidak banyak kendaraan.

Suatu ketika beliau ditemui oleh orang tua gadis pujaannya. Mereka mengatakan bahwa anak gadisnya sedang disuruh fokus kuliah. Jadi tidak boleh berpacaran dulu. Beliau menangkap apa yang dimaksud. Sejak saat itu beliau tidak lagi datang apel malam minggu.

Namun, apa lacur. Berselang sekitar 6 bulan kemudian, beliau mendapat undangan pernikahan. Gadis pujaannya dipinang oleh orang lain. Calon mempelai pria adalah seorang karyawan bank. Tragisnya, yang demikian sudah terjadi berulang kali. Penolakan demi penolakan.

Beliau sadar diri. Apalah arti seorang guru honorer. Masa depan tidak jelas. Masa bakti entah kapan akan berakhir baik.

Saat itu, aku tidak memperhatikan apakah ada air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Selain merasa tidak sopan, fokus pada ketikan, dan posisinya yang sedang rebahan membuatku tidak tahu apa yang dirasakan. Sakit? Pasti.

Kala itu beliau meminta aku membantunya mengurus sertifikasi guru. Ini awal-awal program sertifikasi bagi para pendidik. Saat itu beliau sudah berstatus PNS. Alhamdulillah beliau berhasil lolos.

Namun kisah cintanya berakhir bahagia. Beliau menemukan istri sholihah. Cantik. Dosen, PNS pula. Tak jarang beliau memposting kebahagiaan bersama keluarga dan memuji-muji istrinya.

Ada janji beliau padaku yang sempat diucapkan dan belum ditunaikan, “nanti kalau saya sudah dapat sertifikasi, Mas Kikis akan saya traktir sate”. Suatu saat akan saya tagih. Bukan karena aku tidak ikhlas atau tidak mampu beli sate.

Aku hanya akan berujar: “Pak, Sis. Dibalik orang sukses, ada sederet mantan yang menyesal”.

Semoga beliau tidak membaca postingan ini. Kalau telanjur membaca, mohon janjinya ditunaikan, Pak… eh.

Menjadi Koresponden Tugas Akhir

0
Salinan thesis dan souvenir

Kaos berwarna putih, dua dompet kecil, dua gantungan kunci, dan dua salinan thesis aku terima beberapa waktu lalu. Kiriman dari Qonita Rohmah, yang belum lama ini di wisuda di Tokyo University, hanya berselang sehari sejak dia minta alamat. Meski aku hanya minta dua salinan thesis, nyatanya souvenir dia sertakan. Alhamdulillah buat kenang-kenangan.

Qonita adalah ASN (aparatur sipil negara) di Kementrian Keuangan RI yang tahun kemarin sedang menyelesaikan thesisnya. Komunikasi dan informasi yang aku berikan sedikit banyak membantu dalam hal penyelesaian tugas akhirnya tersebut. Meski sebenarnya aku merasa tidak maksimal dalam membantunya mencarikan informasi. Pasalnya data yang dia butuhkan lebih banyak disimpan di Dinas.

Koresponden

Ini kali ketiga ketika aku dimintai menjadi koresponden bagi para mahasiswa tingkat akhir. Pertama ketika seorang mahasiswa program doktoral Ilmu Bahasa di Universitas Indonesia membutuhkan koresponden dalam menyelesaikan disertasinya. Kala itu tema yang diusung adalah tentang seberapa besar tingkat literasi remaja. Meski sudah punya satu anak, aku dianggap masih remaja. Mungkin dia tertipu dengan foto profil di akun sosial media. Kala itu hadiah yang diberikan berupa buku. Tentunya bertemakan remaja. Terima kasih, Mba Intan.

Komunikasi lanjut tentang thesis bagi mahasiswa PhD di Sopron University, Rosita. Mahasiswa asal Indonesia ini mengambil tema koperasi bagi petani di Hungaria. Salah satu informasi yang dia butuhkan adalah sejarah akan rural financial institution (RFI) yang sekarang dikenal dengan nama Badan Kredit Desa (BKD). Kebetulan sejarah itu bermula di Purwokerto pada 1896. Dia senang mendengar cerita tentang BKD di Banyumas sekarang. Namun sekarang, mungkin karena kesibukannya, komunikasi sudah terhenti.

Qonita mengaku mendapatkan nomor kontak dari Mas Budiman Sudjatmiko. Dia disarankan oleh teman sejawat di OJK untuk menghubungi Mas Budiman. Lalu Mas Budiman menyarankan untuk menghubungi aku.

Thesis tentang public policy dengan adanya BUMDesa menjadi tema yang dia angkat. Kebetulan atas saran dari beberapa pihak, dia memilih Banyumas, sebagai salah satu yang disasar. Komunikasi menjadi lebih cair karena dia pernah sekolah di SMAN 1 Purwokerto, dan asli dari Bumiayu.

Efek Baik

Ternyata menjadi koresponden menjadi hal yang menyenangkan. Meski secara materi tidak mendapat apa-apa, akan tetapi keinginan untuk belajar menjadi lebih besar. Saat Mba Intan Savitri meminta informasi, mau tidak mau aku harus banyak membaca. Akhirnya membeli buku menjadi hobi. Dalam satu bulan, sebelum pandemi covid19, wajib rasanya beli minimal 1 (buku) judul buku.

Saat Bu Rosita bercerita tentang perlunya lembaga keuangan berbasis desa dan sentuhan fintech di Hungaria, aku tergerak. Banyak jurnal dengan tema rural financial institution segera aku unduh. Bangga rasanya, ternyata banyak penelitian tentang keberadaan RFI yang berkiblat ke Indonesia. Ini menjadi hal yang miris saat pemerintah Indonesia kurang respek terhadap keberadaan RFI. Meski secara empiris mampu membantu pelaku usaha kecil dalam bertahan hidup. BKD harus bertransformasi, UPK eks PNPM MP masih di PHP, pengajuan ijin LKM terkendala regulasi, koperasi simpan pinjam pun terstigma negatif.

Penelitian Qonita tentang BUMDesa dilihat dari perspektif pemerintah, maka perlu dievaluasi capaiannya terhadap indikator kemiskinan. Apakah sudah ada perubahan tentang kemiskinan bagi masyarakat. Jika belum kenapa dan bagaimana pemerintah harus berperan dalam menjadikan BUMDesa sebagai salah satu tools dalam reduksi angka kemiskinan.

 

Penghargaan Buat Anak-Anak

0
Syamil Pejuang Subuh

Baru saja istri menyodori laporan hasil mid-semester milik Syamil. Ada pita penghargaan bertuliskan “Pejuang Subuh”. Syamil menjadi salah satu penerima penghargaan itu. Pasalnya dia selalu ikut shalat subuh di awal waktu. Kategori awal waktu yang ditetapkan guru adalah dilakukan dan disetorkan fotonya sebelum jam 5 (lima) pagi. Alhamdulillah Syamil rutin melakukannya. Meski tetap harus dibangunkan dengan berbagai rayuan.

Ini sebuah kemajuan. Pasalnya sebelum ada iming-iming penghargaan dari guru, dia kerap bangun siang. Saat teman-teman sudah mulai absen, dia masih tidur. Dia baru bangun sekitar pukul 06.30 WIB. Setelah itu mandi, ganti baju, foto buat absen, main game, shalat dhuha, dan sarapan kalau lauknya cocok. Urutan kegiatan itu, kecuali main game, istri mesti mengingkatkan dengan sedikit meninggikan volume suara.

Evaluasi Mid-Semester

Hasil evaluasi mid-semester, Syamil mendapat nilai Sangat Baik (A) untuk dua mata pelajaran, yakni Al Qur’an Hadits dan Bahasa Inggris. Dia memang selalu semangat untuk belajar bahasa Inggris. Berkali-kali aku memotivasi dia untuk belajar bahasa Inggris. Pasalnya dia bercita-cita untuk lanjut kuliah di Amerika Serikat. Semoga dikabulkan. Aamiin ya robbal’alamiin.

Nilai Baik (B) ada di 8 (delapan) mata pelajaran, satu nilai Cukup Baik (C), dan 2 (dua) mata pelajaran mendapat nilai D (perlu bimbingan). Secara keseluruhan dari 13 (tiga belas) mata pelajaran dia mendapat rata-rata Baik (B). Total rata-rata nilai 87, masuk rentang (83 ≤ B ≤ 92). Hasil yang cukup memuaskan dan seimbang dengan teriakan sang Emak saat tugas sudah dikirim via grup WA.

Belajar di rumah

Pandemi covid19 yang tak jua berakhir membuat anak-anak mesti belajar di rumah. Beberapa waktu lalu, para wali murid sudah menandatangani pernyataan mengijinkan pihak sekolah untuk kelas tatap muka. Akan tetapi karena kondisi masih belum memungkinkan, atas kebijakan Pemda Banyumas juga, akhirnya diurungkan. Ini artinya para orang tua mesti menambah stok sabarnya.

Seperti kebanyakan anak-anak, Syamil pun ogah-ogahan mengerjakan tugas. Apalagi jika HP sudah ditangan. Main game. Tak jarang pula istri mesti keluar mencari-carinya. Bermain bersama teman-teman, yang mungkin orang tuanya pun gemas bukan main. Bukannya mengerjakan tugas malah bermain-main. Bukan hal yang aneh, terkadang anak justru ‘manut’ sama gurunya daripada orang tuanya.

Penghargaan

Meski begitu, Syamil termasuk anak yang bisa mengerjakan tugas dengan cukup baik. Dia mendapatkan beberapa penghargaan dari guru kelasnya. Penghargaan itu antara lain: Pejuang Subuh, Aktif Kegiatan Pembelajaran, Active Qur’ani, dan Active Literacy. Tentu bukan hanya Syamil. Teman-teman satu kelas juga ada yang mendapatkan pula.

Namun, terobosan ini cukup ampuh. Pasalnya saat diperlihatkan piagam penghargaan dengan format PDF yang dibagikan di grup WA, Syamil selalu berseri-seri.

Bagi anak-anak penghargaan terkait kebiasaannya, menjadi mood booster. Dia akan lebih rajin menyelesaikan tugas saat dia tahu pekerjaannya dihargai. Meski hanya sehelai kertas. Dia merasa diakui kebisaannya. Padahal mungkin itu terlihat sepele. Tapi justru mengena.

Hal yang sering dia tanyakan adalah siapa temannya yang juga dapat. Setelah disebutkan oleh istri, dia lalu komentar. Istri hanya menimpali: “yang penting Syamil. Jangan ngiri sama temennya”. Sejurus kemudian dia pasti minta uang buat jajan sebagai kompensasinya.

Pembiasaan Baik

Adanya pembiasaan baik dari sekolah menjadi pola pendidikan yang berbeda. Pembiasaan baik dan adab lebih diutamakan. Pendapat para ulama bahwa “Adab lebih utama dari Ilmu”, benar-benar dipraktikkan. Anak-anak dilatih untuk mendahulukan Adab (budi pekerti) terlebih dahulu. Bukan sedang mengesampingkan soal prestasi akademik, tapi sepintar-pintarnya orang yang berilmu, tidak akan ada gunanya jika Adab (atitude) nya jelek.

Kita juga pasti tahu bahwa akademik bukan top ten faktor kesuksesan seseorang. Hasil penelitian Thomas J. Stanley, menyebutkan bahwa faktor IQ (kecerdasan) masuk rangking 21 (dua puluh satu), masuk universitas top rangking 23 (dua puluh tiga), dan lulus dengan nilai terbaik masuk rangking 30 (tiga puluh), sebagai faktor yang berpengaruh terhadap kesuksesan. Sedangkan rangking 1 (satu) faktor yang berpengaruh terhadap kesukesan adalah kejujuran. Pembiasaan baik berupa kejujuran menjadi hal penting.

Selain itu, saya juga percaya bahwa anak yang hidup bahagia pada masa kecil, akan lebih berprestasi pada saat dewasa. Tidak dibebani dengan berbagai macam les atau kursus demi mengejar prestasi, menjadi salah satu faktor anak bisa hidup bahagia. Dia akan menikmati masa kecil untuk bermain. Hargai semua pencapaiannya agar dia bahagia.

Penghargaan Partiisipasi Pembelajaran
Penghargaan Active Qur’ani
Penghargaan Active Literacy

 

Membaca Hasil Penelitian Tentang Institusi Keuangan Desa

2
Logo BKD. Sumber: bkd.co.id

Awal mendapat tugas mencari jurnal hasil penelitian, tak tahu jurnal seperti apa yang baik. Asal cari, unduh, dan cetak jurnal sesuai kata kunci. Judul, substansi, metode, pembahasan, dan kesimpulan tak diperhatikan. Bingung dan sedikit pusing saat ditugasi untuk mereview jurnal. Apalagi mesti 10 (sepuluh) jurnal sekaligus. Lembur hingga tak tidur 24 (dua puluh empat) jam pernah dilalui. Al hasil jadi tahu bagaimana mereview jurnal dan menemukan ciri jurnal yang baik. Persoalan bahasa menjadi hal lain, karena mengandalkan google translate tak jarang tambah bikin pusing. Tata bahasa terjemahan masih harus diperbaiki.

Terbiasa

Lama kelamaan membaca jurnal menjadi hal yang menarik. Ini imbas dari tugas review 10 (sepuluh) jurnal itu. Ndilek, memang. Tips untuk mempelajari hal baru dari sesuatu yang diminati terbukti membawa keasyikan sendiri. Unduh berbagai jurnal yang terlintas disukai dengan kata kunci tertentu menjadi hobi. Klasifikasi dan pengumpulan dalam masing-masing folder pun mulai dilakukan. Soal membaca, nanti dulu. Karena tugas membuat jurnal penelitian sudah mendekati deadline.

Dari membaca banyak jurnal dan menemukan research gap, jadi lebih mengerti bahwa perbedaan pendapat itu biasa. Tidak perlu diperdebatkan. Andai merasa tidak setuju dengan sebuah pendapat, baiknya lakukan riset pula. Mungkin pendapat yang tidak setujui karena kita belum paham. Atau jika memang berbeda kesimpulan, setidaknya tersanding hasil dari penelitian juga. Bukan sekedar pendapat pribadi.

Bahkan apapun hasil riset kita, bersiaplah untuk terbantah dengan riset orang lain. Karena ruang dan waktu bisa berbeda. Ilmu selalu berkembang. Stagnan dengan pemahaman lama dari sebuah fenomena hanya menjadikan diri sulit berkembang dan mengikuti jaman.

Institusi Keuangan Desa

Jurnal yang sedang saya pelajari terkait institusi keuangan desa. Interaksi lama dengan pengelolaan dana Eks PNPM dan Badan Kredit Desa, menjadi alasan. Adakah hubungan positif dan atau signifikan antara institusi keuangan desa dengan kemiskinan. Mampukah keberadaannya mengurangi angka kemiskinan. Kemudian, bagaimana institusi keuangan desa tetap bertahan dengan kebiasaan buruk sebagian masyarakat pedesaan dan himpitan lembaga keuangan yang profesional. Apa yang harus dilakukan oleh institusi keuangan desa agar bisa menghidupi karyawan dan menciptakan corporate branding agar nasabah tetap loyal.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa ditemukan dari banyak hasil riset dalam jurnal dan dari berbagai belahan dunia. Terutama dari negara-negara berkembang dan dunia ketiga. Bangladesh, India, China, negara-negara Afrika, Eropa Timur, Amerika Latin, dan termasuk Indonesia, menjadi tempat riset. Hasilnya pun beragam. Namun bisa ditarik kesimpulan bahwa institusi keuangan desa memiliki dampak positif terhadap pengurangan kemiskinan.

Sejarah Institusi Keuangan Desa

Hal yang menarik dan membanggakan adalah sejarah institusi keuangan desa banyak yang berkiblat dari tahun 1895 dan 1896 di Purwokerto, Indonesia, yakni BRI dan Badan Kredit Desa (dulu lumbung Desa).

Jacob Yaron, peneliti desa dari Bank Dunia menuliskan praktik baik BRI Unit Desa (1992). Menurut beliau, BRI Unit Desa mampu menjaga kesinambungan dalam penyaluran kredit kepada petani agar tetap bertahan dan terbukti paling efisien saat itu. Jika dibandingkan dengan institusi keuangan lainnya, BRI Unit Desa mampu menurutkan bunga riil dan berhasil menekan tingkat indeks subsidi, yakni – 43% dari Program Bimmas (Bimbingan Massal, 1969). Dimana subsidi yang diberikan oleh pemerintah kala itu justru minus atau tidak dipakai.

Praktik baik manajemen Badan Kredit Desa yang awalnya untuk menolong para petani pun dijadikan rujukan peneliti lain. Pasalnya pola pembayaran yang dilakukan menyesuaikan siklus keuangan petani, dan konversi pengembalian pokok dan jasa atau bagi hasil disesuaikan dengan komoditi yang dihasilkan. Tidak memberatkan dan mencirikan khas kedesaan, yakni gotong royong dan tolong menolong.

 

Top