Beranda blog

Mengabadikan Momen Pemantik Semangat (Pemuatan Sosok di Kompas)

2

Menemukan koran versi cetak sekarang tidak mudah. Mungkin karena pembaca nya lebih suka versi online. Mungkin juga karena memang minat baca masyarakat yang tetap masih rendah. Hingga kini jualan koran cetak sulit laku.

Padahal dulu saat masih berjualan koran, pendapatan sehari rata-rata lebih banyak dari upah harian kuli bangunan. Pilihan sumber berita memang masih jarang kala itu. Anggapan bahwa orang yang suka baca koran adalah kaum terpelajar, mungkin alasan lain.

Cerita nya saat dikabari bahwa profilku sudah naik cetak, maka hari Selasa (23 Juni 2020) segera agendakan mencari koran. Terlebih saat teman-teman baik di grup WA, japri, atau langsung telpon memberi selamat. Rasanya tambah “gemrungsung”. Namun urung dilakukan. Kunjungan tamu guna monitoring mesti disambut dan berdiskusi guna perbaikan ke depan. Kemudian lanjut pada pekerjaan. Singkat cerita hingga sore menjelang Maghrib baru bisa keluar mencari koran.

Beberapa titik penjual koran yang aku tahu sudah dikunjungi. Semua kosong, bahkan dua titik sudah berjualan. Mungkin karena tidak laku. Kasihan.

Pilihan terakhir di Supermarket dimana dulu aku pernah bekerja. Pun kosong. Lalu ditunjukkan ke sebelah Kantor Pos Purwokerto. Sama juga hasilnya. Coba ke agensi, ternyata sudah tutup. Akhirnya kembali ke konter di Supermarket dan minta tolong dicarikan.

Alhamdulillah, keesokan harinya diberi kabar sudah ada. Itu pun hanya satu eksemplar. Tak mengapa.

Profil dalam rubrik Sosok di harian Kompas (23 Juni 2020) perlu disimpan. Paling tidak buat menyemangati diri dan teladan bagi ketiga buah hati. Bahwa kebahagiaan dan rejeki akan kita tuai saat bekerja bukan hanya untuk diri sendiri. Bekerja untuk kebahagiaan orang lain, justru menaikkan indeks kebahagiaan dan keberkahan rejeki. Karena Allah SWT tak pernah tidur.

Insya Allah.

Kompas, Selasa, 23 Juni 2020 versi PDF (halaman 16)

Menguatkan Masyarakat untuk Tetap Berkarya

0

Mungkin apa yang semula dicita-citakan belum terwujud. Akan tetapi, membantu menginisiasi, mengawal, menguatkan, dan konsisten mendampingi menjadi ikrar yang tetap mesti dilakukan. Keinginan mewujudkan Taman Eduwisata “Edi Peni” yang diintegrasikan dengan wisata Watumeja di Tumiyang masih dijaga. Harapan dan optimisme itu tetap ada. Pun akan halnya dengan pelaku, Pak Rawin, warga Desa Tumiyang Kec. Kebasen Banyumas.

Sebagai seorang petani tulen yang juga mantan Tim Pengelola Kegiatan (TPK) PNPM, dia terbukti tangguh. Kegagalan hanya kerikil kecil dalam menjalani kehidupan. Baginya, belum terwujudnya asa lama, hanya butuh kesabaran dan kecerdasan untuk tetap bertahan dan berinovasi. Optimisme tetap terpancar saat berdiskusi, tak terlihat penyesalan atau keluhan. Sesekali tertawa dalam obrolan serius, menandakan dia tetap ‘bombong’.

Tanaman pepaya varietas ‘Kalifornia’ yang dia tanam tidak berbuah seperti yang diharapkan. Kena virus. Alhasil panennya pun tidak maksimal. Estimasi pendapatan menjelma menjadi angka-angka semata. Pengalaman dan kecerdasan sebagai bentuk manajemen resiko sudah dilakukan. Pagar di se-keliling sawah yang digarap untuk pepaya, ditanami sayuran pare, kemudian diganti dengan buah naga. Jadi, meski hasil tanaman pepaya tidak maksimal, bisa sedikit tertutupi dari hasil penjualan pare dan atau buah naga. Biar harga buah naga sekarang pun anjlok.

Bersama Pak Rawin

Integrasi Bermain Peran

Pemikiran dari pengalamannya bahwa sawah di jalan Reboisasi yang posisinya diatas jalur irigasi, selalu tidak imbang hasilnya jika ditanami padi. Akan tetapi, penggarap sawah masih setia dengan tanaman padi, meski hasilnya tidak imbang. Inovasi yang dicontohkan dengan tanaman pepaya belum berhasil. Sedianya ingin diberikan contoh nyata, namun apa daya, hasil belum optimal.

Pemikiran yang hendak dibuktikan dengan karya nyata perlu terus diupayakan. Mengubah kebiasaan orang desa, meski tidak menjamin mau berubah, tentu dengan hasil nyata terlihat. Ini yang sedang diupayakan. Apalagi jika penggantian jenis komoditas pertanian bisa dijadikan destinasi wisata lokal, tentu menjadi daya tarik sendiri.

Sebagai pelaku pemberdayaan yang berperan sebagai agen perubahan, perlu membagi peran. Kekuatan ilmu pengetahuan, dan dana pemberdayaan dari surplus tahunan, mesti diimbangi dengan menumbuhkan champion-champion di masyarakat. Salah satu yang didorong adalah Rawin, untuk Desa Tumiyang. Apakah sudah berhasil? Belum. Karena baru beberapa gelintir orang yang meniru pola pertaniannya. Integrasi peran ini memang perlu sinergi multipihak.

Panen buah naga dengan pupuk semi organik

Pendampingan Guna Penguatan

Senang rasanya jika melakukan pendampingan kepada orang berkarakter demikian. Kerja keras yang kadang tak sejalan dengan hasil, tetap disikapi secara positif. Tidak cepat putus asa. Selalu memiliki harapan, berpikir, dan bertindak nyata untuk meminimalisir kerugian.

Aneka sayuran dan sekarang mencoba palawija, coba dia tanam. Disamping kesibukannya mengurus lahan garapan sendiri, masih tetap bertanggung jawab dengan kontrak kerjasama dengan Unit Usaha Bersama Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Kec. Kebasen. Lahan garapan dia upayakan betul, tidak serta merta menyerahkan begitu saja. Tentu dukungan dari istri menguatkan upayanya.

Orang dengan tipe demikian, meski tetap harus didampingi, tak jarang justru ikut memunculkan gagasan baru. Maka, kunjungan ke rumah dan tempat usahanya, membawa aura positif. Pendampingan yang secara berkala dilakukan, membuat gagasan-gagasan baru muncul. Semisal, menghidupkan kembali wisata Watumeja, yang meredup akhir-akhir ini.

Merah merona menggoda
Taman Agrowisata “Edi Peni” Desa Tumiyang – Kebasen
Lokasi kebun di lihat dari sisi barat
Lokasi kebun di lihat dari sisi timur
Melihat ke selatan, jalan menuju wisata Watumeja

 

 

Memainkan Value Chain pada Pemberdayaan Desa

1
Menerima tamu dari Tim BKAD Rintisan Cilacap

Setelah mengikuti pertemuan rutin Paguyuban Srikandi (Ketua Kelompok SPP se-Kec Kebasen), agenda dilanjutkan ke kantor BUMDesa Bersama Banyumas dalam rangka menerima kunjungan belajar dari Tim BKAD Rintisan Kab. Cilacap (Kamis, 05 Maret 2020).

Menerima tamu dari Tim BKAD Rintisan Cilacap

Pada pertemuan Srikandi, disampaikan hasil kunjungan belajar ke Bogor pada bulan Februari. Dimana wisata desa itu bisa dipoles dari hal-hal yang kelihatan sepele. Yang penting kemasan, branding, dan frammingnya. Membahas tentang kebijakan mekanisme penyaluran pinjaman, dan rencana pelatihan dan kunjungan kelompok SPP.

Pertemuan Srikandi

Saat di kantor BUMDesa Bersama Banyumas ikut berbicara tentang pola dari tahapan pembentukan BUMDesa Bersama. Proses kelembagaan didahulukan sebelum action bisnis BUMDesa Bersama. Pelbagai perangkat pendukung dan model kerjasama bisa dibicarakan paska terbentuk nya BUMDesa Bersama Cilacap. PR terdekat adalah menyelesaikan Musdes di masing-masing desa.

Tamu dari Cilacap
Kalau kumpul itu wajib makan… hihi….

Menemui Tamu Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kab. Kudus

0
Berbagi pengalaman

Selayaknya tuan rumah menjamu tamu, maka panggilan mendadak kami iya kan. Beruntung saya dan Dodiet Prasetyo lagi berada di seputaran Purwokerto. Kami mendampingi Oentung Soegiarto selaku Kabid Pemberdayaan Ekonomi dan Teknologi Tepat Guna, bercerita tentang BUMDesa Bersama Banyumas dan transformasi BKD, pada Rabu (12 Februari 2020).

Diskusi serius nan santai

Adalah Kepala Dinas PMD Kab. Kudus, Drs. Adhi Sadono Murwanto, MM., dan Tim yang ditemui. Pendampingan, pembinaan, dan pengawasan terhadap BUMDesa, BUMDesa Bersama, dan transformasi Badan Kredit Desa menjadi hal yang ditanyakan. Pelbagai proses dan kegiatan di Banyumas yang beraneka rupa menjadi hal yang unik. Banyak hal yang bisa dipelajari tatkala beragam, bukan seragam.

Berbagi pengalaman

Bertempat di ruang kerja dan didampingi Kepala Dinsospermasdes Kab. Banyumas, Kartiman, SH.,M.Hum, cerita pun mengalir. Selama 3 tahun berproses, dari sekitar 62 BKD yang aktif, ada yang memilih menjadi BUMDesa, Lembaga Keuangan Mikro, dan unit usaha BUMDesa Bersama. Namun demikian, tahapan alur dan produk hukum yang memayungi, hampir sama.

Menyimak feedback

Diskusi tentang kondisi BUMDesa baik di Kudus maupun Banyumas tak jauh berbeda. Meski diakui Banyumas lebih variatif. Momentum pergantian kepemimpinan di desa baru-baru ini di Kudus akan dioptimalkan. Beliau akan memberikan pencerahan kepada para Kades bahwa melalui BUMDesa, desa akan lebih prospektif, meski memang butuh proses.

Berbagi pengalaman

Ternyata yang Biasa Bisa Terlihat Luar Biasa

2
Praktik pembuatan minuman herbal

Meski sudah berlalu tiga tahun yang lalu, ternyata Bu Tati Kancaniyati masih ingat. Sesaat setelah mengisi materi, beliau berujar: “Sepertinya saya tak asing dengan Mas ini”. Memorinya masih kuat. Karena saat kami berujar: “kami memang pernah ke sini,” beliau pun menimpali bahwa waktu itu banyak peserta.

Kunjungan saat itu, ke Wisata Kampung Bisnis Tegalwaru, memang bersama rombongan teman-teman UPK (Unit Pengelola Kegiatan) eks PNPM MP dan BKAD (Badan Kerjasama Antar Desa) se-Kab. Banyumas. Ketertarikan ini pula yang membuat kami memutuskan kembali berkunjung ke sini.

Wisata Kampung Bisnis Tegalwaru

Para Kepala Desa di kec. Kebasen perlu diperkenalkan dengan konsep wisata kampung bisnis ini. Wisata tidak harus identik dengan spot selfi, keindahan alam, pemanfaatan sumberdaya alam, atau wisata hura-hura. Kunjungan ke UKM-UKM di desa pun bisa dikemas menjadi sebuah destinasi wisata.

Kunjungan ke UKM

Kunjungan pertama ke perkebunan tanaman herbal. Ibu Sutiah selaku pengelola menjelaskan dengan sumringah. Meski sudah berusia 72 tahun, suaranya masih terdengar jelas. Semangatnya pun kentara. Menurut pengakuannya, salah satu faktor penunjang kesehatan tentu mengkonsumsi yang herbal. Untuk mempermudah konsumsi, tersedia dalam bentuk kemasan kapsul hasil ekstrak tanaman herbal dengan berbagai khasiat.

Praktik pembuatan minuman herbal
Praktik pembuatan nata de Coco

Peternakan domba secara komunal menjadi destinasi kedua. Bau tak menghalangi para Bapak untuk berjalan-jalan di kandang yang berbentuk panggung. Terlihat ada beberapa mahasiswa dari IPB sedang praktik di sana. Satu kandang besar tersebut mampu menampung ratusan ekor domba. Karena menurut salah satu pengelolanya, masyarakat di Bogor dan sekitarnya lebih menyukai domba daripada kambing biasa.

Kandang domba komunal

Kunjungan terakhir di tempat workshop wayang golek (boneka). Pengrajinnya dalam membuat karakter wayang tak memakai sketsa. Semua sudah terimajinasi dalam otaknya. Ini yang unik dan tentu sulit ditiru. Pengerjaan yang membutuhkan waktu sekitar satu minggu hingga finishing, membuat harga pun cukup pas di kantong.

Tempat workshop wayang golek

Mengubah cara pandang

Tulisan tentang wisata kampung bisnis Tegalwaru pernah saya ulas di sini.

Tersihir dan Tersindir di Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru

Sebagai seorang socialpreneur, Bu Tati mengubah cara pandang orang desa. Kegiatan-kegiatan UKM di Tegalwaru disulap menjadi destinasi wisata dengan kemasan menarik. Bahkan, tak sedikit Kepala Desa yang berbisik: “begini sih ditempat kita banyak”.

Penjelasan tanaman herbal

Langsung aku timpali. Bedanya kalau di sini di kemas menjadi wisata bisnis, sedang ditempat kita dibiarkan begitu saja. Bagi kita yang terlihat biasa menjadi luar biasa saat mampu mengemasnya. Kemudian kepada Bu Kades Cindaga, aku berujar: “dengan Rumah Digital Desa, bisa kita viralkan potensi di Cindaga, Bu”.

Sentra jagung manis, perkebunan pepaya california di pinggir Serayu, jembatan Sukarno dan Suharto, serta Rumah Digital Desa Cindaga bisa di kemas. Kendaraan rombongan bisa ditempatkan di lapangan desa. Lalu setelah presentasi di balai desa, kita ajak keliling. Beliau Ibu Kades pun sepakat.

Juragan domba. Semoga 😊

Video kunjungan bisa dilihat di link berikut:

https://youtu.be/TmetdVR1pJs

 

Petualangan Baru Dimulai

1
Konsolidasi bersama Tim E-marketing Lab Terpadu FEB Unsoed

Membersamai Tim Rumah Digital Desa Purbalingga melakukan konsolidasi dengan Tim E-marketing Lab Terpadu FEB Unsoed Purwokerto (Sabtu, 11 Januari 2020). Keterlibatan akademisi guna mengakselerasi capacity building desa dibutuhkan.

Sebagai inkubator bisnis online, Lab Terpadu FEB Unsoed, menjadi salah satu aset yang harus dioptimalkan. Menyederhanakan bahasa ilmiah dan teknis sebagai penghalang transfer ilmu bagi orang desa menjadi PR.

Saya berbangga diri bisa terlibat didalamnya. Apalagi penanggung jawab program di Lab Terpadu FEB Unsoed tersebut adalah dosen saya di Magister Manajemen.

Semoga beliau hafal NIM saya. Eh.

Konsolidasi bersama Tim E-marketing Lab Terpadu FEB Unsoed
Santuy
Pembagian tugas Tim
Top