Beranda blog

Penghargaan Buat Anak-Anak

0
Syamil Pejuang Subuh

Baru saja istri menyodori laporan hasil mid-semester milik Syamil. Ada pita penghargaan bertuliskan “Pejuang Subuh”. Syamil menjadi salah satu penerima penghargaan itu. Pasalnya dia selalu ikut shalat subuh di awal waktu. Kategori awal waktu yang ditetapkan guru adalah dilakukan dan disetorkan fotonya sebelum jam 5 (lima) pagi. Alhamdulillah Syamil rutin melakukannya. Meski tetap harus dibangunkan dengan berbagai rayuan.

Ini sebuah kemajuan. Pasalnya sebelum ada iming-iming penghargaan dari guru, dia kerap bangun siang. Saat teman-teman sudah mulai absen, dia masih tidur. Dia baru bangun sekitar pukul 06.30 WIB. Setelah itu mandi, ganti baju, foto buat absen, main game, shalat dhuha, dan sarapan kalau lauknya cocok. Urutan kegiatan itu, kecuali main game, istri mesti mengingkatkan dengan sedikit meninggikan volume suara.

Evaluasi Mid-Semester

Hasil evaluasi mid-semester, Syamil mendapat nilai Sangat Baik (A) untuk dua mata pelajaran, yakni Al Qur’an Hadits dan Bahasa Inggris. Dia memang selalu semangat untuk belajar bahasa Inggris. Berkali-kali aku memotivasi dia untuk belajar bahasa Inggris. Pasalnya dia bercita-cita untuk lanjut kuliah di Amerika Serikat. Semoga dikabulkan. Aamiin ya robbal’alamiin.

Nilai Baik (B) ada di 8 (delapan) mata pelajaran, satu nilai Cukup Baik (C), dan 2 (dua) mata pelajaran mendapat nilai D (perlu bimbingan). Secara keseluruhan dari 13 (tiga belas) mata pelajaran dia mendapat rata-rata Baik (B). Total rata-rata nilai 87, masuk rentang (83 ≤ B ≤ 92). Hasil yang cukup memuaskan dan seimbang dengan teriakan sang Emak saat tugas sudah dikirim via grup WA.

Belajar di rumah

Pandemi covid19 yang tak jua berakhir membuat anak-anak mesti belajar di rumah. Beberapa waktu lalu, para wali murid sudah menandatangani pernyataan mengijinkan pihak sekolah untuk kelas tatap muka. Akan tetapi karena kondisi masih belum memungkinkan, atas kebijakan Pemda Banyumas juga, akhirnya diurungkan. Ini artinya para orang tua mesti menambah stok sabarnya.

Seperti kebanyakan anak-anak, Syamil pun ogah-ogahan mengerjakan tugas. Apalagi jika HP sudah ditangan. Main game. Tak jarang pula istri mesti keluar mencari-carinya. Bermain bersama teman-teman, yang mungkin orang tuanya pun gemas bukan main. Bukannya mengerjakan tugas malah bermain-main. Bukan hal yang aneh, terkadang anak justru ‘manut’ sama gurunya daripada orang tuanya.

Penghargaan

Meski begitu, Syamil termasuk anak yang bisa mengerjakan tugas dengan cukup baik. Dia mendapatkan beberapa penghargaan dari guru kelasnya. Penghargaan itu antara lain: Pejuang Subuh, Aktif Kegiatan Pembelajaran, Active Qur’ani, dan Active Literacy. Tentu bukan hanya Syamil. Teman-teman satu kelas juga ada yang mendapatkan pula.

Namun, terobosan ini cukup ampuh. Pasalnya saat diperlihatkan piagam penghargaan dengan format PDF yang dibagikan di grup WA, Syamil selalu berseri-seri.

Bagi anak-anak penghargaan terkait kebiasaannya, menjadi mood booster. Dia akan lebih rajin menyelesaikan tugas saat dia tahu pekerjaannya dihargai. Meski hanya sehelai kertas. Dia merasa diakui kebisaannya. Padahal mungkin itu terlihat sepele. Tapi justru mengena.

Hal yang sering dia tanyakan adalah siapa temannya yang juga dapat. Setelah disebutkan oleh istri, dia lalu komentar. Istri hanya menimpali: “yang penting Syamil. Jangan ngiri sama temennya”. Sejurus kemudian dia pasti minta uang buat jajan sebagai kompensasinya.

Pembiasaan Baik

Adanya pembiasaan baik dari sekolah menjadi pola pendidikan yang berbeda. Pembiasaan baik dan adab lebih diutamakan. Pendapat para ulama bahwa “Adab lebih utama dari Ilmu”, benar-benar dipraktikkan. Anak-anak dilatih untuk mendahulukan Adab (budi pekerti) terlebih dahulu. Bukan sedang mengesampingkan soal prestasi akademik, tapi sepintar-pintarnya orang yang berilmu, tidak akan ada gunanya jika Adab (atitude) nya jelek.

Kita juga pasti tahu bahwa akademik bukan top ten faktor kesuksesan seseorang. Hasil penelitian Thomas J. Stanley, menyebutkan bahwa faktor IQ (kecerdasan) masuk rangking 21 (dua puluh satu), masuk universitas top rangking 23 (dua puluh tiga), dan lulus dengan nilai terbaik masuk rangking 30 (tiga puluh), sebagai faktor yang berpengaruh terhadap kesuksesan. Sedangkan rangking 1 (satu) faktor yang berpengaruh terhadap kesukesan adalah kejujuran. Pembiasaan baik berupa kejujuran menjadi hal penting.

Selain itu, saya juga percaya bahwa anak yang hidup bahagia pada masa kecil, akan lebih berprestasi pada saat dewasa. Tidak dibebani dengan berbagai macam les atau kursus demi mengejar prestasi, menjadi salah satu faktor anak bisa hidup bahagia. Dia akan menikmati masa kecil untuk bermain. Hargai semua pencapaiannya agar dia bahagia.

Penghargaan Partiisipasi Pembelajaran
Penghargaan Active Qur’ani
Penghargaan Active Literacy

 

Membaca Hasil Penelitian Tentang Institusi Keuangan Desa

2
Logo BKD. Sumber: bkd.co.id

Awal mendapat tugas mencari jurnal hasil penelitian, tak tahu jurnal seperti apa yang baik. Asal cari, unduh, dan cetak jurnal sesuai kata kunci. Judul, substansi, metode, pembahasan, dan kesimpulan tak diperhatikan. Bingung dan sedikit pusing saat ditugasi untuk mereview jurnal. Apalagi mesti 10 (sepuluh) jurnal sekaligus. Lembur hingga tak tidur 24 (dua puluh empat) jam pernah dilalui. Al hasil jadi tahu bagaimana mereview jurnal dan menemukan ciri jurnal yang baik. Persoalan bahasa menjadi hal lain, karena mengandalkan google translate tak jarang tambah bikin pusing. Tata bahasa terjemahan masih harus diperbaiki.

Terbiasa

Lama kelamaan membaca jurnal menjadi hal yang menarik. Ini imbas dari tugas review 10 (sepuluh) jurnal itu. Ndilek, memang. Tips untuk mempelajari hal baru dari sesuatu yang diminati terbukti membawa keasyikan sendiri. Unduh berbagai jurnal yang terlintas disukai dengan kata kunci tertentu menjadi hobi. Klasifikasi dan pengumpulan dalam masing-masing folder pun mulai dilakukan. Soal membaca, nanti dulu. Karena tugas membuat jurnal penelitian sudah mendekati deadline.

Dari membaca banyak jurnal dan menemukan research gap, jadi lebih mengerti bahwa perbedaan pendapat itu biasa. Tidak perlu diperdebatkan. Andai merasa tidak setuju dengan sebuah pendapat, baiknya lakukan riset pula. Mungkin pendapat yang tidak setujui karena kita belum paham. Atau jika memang berbeda kesimpulan, setidaknya tersanding hasil dari penelitian juga. Bukan sekedar pendapat pribadi.

Bahkan apapun hasil riset kita, bersiaplah untuk terbantah dengan riset orang lain. Karena ruang dan waktu bisa berbeda. Ilmu selalu berkembang. Stagnan dengan pemahaman lama dari sebuah fenomena hanya menjadikan diri sulit berkembang dan mengikuti jaman.

Institusi Keuangan Desa

Jurnal yang sedang saya pelajari terkait institusi keuangan desa. Interaksi lama dengan pengelolaan dana Eks PNPM dan Badan Kredit Desa, menjadi alasan. Adakah hubungan positif dan atau signifikan antara institusi keuangan desa dengan kemiskinan. Mampukah keberadaannya mengurangi angka kemiskinan. Kemudian, bagaimana institusi keuangan desa tetap bertahan dengan kebiasaan buruk sebagian masyarakat pedesaan dan himpitan lembaga keuangan yang profesional. Apa yang harus dilakukan oleh institusi keuangan desa agar bisa menghidupi karyawan dan menciptakan corporate branding agar nasabah tetap loyal.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa ditemukan dari banyak hasil riset dalam jurnal dan dari berbagai belahan dunia. Terutama dari negara-negara berkembang dan dunia ketiga. Bangladesh, India, China, negara-negara Afrika, Eropa Timur, Amerika Latin, dan termasuk Indonesia, menjadi tempat riset. Hasilnya pun beragam. Namun bisa ditarik kesimpulan bahwa institusi keuangan desa memiliki dampak positif terhadap pengurangan kemiskinan.

Sejarah Institusi Keuangan Desa

Hal yang menarik dan membanggakan adalah sejarah institusi keuangan desa banyak yang berkiblat dari tahun 1895 dan 1896 di Purwokerto, Indonesia, yakni BRI dan Badan Kredit Desa (dulu lumbung Desa).

Jacob Yaron, peneliti desa dari Bank Dunia menuliskan praktik baik BRI Unit Desa (1992). Menurut beliau, BRI Unit Desa mampu menjaga kesinambungan dalam penyaluran kredit kepada petani agar tetap bertahan dan terbukti paling efisien saat itu. Jika dibandingkan dengan institusi keuangan lainnya, BRI Unit Desa mampu menurutkan bunga riil dan berhasil menekan tingkat indeks subsidi, yakni – 43% dari Program Bimmas (Bimbingan Massal, 1969). Dimana subsidi yang diberikan oleh pemerintah kala itu justru minus atau tidak dipakai.

Praktik baik manajemen Badan Kredit Desa yang awalnya untuk menolong para petani pun dijadikan rujukan peneliti lain. Pasalnya pola pembayaran yang dilakukan menyesuaikan siklus keuangan petani, dan konversi pengembalian pokok dan jasa atau bagi hasil disesuaikan dengan komoditi yang dihasilkan. Tidak memberatkan dan mencirikan khas kedesaan, yakni gotong royong dan tolong menolong.

 

Mengabadikan Momen Pemantik Semangat (Pemuatan Sosok di Kompas)

2

Menemukan koran versi cetak sekarang tidak mudah. Mungkin karena pembaca nya lebih suka versi online. Mungkin juga karena memang minat baca masyarakat yang tetap masih rendah. Hingga kini jualan koran cetak sulit laku.

Padahal dulu saat masih berjualan koran, pendapatan sehari rata-rata lebih banyak dari upah harian kuli bangunan. Pilihan sumber berita memang masih jarang kala itu. Anggapan bahwa orang yang suka baca koran adalah kaum terpelajar, mungkin alasan lain.

Cerita nya saat dikabari bahwa profilku sudah naik cetak, maka hari Selasa (23 Juni 2020) segera agendakan mencari koran. Terlebih saat teman-teman baik di grup WA, japri, atau langsung telpon memberi selamat. Rasanya tambah “gemrungsung”. Namun urung dilakukan. Kunjungan tamu guna monitoring mesti disambut dan berdiskusi guna perbaikan ke depan. Kemudian lanjut pada pekerjaan. Singkat cerita hingga sore menjelang Maghrib baru bisa keluar mencari koran.

Beberapa titik penjual koran yang aku tahu sudah dikunjungi. Semua kosong, bahkan dua titik sudah berjualan. Mungkin karena tidak laku. Kasihan.

Pilihan terakhir di Supermarket dimana dulu aku pernah bekerja. Pun kosong. Lalu ditunjukkan ke sebelah Kantor Pos Purwokerto. Sama juga hasilnya. Coba ke agensi, ternyata sudah tutup. Akhirnya kembali ke konter di Supermarket dan minta tolong dicarikan.

Alhamdulillah, keesokan harinya diberi kabar sudah ada. Itu pun hanya satu eksemplar. Tak mengapa.

Profil dalam rubrik Sosok di harian Kompas (23 Juni 2020) perlu disimpan. Paling tidak buat menyemangati diri dan teladan bagi ketiga buah hati. Bahwa kebahagiaan dan rejeki akan kita tuai saat bekerja bukan hanya untuk diri sendiri. Bekerja untuk kebahagiaan orang lain, justru menaikkan indeks kebahagiaan dan keberkahan rejeki. Karena Allah SWT tak pernah tidur.

Insya Allah.

Kompas, Selasa, 23 Juni 2020 versi PDF (halaman 16)

Menguatkan Masyarakat untuk Tetap Berkarya

0

Mungkin apa yang semula dicita-citakan belum terwujud. Akan tetapi, membantu menginisiasi, mengawal, menguatkan, dan konsisten mendampingi menjadi ikrar yang tetap mesti dilakukan. Keinginan mewujudkan Taman Eduwisata “Edi Peni” yang diintegrasikan dengan wisata Watumeja di Tumiyang masih dijaga. Harapan dan optimisme itu tetap ada. Pun akan halnya dengan pelaku, Pak Rawin, warga Desa Tumiyang Kec. Kebasen Banyumas.

Sebagai seorang petani tulen yang juga mantan Tim Pengelola Kegiatan (TPK) PNPM, dia terbukti tangguh. Kegagalan hanya kerikil kecil dalam menjalani kehidupan. Baginya, belum terwujudnya asa lama, hanya butuh kesabaran dan kecerdasan untuk tetap bertahan dan berinovasi. Optimisme tetap terpancar saat berdiskusi, tak terlihat penyesalan atau keluhan. Sesekali tertawa dalam obrolan serius, menandakan dia tetap ‘bombong’.

Tanaman pepaya varietas ‘Kalifornia’ yang dia tanam tidak berbuah seperti yang diharapkan. Kena virus. Alhasil panennya pun tidak maksimal. Estimasi pendapatan menjelma menjadi angka-angka semata. Pengalaman dan kecerdasan sebagai bentuk manajemen resiko sudah dilakukan. Pagar di se-keliling sawah yang digarap untuk pepaya, ditanami sayuran pare, kemudian diganti dengan buah naga. Jadi, meski hasil tanaman pepaya tidak maksimal, bisa sedikit tertutupi dari hasil penjualan pare dan atau buah naga. Biar harga buah naga sekarang pun anjlok.

Bersama Pak Rawin

Integrasi Bermain Peran

Pemikiran dari pengalamannya bahwa sawah di jalan Reboisasi yang posisinya diatas jalur irigasi, selalu tidak imbang hasilnya jika ditanami padi. Akan tetapi, penggarap sawah masih setia dengan tanaman padi, meski hasilnya tidak imbang. Inovasi yang dicontohkan dengan tanaman pepaya belum berhasil. Sedianya ingin diberikan contoh nyata, namun apa daya, hasil belum optimal.

Pemikiran yang hendak dibuktikan dengan karya nyata perlu terus diupayakan. Mengubah kebiasaan orang desa, meski tidak menjamin mau berubah, tentu dengan hasil nyata terlihat. Ini yang sedang diupayakan. Apalagi jika penggantian jenis komoditas pertanian bisa dijadikan destinasi wisata lokal, tentu menjadi daya tarik sendiri.

Sebagai pelaku pemberdayaan yang berperan sebagai agen perubahan, perlu membagi peran. Kekuatan ilmu pengetahuan, dan dana pemberdayaan dari surplus tahunan, mesti diimbangi dengan menumbuhkan champion-champion di masyarakat. Salah satu yang didorong adalah Rawin, untuk Desa Tumiyang. Apakah sudah berhasil? Belum. Karena baru beberapa gelintir orang yang meniru pola pertaniannya. Integrasi peran ini memang perlu sinergi multipihak.

Panen buah naga dengan pupuk semi organik

Pendampingan Guna Penguatan

Senang rasanya jika melakukan pendampingan kepada orang berkarakter demikian. Kerja keras yang kadang tak sejalan dengan hasil, tetap disikapi secara positif. Tidak cepat putus asa. Selalu memiliki harapan, berpikir, dan bertindak nyata untuk meminimalisir kerugian.

Aneka sayuran dan sekarang mencoba palawija, coba dia tanam. Disamping kesibukannya mengurus lahan garapan sendiri, masih tetap bertanggung jawab dengan kontrak kerjasama dengan Unit Usaha Bersama Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Kec. Kebasen. Lahan garapan dia upayakan betul, tidak serta merta menyerahkan begitu saja. Tentu dukungan dari istri menguatkan upayanya.

Orang dengan tipe demikian, meski tetap harus didampingi, tak jarang justru ikut memunculkan gagasan baru. Maka, kunjungan ke rumah dan tempat usahanya, membawa aura positif. Pendampingan yang secara berkala dilakukan, membuat gagasan-gagasan baru muncul. Semisal, menghidupkan kembali wisata Watumeja, yang meredup akhir-akhir ini.

Merah merona menggoda
Taman Agrowisata “Edi Peni” Desa Tumiyang – Kebasen
Lokasi kebun di lihat dari sisi barat
Lokasi kebun di lihat dari sisi timur
Melihat ke selatan, jalan menuju wisata Watumeja

 

 

Memainkan Value Chain pada Pemberdayaan Desa

1
Menerima tamu dari Tim BKAD Rintisan Cilacap

Setelah mengikuti pertemuan rutin Paguyuban Srikandi (Ketua Kelompok SPP se-Kec Kebasen), agenda dilanjutkan ke kantor BUMDesa Bersama Banyumas dalam rangka menerima kunjungan belajar dari Tim BKAD Rintisan Kab. Cilacap (Kamis, 05 Maret 2020).

Menerima tamu dari Tim BKAD Rintisan Cilacap

Pada pertemuan Srikandi, disampaikan hasil kunjungan belajar ke Bogor pada bulan Februari. Dimana wisata desa itu bisa dipoles dari hal-hal yang kelihatan sepele. Yang penting kemasan, branding, dan frammingnya. Membahas tentang kebijakan mekanisme penyaluran pinjaman, dan rencana pelatihan dan kunjungan kelompok SPP.

Pertemuan Srikandi

Saat di kantor BUMDesa Bersama Banyumas ikut berbicara tentang pola dari tahapan pembentukan BUMDesa Bersama. Proses kelembagaan didahulukan sebelum action bisnis BUMDesa Bersama. Pelbagai perangkat pendukung dan model kerjasama bisa dibicarakan paska terbentuk nya BUMDesa Bersama Cilacap. PR terdekat adalah menyelesaikan Musdes di masing-masing desa.

Tamu dari Cilacap
Kalau kumpul itu wajib makan… hihi….

Menemui Tamu Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kab. Kudus

0
Berbagi pengalaman

Selayaknya tuan rumah menjamu tamu, maka panggilan mendadak kami iya kan. Beruntung saya dan Dodiet Prasetyo lagi berada di seputaran Purwokerto. Kami mendampingi Oentung Soegiarto selaku Kabid Pemberdayaan Ekonomi dan Teknologi Tepat Guna, bercerita tentang BUMDesa Bersama Banyumas dan transformasi BKD, pada Rabu (12 Februari 2020).

Diskusi serius nan santai

Adalah Kepala Dinas PMD Kab. Kudus, Drs. Adhi Sadono Murwanto, MM., dan Tim yang ditemui. Pendampingan, pembinaan, dan pengawasan terhadap BUMDesa, BUMDesa Bersama, dan transformasi Badan Kredit Desa menjadi hal yang ditanyakan. Pelbagai proses dan kegiatan di Banyumas yang beraneka rupa menjadi hal yang unik. Banyak hal yang bisa dipelajari tatkala beragam, bukan seragam.

Berbagi pengalaman

Bertempat di ruang kerja dan didampingi Kepala Dinsospermasdes Kab. Banyumas, Kartiman, SH.,M.Hum, cerita pun mengalir. Selama 3 tahun berproses, dari sekitar 62 BKD yang aktif, ada yang memilih menjadi BUMDesa, Lembaga Keuangan Mikro, dan unit usaha BUMDesa Bersama. Namun demikian, tahapan alur dan produk hukum yang memayungi, hampir sama.

Menyimak feedback

Diskusi tentang kondisi BUMDesa baik di Kudus maupun Banyumas tak jauh berbeda. Meski diakui Banyumas lebih variatif. Momentum pergantian kepemimpinan di desa baru-baru ini di Kudus akan dioptimalkan. Beliau akan memberikan pencerahan kepada para Kades bahwa melalui BUMDesa, desa akan lebih prospektif, meski memang butuh proses.

Berbagi pengalaman
Top