Tak Sekedar Transfer Pengetahuan

0
130
Bersama para guru SDN Mandirancan

Perbedaan pendapat antara perkalian 4×6 dan 6×4 yang berkembang di media sosial membuatku tertarik. Aku jadi tersenyum dan ingat kejadian waktu masih Sekolah Dasar. Meski sedikit berbeda, polemik itu mirip dengan kejadian yang pernah aku alami.

Melihat perbedaan tersebut, aku berpikiran sederhana saja. Apa sih bedanya, kan hasilnya tetap sama. Bukannya di sana berlaku prinsip komutatif? Ternyata memang tak sesederhana itu.

Kejadian bermula dari diunggahnya gambar pengerjaan PR Matematika si adik oleh sang Kakak. Meski hasilnya sama, sang guru tetap menyalahkan dan memberi nilai rendah hasil pengerjaan PR muridnya itu. Protes sang kakak, yang dituangkan dalam buku pada lembar yang sama pun tergambar di situ. Mau lebih jelas? Nih gambarnya.

Gambar yang menghebohkan
Gambar yang menghebohkan

Saat itu aku kelas 5 SD. Masih ingat, waktu itu aku diajar oleh Bu Sugiarti. Saat itu hanya ada 2 guru khusus, yakni mata pelajaran Agama dan Olahraga. Sedang yang lain masih diampu oleh guru kelas. Pelajarannya sama, yakni Matematika. Kalau tak salah hari itu ada ulangan mendadak. Sebagai juara kelas sejak kelas 1, boleh dong aku sedikit jumawa. Meski ternyata pada hari itu tak berlaku. Hadeuh.

Ada 5 soal yang Bu Sugi tuliskan di papan tulis. Masing-masing bernilai 20 poin tiap soalnya. Maka untuk mendapatkan nilai 100, aku harus bisa mengerjakan semua. Atau minimal 4 soal benar, agar dapat nilai 80. Biar kata itu ulangan mendadak, aku merasa percaya diri dengan kemampuanku. Sebab di hampir setiap mata pelajaran, aku selalu mendapat nilai tinggi. Sering bahkan, dapat nilai tertinggi. Pesaingku di kelas hanya ada Tuti, Neni, dan Suwito. Yang paling sering membuntuti ya si Tuti itu.

Ternyata eh ternyata. Cuma 3 soal saja yang benar. Sedang 2 soal yang lain dinyatakan salah. Nilai 60 sebenarnya tak terlalu memalukan. Tapi saat itu aku malu dan takut. Terlebih ada soal yang menurutku benar tapi kok disalahkan. Nah, di sini lah kasus yang hampir sama dengan kejadian diatas.

Sebelum di rehab
Sebelum di rehab

Sebelum ke sana, aku akan sampaikan mengapa aku malu dan takut. Aku malu karena teman-teman sudah mengira aku akan dapat nilai 100, ternyata tidak. Mereka heran, kok bisa ya, seorang Kikis hanya dapat nilai 60. Kalah sama Tuti dan Neni. Malu sekali waktu itu. Aku pun merasa takut tersaingi. Tahta peringkat pertama sejak kelas 1 SD yang selalu dibayangi oleh Tuti bisa-bisa direbut. Itu yang saat itu aku rasakan. Terlebih protesku atas sebuah soal ternyata tak membuat Bu Sugi bergeming. Beliau tetap kukuh dengan pendiriannya.

Kelak aku tahu, baik aku, Bu Sugi, dan Bu Kasmirah (Kepala Sekolah), sama-sama salah.

Begini soalnya:

“Jika A > B, dan B < C, maka A …. C”

Menurutku jawaban yang benar adalah A = C. Sedang jawaban yang benar menurut Bu Sugi adalah A > C.

Aku menangis waktu itu (cengeng kan?). Paling tidak ada 3 sebab aku menangis. Malu, takut, dan protesku tetap dianggap salah. Tak ingat aku jam ke berapa ulangan dadakan Matematika tersebut. Yang aku ingat, Bu Sugi segera minta bantuan Bu Kasmirah untuk menjelaskan soal tadi. Mungkin dia agak tak enak hati atau apa, karena aku terus menangis meski sudah masuk waktu istirahat dan terus hingga jam pelajaran lagi. Penjelasan dari Bu Kasmirah yang tetap saja tak bisa aku terima, membuat aku tetap menangis. Lupa pula apa yang kemudian membuat aku diam.

Ruang kelas 4,5, dan 6 dulu
Ruang kelas 4,5, dan 6 dulu

Dalam memberikan penjelasan, beliau menggunakan permisalan dengan mengkonversikan huruf A, B, dan C menjadi angka. Pastinya Bu Sugi sudah panjang lebar menjelaskan kepada beliau duduk permasalahannya, maka konversi huruf menjadi angka pun tetap berpihak pada Bu Sugi. Bu Kasmirah mengganti huruf A dengan angka 6, B dengan angka 4, dan C dengan angka 5.

“Jika A > B dan B < C, maka A …. C”

Jawaban:

“Jika 6 > 4, dan 4 < 5, maka jelas 6 > 5”.

Begitu penjelasan beliau. Penjelasan diberikan di kelas untuk semua teman-teman. Meski aku tahu bahwa itu lebih ditujukan padaku. Aku tak berani protes sama beliau. Tetap saja aku menangis. Waktu itu, Bu Sugi masih di ruang kantor. Tangisanku yang tak kunjung reda, membuat Bu Kasmirah terpaksa mengulangi penjelasannya dengan angka yang berbeda. Tapi hasilnya tetap sama. Entah berapa kali. Saat itu aku tak lagi menggubrisnya. Aku larut dalam tangisan karena rasa malu, takut, dan tak puas.

Setelah aku mengenal tanda kurang dari sama dengan, dan lebih dari sama dengan. Aku tahu bahwa semestinya berlaku demikian:

“Jika A > B dan B < C, maka A ≥ atau ≤ dengan C.

Sepertinya itu jawaban yang adil.

Banyak momen indah di sini
Banyak momen indah di sini

Kejadian itu amat membekas bagiku. Oleh karenanya, berkat bimbingan Bu Kasmirah juga, aku semakin giat belajar. Utamanya pelajaran Matematika. Sering aku di drill materi perkalian dan pembagian. Aku di motivasi untuk bisa menghafalkan di luar kepala. Alhamdulillah berbuah manis. Saat kelas 6 SD, aku menjadi juara 1 lomba mata pelajaran Matematika tingkat kecamatan. Walau akhirnya tetap kalah saat maju di tingkat kabupaten.

Tak ada rasa dendam aku sama Bu Sugi. Na’udzubillah. Beliau dan guru-guru SD yang lain tetap aku kagumi. Saat itu aku rasakan, bukan hanya transfer ilmu. Benar-benar pendidikan dengan memberi contoh nyata dan terus memotivasi. Tak mudah mereka menyalahkan. Memberi pemahaman dengan penuh kesabaran.

Bu Daryati adalah guru di kelas 1 dan 2. Sejak dulu hingga sekarang, perawakannya masih sama. Langsing dari yang langsing. Sabar dan tekun membimbing kami, anak-anak desa yang banyak tingkah. Melerai kami jika ada yang berkelahi. Berteriak mengejakan huruf demi huruf karena tak semua anak diawali dari TK. Satu per satu diajari cara menulisnya pula. Berhitung sampai mengenalkan angka bagi yang benar-benar belum tahu.

Rumahnya di Papringan. Kurang lebih berjarak 4 kilometer dari SD Mandirancan. Sebelum ke jalan raya, beliau harus melewati jalan di tengah sawah. Tak ada motor waktu itu. Sepeda onta (Dams) menjadi satu-satunya alat transportasi. Kami duduk di pintu masuk sekolah menunggu beliau tiap hari.Senang dan saling berebut kami membawakan sepeda dan tas yang beliau bawa. Ada yang menuntun sepeda hingga ke tempat parkir. Ada pula yang membawakan tas hingga di kelas. Sampai sekarang beliau masih mengenalku dengan baik.

Ruang Perpustakaan
Ruang Perpustakaan

Di kelas 3, aku diajar oleh Pak Waluyo. Nama lengkapnya Waluyo Wijaya. Waktu itu beliau masih bujangan. Orangnya gagah, tegap, dengan kumis lebat sebagai ciri khas. Beliau pula yang mengajariku baca puisi. Menghayati, berteriak, dan berekspresi sesuai ini dari puisi yang sering beliau buat sendiri. Meski tak juara, aku sering diikutikan pada lomba baca puisi.

Saat kelas 4, kami terpaksa menempati ruang pertemuan Balai Desa Mandirancan, karena rehab ruang kelas. Aku di ajar oleh Pak Karno. Sukarno nama lengkapnya. Kepalanya botak dan agak galak. Saat mengajar, beliau suka tertidur di kelas. Semilir angin dari jendela yang berhadapan langsung dengan sawah membuatnya mengantuk. Sebal waktu itu. Bagaimana tidak, meski matanya terpejam, Pak Karno tahu siapa-siapa saja yang berisik dan suka keluar kelas tanpa ijin. Mau ijin bagaimana, wong Pak Karno saja merem kok.

Andai kami berpikiran dewasa waktu itu, tentu akan kami pahami bagaimana capeknya Pak Karno. Mengayuh sepeda jengki warna biru dari Sokawera hingga Mandirancan tiap harus tentu melelahkan. Desa Sokawera dimana beliau tinggal masuk dalam kecamatan Patikraja. Untuk sampai ke Mandirancan, Pak Karno harus menempuh jalan dari Sokawera ke arah barat, melewati Pegalongan, kemudian Patikraja. Setelah melewati jembatan Serayu, kemudian ke ke arah timur lagi dari pertigaan Bunderan Wringin. Kurang lebih 6 kilometer. Bayangkan!

Bu Sugi sebenarnya asli Mandirancan. Namun beliau tinggal di Patikraja, dekat perbatasan dengan Pegalongan karena mengikuti suami. Terkadang beliau naik sepeda, kadang pula di antar. Orangnya sangat welcome. Keputusannya meminta bantuan Bu Kasmirah pada kejadian yang aku alami, tak lebih dari rasa tidak enaknya. Beliau pernah bersekolah bareng ibu ku. Sabar sekali orangnya. Tak pernah beliau marah-marah di kelas. Mungkin hanya sedikit memberi teguran dan mengancam akan melaporkan kenakalan-kenakalan kami pada orang tua. Itu pun sebatas ancaman. Nyatanya tak pernah kami dilaporkan.

Paska Mengisi Sanlat
Paska Mengisi Sanlat

Hanya Bu Suciati, guru kami di kelas 6, yang tinggal di Mandirancan. Rumahnya pun dekat. Lebih dekat ketimbang jarak rumahku dengan SD. Sering kami jalan kaki bersama beliau. Mungkin pandangan para orang tua kami terhadap beliau karena masih turunan ningrat, yang membuat kami justru jarang main ke rumah. Hanya waktu-waktu tertentu saja. Kini aku tahu, pandangan para orang tua kami terhadap beliau ternyata salah. Seperti kebanyakan orang desa, beliau pun sumeh.

Bu Kasmirah, sang Kepala Sekolah, yang tinggal di Patikraja, dekat jembatan Serayu, pun masih punya darah Mandirancan. Beliau sangat jago untuk urusan Matematika dan unggah ungguh tata krama orang Jawa. Aku salah satu murid yang bersyukur mendapat bimbingan langsung dari beliau. Meski tak mengajar di kelas, beliau sering monitoring proses belajar mengajar di tiap kelas. Saat anak-anak ramai, bergegas dia masuk dan memberi pelajaran. Beliau tak ingin ada anak yang berkeliaran di luar kelas pada jam pelajaran. Jelas akan mengganggu kelas yang lain. Dari beliau pula aku sedikit banyak bisa menerapkan unggah ungguh dan tata krama itu.

Bagi ku, keenam guru yang secara langsung mengajarku sejak kelas 1 hingga 6 SD adalah sosok yang membanggakan. Terharu aku mengenang beliau-beliau. Jasa, pengorbanan, dan kesederhanaan menjadi panutanku. Ketika pemerintah berpihak pada kesejahteraan para guru. Mungkin hanya Pak Waluyo yang masih mengecapnya. Beberapa orang hanya sebentar saja, karena sudah pensiun.

Kesan mendalam yang aku dapatkan semasa di SD, membuat aku senang saat bisa membantu mereka. Pernah aku diminta oleh Bu Sugi untuk memberi materi tambahan bahasa Inggris, pada tahun 2003. Saat itu belum ada guru bahasa Inggris. Bahkan sebenarnya, aku diminta meneruskan pendidikan agar bisa bergabung bersama mereka di SD. Sayangnya, aku tak bisa memenuhi keinginan itu. Faktor biaya kuliah masih jadi kendala.

Les bahasa Inggris yang aku berikan khusus untuk anak kelas 6 SD. Tiga hari dalam seminggu selama 2 bulan, menjelang ujian akhir sekolah. Materi yang aku sampaikan hanya memperkaya kosakata (vocabulary) dan memperkenalkan tenses-tenses yang sederhana. Rumusan tenses yang aku berikan hanya simple present tense, simple past tense, simple future tense, dan present continues tense. Soal paham atau tidaknya, aku tak tahu… hehe….

Selain itu, sejak tahun 2005 hingga 2012, aku bersama teman-teman pengajar TPQ, selalu diikutsertakan dalam kegiatan pesantren kilat. Dari 12 kelas, kami diminta menyediakan tenaga pembimbing sebanyak 9 atau 10 orang. Sedang kekurangannya akan dipenuhi dari pihak guru.

Jangan kamu tanyakan berapa honor yang pernah aku terima. Karena bukan itu tujuanku. Diberi kesempatan untuk memberikan sedikit ilmu kepada anak-anak saja sudah membuatku bangga. Rasa tidak enak hati yang membuat mereka tak lagi mengajakku, karena honor tadi mungkin. Kesibukan urusan pekerjaan dan yang lainnya membuatku sekarang sudah tak bisa membantu mereka lagi.

Mungkin hanya Pak Karno yang akhir-akhir ini tak pernah bersua. Yang lain meski hanya sekilas, aku masih melihat mereka dalam keadaan sehat. Alhamdulillah.

Semoga Allah SWT meridhoi amal ibadah beliau-beliau. Sebagai hujjah kelak di yaumul hizab. Aamiin….

 

Referensi:

http://www.merdeka.com/peristiwa/pr-matematika-anak-kelas-2-sd-bikin-heboh-facebook.html#

http://www.tribunnews.com/nasional/2014/09/23/muhammad-erfas-maulana-minta-maaf-atas-heboh-soal-matematika-sd

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here