Si Pembuat Riang: Handarbeni

0
134

Temanggung (23/08/14) Entah kenapa rasa tak enak hati menjalar kala bertandang ke Temanggung. Untung saja aku di hibur sama makhluk kecil yang lucu, Handarbeni. Biasa di sapa: Beni.

Anak semata wayang Mba Wening ini mengalihkan rasa bad mood itu. Apalagi saat dia mau aku ajak bersama ke rumah Mbah Jangkah, Ketua Forum BKAD Temanggung, bersama kawan-kawan yang lain.

Sepanjang perjalanan, aku selalu bertanya agar mau bicara. Meski dengan dialek yang kadang aku tak paham, Beni mau menanggapiku. Beni bilang bahwa dia tadi main kereta-keretaan yang maju mundur. Eh, kenapa kemarin tak aku iming-imingi lihat kereta di Banyumas ya? Hehe…

Saat melewati toko mainan dan tas, Beni beranjak dan berkata bahwa kemarin-kemarin dia baru beli tak di toko itu. Dia bilang bahwa dia pilih sendiri tasnya, tapi Ayah yang bayar. Sedikit heran tatkala Beni bilang kalau tas nya berwarna pink. Lho?

Beni terus berceloteh dengan malu-malu hingga mobil berhenti di jalan menuju rumah Mbah Jangkah. Saat aku ulurkan tangan untuk membopongnya, ternyata Beni mau. Meski tangannya teracung-acung dan bilang: ibu… ibu….

Sekilas aku lihat raut muka Mba Wening sudah seperti sedia kala. Padahal saat aku lihat dia mengundurkan sepeda motor di kantor UPK Bulu, dia sedikit merengut. Dia terpaksa mengikuti kami, karena Beni lebih memilih naik mobil bersamaku, Ajat, dan Uri. Aku kira Beni akan ikut sampai Masjid Agung dekat alun-alun, karena itu yang tertangkap di telingaku. Ternyata tidak.

Saat kami berdiskusi bersama Mbah Jangkah, aku masih lihat Beni berulah. Mbokne sedikit kewalahan dengan bocah imut itu. Aku memang suka dengan anak-anak terutama laki-laki yang gendut. Jangankan yang putih bersih seperti Beni. Yang kulit sawo matang dan kadang kotor pun aku tetap suka.

Kedekatanku dengan anak-anak sudah terjadi sejak aku masih belum berkeluarga. Terlebih saat aku masih membantu mengajar TPQ. Saat itu aku tak hanya belajar bagaimana mengajarkan Iqra kepada mereka. Tapi aku pun belajar tentang psikologi anak. Aplikasi dari teori psikologi anak ini lah yang sedang aku ujikan. Ternyata, aku masih bisa.

Saat aku masih di kantor UPK Bulu, aku sudah mulai pendekatan dengan Beni. Salim tangan, cium pipi kanan kiri dan memeluk dengan menempelkan dadaku dengan dadanya, diyakini mampu menyalurkan insting kepadanya bahwa aku orang baik. Beni tak perlu takut. Trik ini yang dulu aku lakukan, sekarang pun masih bisa.

Saat Beni mulai cari muka dengan bermain kuda lumping, aku sengaja melayaninya. Tarik menarik pecut pun aku lakukan. Aku semakin yakin kalau Beni mulai akrab tatkala aku pindah tempat duduk. Dia terus mencari perhatianku. Aku pun melayaninya.

Pastinya mengambil hati sang buah hati akan meluluhkan hati orang tuanya. Entah itu Ayah atau ibunya. Ini rumusan, Sodara…

Dan ini tulus, bukan modus.

#hasyah…

BAGIKAN
Berita sebelumyaKemenangan Karena Keberuntungan
Berita berikutnyaRencana Aksi Damai Assosiasi UPK Nasional
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here