Beranda blog

Kemitraan Pengembangbiakan Sapi

0
Paparan dari BUMDesa Bersama Banyumas

Saking perhatiannya para pihak pada desa, sampai-sampai para peternak sapi dibawa ke hotel hanya untuk ngobrol soal sapi. Ini bukan sosialisasi atau pelatihan di akhir tahun guna target capaian serapan anggaran. Murni berbicara soal bisnis sapi. Dana yang digunakan pun bukan dari APBDes atau dana pemerintah lainnya, tapi pihak swasta.

Pertemuan yang diselenggarakan oleh bank Sinarmas Cabang Purwokerto kemarin (06/12/18) bertempat di Java Heritage Hotel Purwokerto. Ini masih serangkaian kegiatan tiga hari lalu saat ke Tegal. Melihat pengelolaan ternak sapi secara kolektif yang dilakukan oleh koperasi peternak di sana akan direplikasikan di sini. Kalau koperasi saja mampu, malu dong BUMDesa dan atau BUMDesa Bersama bilang susah. Meski memang harus rela berbagi antara peternak, manajemen, dan kreditur.

Sebelum melihat pengembangbiakan sapi, diskusi-diskusi kecil guna penjajakan kemitraan sudah dilakukan. Salah satu bank swasta nasional memiliki konsen di bidang itu. Pembiayaan usaha baik di bidang peternakan maupun pertanian di rasa pas untuk ditindaklanjuti. Karena selain plafon yang cukup besar, model bayar panen, dan jaminan yang tidak dibebankan pada peternak, menjadi sayang kalau tak dimanfaatkan.

Suasana ruang sosialisasi

Suplai daging

Menurut konsultan UMKM Bank Indonesia Cabang Purwokerto, Arif Sunowo, sebenarnya beberapa tahun terakhir, harga daging sapi relatif stabil. Namun kestabilan itu pun karena adanya impor. Sedang kemandirian suplai dari para peternak masih kurang. Sayangnya beliau tidak menyebutkan prosentase antara suplai daging lokal dan impor. Sebenarnya ini peluang sekaligus tantangan bagi peternak sapi.

Berdasarkan data yang disajikan, kebutuhan daging sapi nasional sekitar 663.290 Ton per tahun, sedang ketersediaan hanya 403.668 Ton. Untuk kabupaten Banyumas kebutuhan daging sapi di Banyumas sekitar 6.240 kg/hari atau kisaran 26 ekor per hari. Dengan asumsi masa penggemukan adalah 4 bulan, paling tidak dibutuhkan 3.120 ekor sapi dalam masa penggemukan untuk memenuhi kebutuhan tiap bulannya. Ini baru untuk konsumsi di Banyumas saja.

Kebutuhan akan semakin besar tatkala Idhul Adha. Untuk kabupaten Banyumas membutuhkan sekitar 5 ribu ekor, sedang wilayah Jawa Tengah membutuhkan sekitar 35.858 ekor sapi. Berdasarkan data dari Dewan Masjid Indonesia, kebutuhan akan sapi guna korban di Jakarta antara 6-7 ekor di tiap masjid. Padahal di Jakarta ada 3.047 masjid dan 6.000-an mushola. Ini peluang besar.

Nah, ketidakmampuan peternak menyediakan daging yang layak konsumsi, akan mengakibatkan keluarnya kebijakan impor. Andai suplai daging dari peternak cukup, semestinya impor daging sapi bisa dikurangi, atau bahkan dihentikan. Meski tak dapat dipungkiri, selalu saja ada mafia yang bermain dan oknum pejabat yang menyukai adanya impor.

Peserta sosialisasi

Program kemitraan

Program kemitraan yang dilakukan oleh bank swasta nasional tersebut memandang ini perlu. Mereka juga menyadari ketidakmampuan para peternak dalam mengakses dana perbankan. Faktor utama memang soal agunan. Oleh karenanya, pihak bank Sinarmas menawarkan program ini. Mereka menggandeng perusahaan berbadan hukum yang bertindak sebagai offtaker sapi sekaligus sebagai penjamin.

Salah satu tempat yang direkomendasikan untuk studi sudah kami kunjung yakni di Tegal. Koperasi peternak sapi di sana sudah mengakses pinjaman hingga 2 milyar. Dengan plafon pinjaman untuk bibit, pakan, biaya pemeliharaan, dan lain sebagainya sebanyak 25 juta per ekor sapi. Dana tersebut dikelola oleh koperasi sebagai pihak offtaker.

Oleh karena pihak offtaker yang dijadikan sebagai penjamin, maka diperbolehkan adanya perjanjian khusus antara pihak offtaker dengan peternak. Ini dilakukan sebagai langkah antisipasi kecurangan oleh peternak. Pun demikian dengan pengadaan bibit, pakan, perawatan, dan manajemen usahanya. Langkah ini dilakukan setelah berkaca dari program-program bantuan pemerintah yang nyaris tak berbekas. Para peternak, meski sudah ada aturan kelompok, sering menjual sapi atau binatang ternak lainnya tanpa sepengetahuan pengurus kelompok.

Saat ngendorse peternakan sapi

Peran desa

Peternak sapi identik dengan orang desa. Ini pula keunggulan mutlak orang desa terhadap orang kota. Meski tidak semua, namun desa memiliki kemampuan untuk memproduksi daging sapi, karena sumber daya berupa air, pakan alami maupun buatan, pemanfaatan limbah, lebih memungkinkan dilakukan di desa. Pesaing para peternak sapi hanya lah kebijakan impor dan mafia nya.

Akan tetapi kebiasaan orang desa, mereka masih beternak sapi sebagai sambilan saja. Yang meski ada selisih harga saat penjualan, sejatinya mereka tidak untung. Pola pemeliharaan tradisional dan tidak mengarah ke industri ternak sapi mengakibatkan tidak maksimalnya potensi genetik pada pertambahan daging sapi. Padahal jika peternak memiliki cukup ilmu tentang pembibitan, pembuatan pakan, dan pemeliharaan kesehatan akan memaksimalkan potensi genetik pada sapi yang mereka pelihara.

Untuk program penggemukan, misal untuk sapi jenis Bali dari bibit 200 kg bisa mencapai angka 350-400 kg, jenis PO dari 250 kg bisa mencapai 350-400 kg, sapi silangan hasil inseminasi buatan (IB) dari bobot 400 kg bisa mencapai 600-700 kg. Pun untuk jenis sapi impor dari bibitan 450 kg bisa mencapai bobot 550-600 kg asalkan ada tambahan insentif pakan.

Hadirnya BUMDesa Bersama Banyumas sebagai calon offtaker bagi para peternak sapi membawa angin segar. Misi pelayanan bisnis sosial memang menjadi amanah yang harus diembannya. Peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai sektor usaha rakyat perlu ditopang. Sejauh ini memang masih sulit bagi desa untuk berkiprah ketika skala bisnis sudah mencapai angka milyaran rupiah. Maka yang memungkinkan adalah BUMDesa Bersama.

Salam.

Paparan dari BUMDesa Bersama Banyumas

Aktifitas Seru Hari Ini

0
Para ketua kelompok Dana Bergulir Desa Cindaga

Seingatku aku tidak mimpi apa-apa semalam. Saat terlelap sekitar jam 12 malam di kamar belakang, aku dibangunkan istri. Pasalnya si kecil, Haidar, enggan ditinggal. Panas tubuh sejak Senin, sebenarnya sudah reda paska diurut. Namun masih kolokan. Tangisnya yang hampir tak terdengar, karena terus menangis hari-hari sebelumnya, ia lakukan saat hendak dilepas dari gendongan. Kami bergantian menjaga Haidar untuk keperluan pribadi pagi ini. Alhamdulillah dia sudah mau aku ajak. Selama 3 hari sejak Senin, dia enggan. Hanya istriku yang dia maui untuk menjaganya.

Tiga kali ke sekolah anak-anak

Sebelum mandi, Ata bilang kalau dia kehilangan buku tulis Matematika. Padahal PR-nya belum dikerjakan. Seperti biasa, hampir mewek. Aku suruh dia segera berbenah. Berangkat lebih awal, cari buku di kelas, dan kerjakan di sekolah. Manut.

Andai saja Syamil mau mandi lebih awal, mestinya bisa aku antarkan berbarengan. Namun beberapa hari ini dia sangat malas. Kemarin bahkan dia terlambat. Saat teman-temannya sedang shalat dhuha, dia baru sampai. Untung saja Bu Gita, guru kelasnya, sabar membimbingnya. Syamil baru aku antar setelahnya. Dia mau mandi setelah dirayu oleh istriku. Keinginannya minum susu dan mandi pakai air hangat diiyakan. Dua kebiasaan buruk, yakni pelupa dan kadang malas memang faktor T (turunan) dari bapaknya.

Saat mengantar Syamil, aku sempatkan menengok kelas Ata. Aku tanyakan soal PR Matematikanya. Dia jawab nggak bisa mengerjakan. Terpaksa aku sarankan mencontek PR temannya. Untuk mata pelajaran ini, dia memang lemah, beberapa kali ujian, Matematika sering remidi. Saat itu dia minta dibawakan gunting dan pensil warna. Ada tugas membuat poster. Aku bilang akan dibawakan sekalian berangkat kerja.

Ternyata air minum buat bekal mereka berdua pun ketinggalan. Aku antarkan sekalian. Ini yang kesekian kalinya aku mampir ke sekolah demi mengantar sesuatu buat mereka. Tak jarang bekal makan buat keduanya aku antar bareng keberangkatanku kerja. Kerepotan di pagi hari sering membuat istriku tak kuasa menyelesaikan tepat waktu. Masakan baru siap saat mereka sudah berangkat.

Hampir kena tilang

Ini hari kelima jadwal keliling desa. Rapat pembahasan pemanfaatan dana sosial dari surplus di masing-masing desa sudah dijadwalkan. Penentuan jenis kegiatan dari dana tersebut dimusyawarahkan antara para ketua kelompok pemanfaat dengan Pemerintah Desa (Kades) dengan difasilitasi oleh BKAD. Keputusan yang dihasilkan akan dilaksanakan dan dilaporkan penggunaannya oleh para ketua kelompok untuk Pemerintah Desa dan BKAD.

Setelah tercapai kata sepakat di Desa Kalisalak, aku segera meluncur. Para ibu ketua kelompok di Desa Cindaga sudah menunggu. Untuk menghemat waktu, aku putuskan melewati jalur selatan melalui Sampang. Kerusakan jalan kabupaten di Desa Sawangan lebih pendek daripada jalur utara.

Demi melihat ada beberapa sepeda motor yang putar balik, aku sudah menebak. Ada operasi di depan. Tepatnya dekat Pos Polisi Sampang. Aku merasa tenang karena semua lengkap. Hanya lampu depan yang segera aku nyalakan. Namun beberapa detik kemudian aku terhenyak. Aku lupa menaruh dompet di tas. Semalam dompet aku taruh di tas badminton saat main ke Rejasari. Tanpa pikir panjang, aku balik kanan. Untung saja dari arah berlawanan tak ada kendaraan. Posisiku saat itu sudah mendekati jembatan irigasi.

Maka sembari melihat ke spion, aku tarik gas motor agak kencang. Khawatir ada motor Polisi yang mengejar. Meski aku yakin, andai di kejar pasti aku kena. Tentunya tarikan motor bebek keluaran 2002 yang aku tunggangi, tak sekencang motor sekarang. Alhamdulillah aman. Tarikan aku kurangi setelah melewati bulak sawah di daerah Pesemutan.

Dibuat jengkel

Paska pertemuan di Desa Cindaga, aku merasa jengkel. Pasalnya ada seorang ketua kelompok di satu desa yang menciderai kesepakatan. Padahal kesepakatan itu baru dibuat tidak lama. Sempat pula berkata-kata yang tidak enak di dengar saat di kantor. Untung koordinasi dan komunikasi dengan pihak kecamatan berjalan baik. Untuk sementara, masalah ini bisa tertangani.

Dia masih memiliki tanggung jawab kemacetan pinjaman atas nama pribadi. Sudah lama tidak ada progres angsuran dan komunikasi pun agak lama terhenti. Namun tiba-tiba dia mengurus surat pindah domisili. Kesepakatan yang dibuat adalah menunda proses pengurusan berkas itu sampai ada pertemuan dengan mantan suaminya di kantor. Kepala Desa dimana dia bertempat tinggal pun sudah membantu dengan tidak menandatanganinya.

Namun apa lacur, entah dengan bahasa apa, dia bisa mendapatkan tanda tangan Sekdes dan stempelnya, lantas meluncur ke kecamatan. Aku tidak menyalahkan Sekdes dan bagian pelayanan, karena belum sempat Kades berkoordinasi, beliau sudah pergi dengan tamu yang memang sudah menunggu lama.

Masih beruntung proses itu tidak lancar. Beberapa dokumen kelengkapan tercecer di balai desa tempatnya mengurus dan justru aku yang menemukan. Aku bersama Om Slamet segera ke kantor kecamatan dan Polsek. Selain untuk minta ditangguhkan prosesnya, juga lapor ke pihak berwajib bahwa aku menemukannya, dan menceritakan kronologis kejadiannya.

Akhirnya dia datang ke kantor, meminta untuk dikembalikan. Saat itu lah aku emosi. Karena kesepakatan yang dibuat belum lebih dari hitungan jam. Meski dia memohon agar mengerti kesulitannya, maka aku katakan, aku sudah telanjur berprasangka buruk. Si Ibu sudah menciderai kesepakatan. Untung waktu itu sudah makan siang. Kalau belum, bisa-bisa hilang selera makan.

Apa ceritamu hari ini?

Para ketua kelompok Dana Bergulir Desa Cindaga

Idul Fitri yang Adem

2
Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1439 H di Mandirancan

Pada saat shalat Ied dilaksanakan kemarin (Jum’at, 15/06/2018), cuaca tidak panas. Cahaya matahari nampaknya malu-malu menyinari bumi. Sepertinya Idul Fitri tahun 1439 H ini memang benar-benar adem. Tidak terjadinya perbedaan awal dan akhir puasa, sehingga shalat Ied pun bisa dilaksanakan bersama-sama.

Sepanjang ramadhan, materi khutbah tidak lagi membahas keutamaan dari perbedaan diantara pendapat tentang shalat tarawih. Para dai karbitan dari ormas-ormas yang gemar mengunggulkan pendapatnya, tak memiliki alasan untuk itu. Kadang heran, mengapa orang-orang begitu menyukai perbedaan yang berujung perselisihan. Panggung pengajian yang semestinya menyatukan ummat, malah entah sadar atau tidak, sering menjadi sarana agitasi.

Pada pertengahan ramadhan pun terasa sangat adem. Ketika malam menjelang, turun embun. Dinginnya malam membuat batuk pilek sempat menjangkit. Puskesmas ramai dikunjungi pasien dengan keluhan yang hampir sama. Untung saja, aku tak perlu ke sana. Cukup beli obat di apotik. Alhamdulillah sembuh.

Meski demikian, gairah olahraga yang sedang digandrungi di Desa Mandirancan, yakni badminton, tetap ramai. Hangat suasana kebersamaan selepas shalat tarawih dan tadarus mengakrabkan. Obrolan antar mereka pun seolah tak terpengaruh dengan ramai, panas, dan membosankan provokasi politik di media sosial.

Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1439 H di Mandirancan

Tetap adem

Khotib pada pelaksanaan shalat Ied di lapangan Desa Mandirancan pun berwasiat demikian. Masyarakat tidak perlu baper dengan perbedaan pendapat antar elit. Tontonan sengit nan panas pada acara debat, berbeda jauh dengan kondisi setelahnya. Bisa jadi kemudian mereka makan, minum, dan atau bersendau gurau bareng. Maka tak perlu meneruskan emosi debat antar mereka. Cukup sebagai penambah wawasan.

Guyonan politik yang lebay dari para pendukung sepertinya tak begitu ditanggapi. Ketika spanduk-spanduk dan atau meme tentang jalan tol ramai dan membuat panas telinga, cukup menjadi wilayah media sosial. Karena akal waras lebih utama daripada populer tapi cacat logika.

Suasana yang tetap rukun dipertontonkan paska shalat Ied. Setelah bersalam-salaman antar jama’ah, beberapa titik melakukan hal yang sama. Masyarakat di sekitar masjid An-Nur bermaaf-maafan di jalan sebelah selatannya. Warga sekitar mushola Al Fattah, grumbul Ndesa pun demikian. Ini menjadi tradisi baik yang harus dilestarikan. Saling meminta dan memaafkan antar sesama.

Tahun politik memang biasanya membuat gerah. Namun suasana harus tetap adem, akal waras dijaga, dan badan juga mesti sehat. Munculnya para badut politik yang sedang mencari makan dan atau panggung, tinggal dicermati atau bahkan abaikan. Kita doakan semoga rizkinya dihalalkan dan pernyataan-pernyataan mereka tidak dicatat sebagai dosa jariyah.

Jama’ah perempuan

Pembangunan desa

Pada saat memberikan sambutan, penjabat Kepala Desa Mandirancan, Drs. Argo Imam Sasongko, M.Si, menyempatkan memperkenalkan diri. Beliau menjalankan tugas sebagai kepala desa atas SK Bupati Banyumas sampai terpilihnya Kepala Desa definitif. Beliau juga menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk bersama-sama membangun desa. Sekecil apapun sumbangsih warga akan sangat berguna.

Pada kesempatan itu, beliau pun memamerkan mobil ambulans yang diperuntukkan bagi masyarakat Mandirancan yang membutuhkan. Sebagian dari pelayanan publik, mobil yang baru dibeli dari dana APBDes, diharapkan bisa mempercepat pelayanan kesehatan masyarakat. Mobil ambulans tersebut sengaja di parkir di jalan depan para jama’ah.

Sayangnya partisipasi masyarakat terhadap zakat fitrah sedikit berkurang. Sebagai perbandingan pada tahun 2018, panitia mendapat zakat beras dan uang, yang dikonversi menjadi beras, sejumlah 6.956 kilogram. Ini 2 kilogram lebih sedikit dari perolehan tahun 2017, yakni 6.958 kilogram. Sedangkan penerima zakat naik, dari 1.739 menjadi 1.823 jiwa. Ini dimungkinkan terjadi, karena belum semua panen.

Berdasarkan informasi dari Pemdes, hasil infak shalat Idul Fitri 1439 H Desa Mandirancan mencapai Rp 12.107.000,00 (dua belas juta seratus tujuh ribu rupiah). Sedangkan operasional pelaksanaan shalat Id sebesar Rp 953.000,00 (sembilan ratus lima puluh tiga ribu rupiah). Dana operasional diantaranya untuk membiayai honor Linmas, kebersihan, sound system, konsumsi, dan lain sebagainya (rincian sudah diposting di grup WA Musdes Mandirancan).

Sebesar 10% dari infak bersih diambil untuk kas penyelenggaraan hari-hari besar Islam, dan selebihnya untuk pembelian karpet guna pelaksanaan shalat Id di lapangan.

Akhirnya, saya atas nama pribadi dan keluarga mengucapkan: “Taqobbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian). Mohon maaf lahir dan batin.

Salam.

Merenungi Syair Lagu Deen Assalaam

0

Akhir-akhir ini, telinga kita akrab mendengar syair lagu-lagu syahdu berbahasa arab yang disenandungkan oleh si cantik Nissa Sabyan. Merdu suara Nissa menjadikan lagu yang meski kita tak tahu artinya, tetap enak didengar. Terlebih jika kita mengerti artinya, tentu rasa haru akan menyeruak. Salah satu lagu tersebut berjudul Deen Assalam.

Namun ini hanya lah sebuah syair biasa, bukan sholawat atau pun doa. Tak perlu mengamini saat mendengar, cukup resapi maknanya, dan praktekkan dalam dunia nyata.

Lagu yang pertama kali diperkenalkan oleh Sulaiman Al-Mughni, seorang remaja Arab Saudi, sudah dinyanyikan ulang dengan berbagai versi. Salah satunya si Nissa Sabyan tersebut. Petikan gitar dari Nathan Fingerstyle dari lagu ini pun enak didengar.

Mendengar lirik dan nada lagunya saja sudah menyentuh di hati. Apalagi jika kita tahu makna lagu tersebut. Si pencipta lagu seakan ini sesederhana mungkin mengatakan pada para pendengar bahwa Islam agama toleransi. Dimana rasa itu akan didapat jika kita bisa berlapang dada.

Turn back Terorism

Munculnya cover lagu Deen Assalaam yang dibawakan oleh Nissa Sabyan dirasa tepat waktu. Berbagai kejadian bom bunuh diri beberapa hari sebelum bulan Ramadhan, bukanlah ajaran al-Islam. Terlebih dilakukan di sebuah wilayah yang tidak sedang berperang. Berbeda kondisinya jika Islam diperangi seperti di Palestina.

Dakwah Islam yang secara lembut diperkenalkan sejak dulu hingga kini, seakan omong kosong. Perilaku dan atribut yang mereka pakai, membuat saudara-saudara muslim yang beratribut sama, dianggap sama perilakunya. Padahal tidak demikian juga. Ciri teroris yang disematkan kemudian menstigmakan bahwa Islam adalah agama teroris. Meski masih menjadi perdebatan pula, mengapa pelaku teror lain, semisal di tanah Papua, tidak dilabeli teroris juga.

Mereka yang menghalalkan darah sesama muslim atau kaum kafir jelas mengingkari wasiat Rasulullah SAW.

“Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Beredar lama

Sebenarnya lagu ini sudah cukup lama dinyanyikan. Namun ketika lagu ini dinyanyikan ulang oleh Sabyan Gambus dengan Nissa sebagai vokalis, cepat sekali viral. Entah karena lirik dan nadanya yang enak didengar, waktu peluncurannya tepat, atau mungkin terkesima dengan penyanyinya.

Senandung lagu dan lirik Deen Assalaam yang lembut membawa pesan kedamaian. Dalam syairnya dikatakan bahwa dunia akan terasa sempit jika hidup tanpa toleransi. Namun jika hidup penuh cinta, kita akan bahagia, sesempit apapun dunia ini. Pesan ini tersirat dalam QS Al An’am ayat 125.

Berikut syair dan arti lagu Deen Assalaam:

Kala ha dil ar maa taq fi masahat
La u na hasib la sama hat
Wan ta ayas na bahb
La ta ghay kal ar tha nas kan kal ya ghar

Ab ta hayat wab salaam
An syaru wah lal kalam
Zay nu dini yakh te rabb
Ab ma habbat wab ta sam

An syaru ba anil ana
Ha da hud deen as salaam

Arti Lirik Deen Assalam:

Seluruh bumi ini akan terasa sempit
jika kita hidup tanpa toleransi
namun jika hidup dengan perasaan cinta
meski bumi sempit kita kan bahagia

melalui perlaku mulia dan damai
sebarkanlah ucapan yang manis
hiasilah dunia dengan sikap yang hormat
dengan cinta dan senyuman

sebarkanlah diantara insan
Inilah Islam agama perdamaian

*)Tulisan ini diolah dari berbagai sumber.

Mensikapi Rencana Penutupan Jalan Kebasen – Patikraja

0
Survei lokasi

Akhirnya penutupan jalan raya Kebasen – Patikraja akan dilakukan. Setelah melalui proses yang cukup lama, keputusan penutupan jalan raya ini pun dipastikan. Berdasarkan rapat sosialisasi yang bertempat di kantor kecamatan Kebasen (Jum’at, 18/02/2018), penutupan jalan akan mulai dilakukan sejak tanggal 28 Mei 2018. Rencana penutupan akan dilakukan sekitar 300 hari kalender. Kekhawatiran yang tertunda, akhirnya terjadi juga.

Kendaraan roda empat harus memutar melalui jalur Rawalo atau Buntu. Sedang kendaraan roda dua, sudah dipersiapkan jalurnya. Jalan alternatif melalui jalur bekas rel SS (Staatsspoorwegen) diteruskan dari Bendung Gerak Serayu hingga grumbul Losari Desa Gambarsari, menyusuri sungai Serayu. Pembuatan jalur alternatif ini menjadi salah satu konsekuensi atas pembangunan jalan layang yang sedang dilakukan. Pembangunan jalan layang yang lokasinya di dekat terowongan kereta di sisi utara, dimaksudkan agar pengendara tidak terhalang pintu kereta api nantinya.

Pembuatan jalur alternatif yang sebelumnya diisukan melalui jalan Tumiyang tembus Kebasen, urung. Meski ada sebagian masyarakat yang mengharapkan itu terjadi. Pasalnya jalur alternatif Tumiyang – Kebasen akan melalui jalan Perhutani yang mempermudah akses menuju lokasi wisata Watu Meja.

Keberatan dari warga masyarakat grumbul Losari Desa Gambarsari tak menghendaki harus memutar. Pasalnya jarak tempuh akan semakin jauh. Padahal keperluan mereka ke balai desa, kantor kecamatan, pasar, dan atau mengantar anak sekolah di SD dan atau TK hampir setiap hari dilakukan.

lokasi pembangunan jalan layang

Cukup untuk kendaraan roda dua

Bagi para pengendara yang terbiasa melalui jalan ini, tentu akan menyayangkan jalur alternatif yang hanya cukup untuk kendaraan roda dua saja. Pembuatan jembatan kecil pada 100 meter setelah Bendung Gerak Serayu memang cukup untuk persimpangan sepeda motor. Namun demikian, pengendara harus berhati-hati dan tidak membawa keranjang samping. Karena lebar jalan dan jembatan kecil hanya sekitar 2 meter dengan pengaman jalan di kanan kiri sejak depan kantor Bendung Gerak Serayu hingga jembatan kecil.

Pembuatan jalur alternatif tentu akan berdampak pengguna jalan. Baik mereka yang menuju dan atau dari Purwokerto yang memanfaatkan jalur ini. Padatnya kendaraan pada pagi hari tentu tak bisa dielakkan. Terlebih penutupan jalan ini dilakukan sebelum lebaran. Para pengendara mesti waspada, tahu diri, tidak menang sendiri, dan menghormati pengendara lain.

Berdasar pantauan penulis, jalan tersebut layak. Sebagian menggunakan kontruksi jalan aspal, sebagian lagi cor beton, meski ada sebagian yang masih berupa tanah. Jembatan kecil itu pun kokoh dengan catatan tidak terjadi kemacetan diatasnya. Perlu jasa pengatur jembatan agar pengendara mau berbagi kesempatan melintas tatkala ada pengendara membawa keranjang samping. Sepeda motor yang lumayan besar atau pun yang kecil perlu sedikit melambatkan laju saat melintas di jembatan kecil tersebut.

Survei lokasi

Upaya pemerintah lokal

Tidak henti-hentinya pemerintah lokal memperjuangkan kepentingan umum. Kepala Desa Gambarsari, selaku pemangku wilayah yang ketempatan proyek jalan layang, selalu menolak membubuhkan tanda tangan, sebelum jalur alternatif jadi. Keputusan beliau didukung oleh masyarakat, para Kepala Desa tetangga, dan tentu pihak kecamatan Kebasen sendiri.

Keinginan sebagian besar masyarakat agar pembangunan jalan layang tanpa penutupan tidak terpenuhi. Berkali-kali lobi dan diskusi dilakukan agar kepentingan umum tidak dikalahkan. Namun apa lacur, pembangunan jalan layang harus dilakukan dengan penutupan dan pengalihan jalur lalu lintas. Toh ini dilakukan demi keamanan pengguna jalan juga.

Sebelumnya, ketika pembuatan dua terowongan kereta, wacana penutupan jalan sudah mencuat. Namun atas desakan masyarakat, penutupan itu urung dilakukan. Bayangkan saja, penutupan jalan ketika pembuatan terowongan dan jalan layang, diprediksikan mencapai dua tahun.

Penampakan jembatan kecil

Konsekuensi perubahan

Setiap perubahan pasti berdampak. Entah itu positif atau pun negatif. Mereka yang terkena imbas atas perubahan zaman mesti bisa menyesuaikan. Kalau tak mampu, alhasil mereka hanya akan jadi pecundang. Pembangunan demi pembangunan pasti akan membawa keuntungan dan kerugian. Keadaan ini tergantung bagaimana kita mensikapi. Meski pada prosesnya, lebih sering tak mengenakkan.

Sebagai upaya pemanfaatan jalan paska proyek, Pemerintah Desa Gambarsari sudah mengajukan permohonan atas aset jalan alternatif tersebut. Pemerintah Desa meminta agar aset tanah, jalan, dan jembatan kecil tidak di bongkar. Biarkan saja untuk kepentingan umum desa. Menurut Kepala Desa Gambarsari, Arif Zulfikar (34 tahun), jalan tersebut kelak akan dimanfaatkan untuk prasarana wisata desa susur Serayu.

Oleh karena nya, daripada mengeluh, menggerutu, dan atau mengumpat, lebih baik kita terima dan mensikapi secara bijak. Upaya yang dilakukan oleh Pemdes Gambarsari pantas diacungi jempol. Mampu melihat peluang bagus di masa mendatang.

Lagipula, keluhan, gerutuan, dan atau umpatan yang diucapkan, tak akan bisa mengubah apapun. Konsekuensi atas pembangunan untuk perubahan memang demikian. Pilihan ada di tangan kita. Akan kan terus menyalahkan keadaan atau mensikapi secara dewasa.

 

Salam.

Jalur susur Serayu kelak.

Sadar Diri

0
Syamil, Haidar, Ata

Ini kali ketiga Syamil kecelakaan. Kecelakaan kecil. Pertama, dia terserempet motor. Ketika dia tahu ada motor lewat, bukannya meminggirkan sepeda. Dia malah ke tengah dan berhenti mendadak. Alhasil pengendara pun kaget dan menyerempetnya. Kedua, Syamil menabrak mobil saat bersepeda. Pelek sepeda rusak. Syamil sendiri sedikit luka. Dia agak trauma. Enggan bersepeda lagi. Tapi hanya berselang dua hari saja. Berikutnya dia asyik bersepeda lagi.

Hampir semua tetangga tahu, Syamil kalau naik sepeda memang tak lihat jalan. Senangnya cepat, tak mau mengerem, dan matanya jelalatan entah apa yang dilihat. Nah, begitu keluar dari gang, dia langsung menabrak bagian belakang mobil dari arah selatan. Dia sendiri bersepeda dari arah barat.

Kecelakaan ketiga ini tanpa bersepeda. Dia berlari menabrak sepeda motor. Kecelakaan ketiga ini agak parah. Pelipis kirinya sedikit sobek, bahkan kata Bu Bidan Erly, baiknya di jahit agak cepat sembuh. Syamil menangis menolak. Untung tak terlalu lebar, butuh satu jahitan.

Bibir atasnya jontor. Telinga kanan memar dan luka lecet. Sedang kepala bagian atas telinga kanan benjol. Pipi sedikit tergores. Luka yang membuatnya kesulitan adalah lecet pada lutut kanan. Lecet-lecet sedikit pada bagian atas jemari kaki ada. Hari itu sampai malam, dan pagi harinya, aku meski membantunya berjalan, bahkan sebelumnya selalu minta di bopong.

Kronologis

Persisnya kejadian tak bisa terekam. Syamil saat ditanya bilang nggak tahu. Pasalnya, paska dia menabrak sepeda motor, sempat pingsan. Kata Lik Narso, Syamil pun bertanya kenapa bisa tiduran di rumah Bu Bidan Erly. Saat kejadian, si pembonceng sigap membopong Syamil. Karena kendaraan tak sedang melaju kencang.

Kecelakaan itu terjadi di jalan desa dekat Pos Ronda, sebelah rumahnya Mas Dirun. Dari cerita yang aku himpun, Syamil sedang asyik bermain bersama Aisyah, Syifa, dan Okta di Pos Ronda. Tiba-tiba Syamil berlari tanpa melihat kanan kiri. Ini kebiasaan buruknya. Sradak sruduk.

Setelah sadarkan diri, Syamil pun enggak menangis. Hanya mengerang. Namun saat melihatku datang, dia mau menangis. Aku bilang nggak boleh menangis, biar cepat sembuh. Saat itu dia sedang disuapi oleh Bidan Erly. Istri ku sedang mencari Haidar yang terus menangis, meski sudah dibopong sama Bibi Salem.

Sadar Diri

Saat istri ku menelpon agar aku pulang sebentar, aku tak punya perasaan apa-apa. Andai benar dia terserempet, aku tahu kalau Syamil memang sradak sruduk. Apalagi mendengar keterangan bahwa Syamil lah yang menabrak motor. Aku hanya tersenyum. Tak mencari kambing hitam.

Saat si pengendara mendekatiku dan minta maaf, aku katakan nggak apa-apa. Jangankan motor, mobil pun pernah dia tabrak. Lalu dia berpamitan. Beberapa orang menyarankan aku minta KTP nya, kalau ada apa-apa. Biar saja.

Aku sadar sepenuhnya. Ini bukan salah siapa-siapa. Murni kecelakaan yang memang sudah digariskan terjadi. Saat istriku bilang sudah mencegahnya bermain, aku pun tak menyalahkannya. Kebetulan pula, pagi hari nya, Ibuku berpamitan hendak ke Slawi. Jadi tentu dia repot mengurusi Syamil dan Haidar sendirian.

Tanggung jawab

Orang-orang yang mengenalku dan istri agak heran. Syamil ini menuruni sifatnya siapa. Padahal bapak ibunya dikenal kalem. Tidak neko-neko. Apalagi istriku, sangat berhati-hati. Aku pun tidak jauh berbeda. Tapi ini lah tanggung jawab. Allah SWT sudah percaya memandatkan Syamil pada kami. Aku yakin, Dia akan memampukan kami. Aaamiin.

Sebagai bentuk tanggung jawab kala Syamil menabrak mobil, pengendara malah memberi uang. Padahal sudah jelas posisinya. Tapi ya, Alhamdulillah buat ongkos pijat urut. Sisanya digunakan untuk tambahan servis sepeda. Meski andai tidak, aku pun bertanggung jawab. Ini bukan salah si pengendara mobil.

Kejadian kali ini, aku pun tak meminta pada si pengendara motor. Alasannya memang mereka tak bersalah dan kalau lihat profesinya, insya Allah aku harus lebih banyak bersyukur. Ini tanggung jawabku sepenuhnya sebagai orang tua. Apalagi Bidan Erly sudah sangat baik. Dia tak mau diganti biaya pertolongan dan obat yang diberikan. Terima kasih, Bu Bidan.

Sehari semalam aku menunggu perkembangan. Kalau-kalau badannya panas atau dia merasa pusing. Aku ingin memastikan tak ada luka dalam.

Tapi dasar Syamil, meski jalannya masih agak terpincang-pincang, dia sudah bersepeda lagi esok harinya. Alhamdulillah hanya luka luar saja.

Fabiayyi ‘ala irobbikuma tukadziban….

Syamil, Haidar, Ata
Top