Syamil Genap Empat Tahun

0
159
Akur

Mungkin Om Kikin sama Bu Dhe Eci lupa. Hari ini (14/07/2016) Syamil genap 4 tahun. Biasanya mereka kirim ucapan selamat via SMS. Tapi sampai malam ini ucapan itu tak ada. Padahal baru beberapa hari kemarin mereka berkumpul. Bahkan Mbah yang biasanya sibuk mengingatkan, kali ini juga tidak. Tak mengapa.

Pasti nya Om Kikin masih sibuk dengan urusannya di Gianyar. Bu Dhe dan Mbah di Bantul pun seperti nya sama. Sedang Mbak Dita kayaknya malah lupa. Kami pun maklum. Hanya merasa ada yang kurang saja. Sebab saat Ata genap 8 tahun pada Februari kemarin, pagi-pagi sekali ada SMS masuk. Ucapan selamat dan doa dari Om Kikin, Mbah, Bu Dhe, dan Mba Dita.

Syamil sendiri nggak ngeh apa itu ulang tahun. Saat istri ku dan Ata ucapkan selamat ulang tahun dan mendoakannya, Syamil biasa saja. Bagi nya bepergian, beli es krim, dan makan makanan yang dia sukai itu lebih penting. Mungkin yang agak dia pahami bahwa sebentar lagi dia akan sekolah. Syamil sendiri sudah minta sekolah di tempat yang sama dengan kakak nya.

Sebelumnya rayuan Ata, istri ku, dan aku sendiri berulang kali mesti dilakukan agar dia mau sekolah. Aku sendiri tak begitu yakin apakah Syamil tahu apa itu sekolah. Yang aku tahu, dia hanya ingin bermain. Sekolah PAUD terdekat memiliki sarana bermain. Syamil paling senang main prosotan.

Dulu saat pertama kali masuk PAUD, Ata sudah siap. Dia tahu kalau nanti akan diajari membaca, menulis, berhitung, menggambar, dan menyanyi. Ata sudah tak sabar menunggu hari pertama masuk sekolah. Bahkan saat aku mengantarnya, dia tolak. Dia bilang kalau Ata sudah besar dan ingin berangkat sekolah sendiri. Sedang Syamil? Nggak ngerti. Ah, anak laki-laki memang beda.

Beberapa kali Syamil menolak sekolah. Dia ingin bermain di rumah saja. Meski Aisyah, anak dari kakak sepupu ku, sudah sekolah, Syamil tak iri. Padahal umur Aisyah lebih muda dari Syamil. Sampai-sampai Aisyah bilang kalau dia lebih besar dari Syamil. Buktinya dia sudah sekolah, sedang Syamil belum… hahaha….

Setiap anak memang memiliki keunikan sendiri-sendiri. Syamil memang belum dong urusan sekolah. Cenderung nakal dan mau nya menangan. Ata sering menangis karena keusilannya. Tak jarang aku maupun istri ku harus memisahkan kedua nya saat Ata menangis. Padahal Ata sering mengalah.

Tapi Syamil anak yang cepat tanggap. Saat melihat istri ku melakukan sesuatu, dia inginnya membantu. Cepat-cepat mengulurkan bantuan tanpa di minta. Beda dengan Ata yang kadang mesti di suruh.

Saking baik hati nya, apa-apa mesti dia minta. Saat istri ku mau memotong sayuran buat di masak, Syamil akan bilang: “Syamil mawon. Syamil mawon”.

Saat istri ku mulai menjahit, dia akan merebut kursi dan berteriak: “Syamil. Syamil”.

Ah, ini si bukan menolong. Mengganggu. Hahaha….

Aku masih ingat saat dia lahir. Pagi hari sekitar jam 05.10 WIB, janin laki-laki keluar dari rahim istri ku. Kami sangat bersyukur. Pasalnya selain sehat dan sempurna, bayi yang Allah SWT anugerahkan berkelamin laki-laki. Seperti permintaan Ata saat istri ku hamil. Alhamdulillah.

Istri ku tak pernah memeriksakan kandungan ke dokter atau di USG. Kami menuruti apa kata Bidan. Kalau ibu dan janin nya sehat, tak perlu ke dokter. Apalagi minta USG hanya ingin tahu jenis kelaminnya. Malah nggak surprise nanti. Meski Bidan tak melarang kami, lebih baik memang begitu.

Maka saat lahir bayi laki-laki kami bersyukur. Dua anak kami komplit. Satu perempuan dan satu laki-laki. Ata senang menyambut kelahiran adik nya. Sering dia menemani Syamil saat masih bayi. Berteriak memanggil istri ku, ibu, atau aku saat Syamil ngompol. Mengambilkan popok untuk adiknya. Sampai sekarang pun dia tetap menemani Syamil saat bermain.

Bayi Syamil termasuk sehat. Dia sudah bisa berjalan saat usia 11 bulan. Beda dengan Ata yang butuh 16 bulan untuk bisa berjalan. Saat Syamil sakit biasa nya cukup di urut atau minum madu. Sedang Ata mesti ke Puskesmas. Memang Syamil pernah sekali opname di Puskesmas karena panas berlebih. Selebihnya ya cukup urut atau minum madu saja.

Siang hingga sore ini kami bepergian. Tujuannya membeli sepatu dan bahan tas buat Syamil. Kami lupa menyiapkan segala persiapan sekolahnya. Syamil belum punya sepatu. Lantas dia pernah minta dibuatkan tas berwarna merah dengan gambar robot.

Kursus menjahit tas beberapa tahun kemarin bermanfaat. Istri ku sering menerima order pembuatan tas sekolah. Tas sekolah yang Ata pakai pun buatan istri. Sayangnya dia belum bisa maksimal. Dia masih fokus mengurusi Ata dan Syamil. Apalagi ya itu, Syamil sering ingin ikut-ikutan menjahit. Takut tangannya kena jarum. Terpaksa istri ku menjahit saat kedua nya sudah terlelap. Itu pun kalau dia tak mengantuk.

Sebelum ke Purwokerto, Ata, Syamil, dan istri ku bermain di rumah Mba Riswati di Gambarsari. Syamil senang melihat ikan meski di kolam. Kemarin lusa saat kami berkunjung, Syamil di beri 10 ekor ikan. Sayangnya 4 ekor sudah mati. Terlalu banyaknya makanan dan tangan usil Syamil ikut andil. Maka saat ditawari ikan lagi, kami tolak. Kasihan. Mbok mati lagi.

Tempat tujuan pertama di Purwokerto adalah Pasar Wage. Kami mencarikan sepatu buatnya. Takut para penjual sepatu tutupan. Pilihan jatuh pada pedagang emperan di trotoar. Harganya relatif terjangkau. Apalagi sepatu buat anak-anak, biasanya tak lama. Pertumbuhannya cepat sehingga sebentar-sebentar tak muat ukurannya. Sayang kalau terlalu mahal.

Tadi nya Syamil minta sepatu yang berlampu saat di injak. Otomatis harga nya cukup nangkring. Untung saja dia mau berubah pilihan. Sepatu berlampu tadi warna nya putih dan hitam. Syamil tak begitu suka. Setelah mencari-cari, istri ku dapat sepatu warna merah. Tak berlampu. Ukuran nya pun lebih besar dan longgar di kaki. Tak terlalu besar juga. Akhirnya Syamil mau. Syukur lah. Harga nya pun lebih murah ketimbang yang berlampu tadi.

Hari ini kami sengaja memanjakannya. Apa-apa yang dia minta, coba kami turuti. Kami pun bersyukur bisa melakukannya. Bahan tas warna merah dan gambar robot bisa didapatkan. Istri ku tinggal merangkai di rumah nantinya. Kaos kaki yang aku pilihkan berwarna merah dan kuning pun diiyakan.

Permintaanya mampir di Moro untuk sekedar naik lift kami turuti. Aku dan istri ku tak kaget. Permintaan itu pasti berbuntut. Es krim dan jajanan lain pasti mengikuti. Kali ini dia tak minta Jasuke (Jagung Susu Keju). Naik lift, makan jajan di pinggir jendela dan bermain di area parkir atas, menjadi pilihannya.

Saat petang menjelang kami beranjak pulang. Syamil masih tetap ceria. Tak merasakan kantuk seperti biasanya. Begitu juga Ata.

Ata feminin; Syamil macho.
Ata suka warna pink; Syamil suka nya merah.
Ata jarang jajan; Syamil agak boros jajan.
Ata hati-hati; Syamil sradak sruduk.

Tapi kedua nya memiliki kebiasaan yang hampir sama. Yakni suka bercerita (cerewet) dan gambreng. Mirip bapak nya.

Akur
Akur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here