Tekun dan Ulet, Modal Utama Kelompok Batik Pringmas

0
916

Sengaja aku berkunjung ke butik Pringmas Desa Papringan Kec. Banyumas Kab. Banyumas. Sudah agak lama aku ingin menulis tentangnya. Beberapa kali berkunjung ke sana, tak sempat menuliskan secara lengkap. Cuma sekedar berita studi banding saja. Saat itu aku menemani kelompok batik MD. Kemudian waktu mengikuti acara bedah buku Kumambang Tembang Mrapat. Jadi, ini ketiga kali aku ke sana.

Ketika keinginan itu muncul, segera aku turuti. Padahal sebelumnya, aku sedang merasa jenuh. Tak ingin melakukan apa-apa. Daripada jenuh, aku coba lawan. Maka aku inbox Mba Cici. Aku sampaikan maksudku. Dia menyambut baik. Kemudian kami saling bertukar nomor HP. Biar nggak salah orang… hehe….

Nantinya aku tahu kalau dia sekretaris kelompok batik Pringmas. Yang aku tahu, orang yang senang ekspose batik di Papringan, ya hanya Mba Cici. Mungkin karena yang lain belum berteman di facebook sehingga aku tak tahu. Atau memang dia satu-satunya. Nggak ngerti. Maklum, kebanyakan anggota batik Pringmas adalah para ibu. Biasanya mereka kurang gaul untuk urusan beginian. Suatu saat mereka mesti tahu. Paling tidak mereka bisa ikut ngobrol kalau pas bicara tentang TIK. Andai nanti mereka punya akun media sosial, kemudian kesulitan mengoperasikan, kan bisa minta dioperasikan oleh anak-anaknya. Bahkan, pengetahuan untuk antisipasi efek negatif internet pun mereka harus tahu agar bisa mengawasi anak-anak.

Andai Mba Cici bilang hari itu bisa ditemui hari itu, sebenarnya aku segera meluncur. Tapi dia bilang katanya besok sekitar jam 9 pagi dia sudah stand by di butik. Ok. Besok juga nggak apa-apa. Tidak sedang kejar target juga. Misal sekarang juga belum tentu mood itu akan kembali sesampainya di sana. Apalagi daftar pertanyaan belum aku susun. Akhirnya aku susun terlebih dulu. Melakukan persiapan tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.

Membuat pola
Membuat pola

Aku datang agak siangan. Ata merengek minta ikut. Aku ajak saja. Dia masih libur sekolah. Lagi pula kalau di tinggal di rumah juga kasihan. Menunggu waktu berbuka tentu sangat lama baginya. Dulu saat aku kecil pun begitu, sebentar-sebentar lihat jam. Dia perlu aktifitas yang sedikit bisa melupakan waktu agar bisa menahan rasa lapar. Lagi pula, Ata relatif lebih manut daripada Syamil. Anak perempuan biasanya memang beda. Lebih anteng.

Rupanya Mba Cici tidak pangling. Meski baru pertama bertemu saat bedah buku, dan tidak saling ngobrol, dia tetap mengenaliku. Saat itu dia sedang ngobrol dengan Mas Harsya. Dia salah satu konsumen yang suka membantu pemasaran juga. Mas Harsya mengaku asli Jakarta. Akan tetapi sejak istrinya dipindahtugaskan di Purwokerto, dia ikut juga. Dia sendiri adalah seorang fotografer. Kedatangannya ke butik itu berniat membantu menerbitkan katalog batik. Motif-motif batik terbaru perlu dibukukan untuk mempermudah konsumen dalam memilihnya. Sebagai orang Indonesia yang normal mestinya memang begitu. Saat orang lain membutuhkan bantuan, baik diminta atau tidak, ya menolong.

Obrolan pun akhirnya bertiga. Sedang di sebelah barat, ada beberapa pengrajin yang sedang membatik. Materi obrolan masih seputar urusan pemberdayaan. Salah satunya keheranan Mas Harsya tentang tidak terlalu mencoloknya nama Banyumas di Jakarta. Kebanyakan masih agak buta. Dengan kondisi yang mudah akses transportasinya, semestinya Banyumas menjadi salah satu tujuan orang. Tapi kayaknya kok nggak begitu. Dia bilang, Banyumas seperti kurang terekspose. Tulisan-tulisan tentang Banyumas masih minim. Aku tak membantah. Memang demikian adanya. Entah kenapa.

Perbincangan bergeser tentang pemasaran online. Selama ini Mba Cici masih mengandalkan sosial media berupa facebook dan twitter untuk promosi. Pernah dia buat blog, tapi jarang update. Dari caranya memposting di facebook atau twitter, membuahkan hasil. Beberapa kali mendapat orderan dari hasil postingannya itu. Kadang ada yang mengecer, tapi tak jarang yang order dalam jumlah banyak. Dia bilang, sampai saat ini tak ada anggota lain yang mempromosikan via internet. Kebanyakan ibu-ibu masih belum melek TIK. Pemasaran online juga disarankan oleh Mas Harsya. Lebih mudah katanya.

Berbicara soal pemasaran online tentu tak lepas dari urusan blog atau website. Lebih afdol pakai website. Kalau pakai blog yang gratisan kesannya kurang meyakinkan. Aku sarankan pakai website desa saja. Nebeng. Kalau bikin web sendiri mahal. Aku rasa Desa Papringan belum punya sih. Maka obrolan itu aku lakukan sebagai pancingan saja. Aku katakan pula, mumpung masih ada program gratisan untuk web desa. Saat aku konfirmasi ke Soep, alhamdulillah masih bisa. Yang penting sebelum 1 Juli 2015. Setelah itu, masuk ranah pemerintah katanya.

Gayung bersambut. Mba Cici bilang, biasanya Bu Kades akan menerima semua usulan baik. Terlebih jika yang menyampaikan adalah Pak Sekdes. Kebetulan saat itu ada istri Pak Sekdes, Bu Ermi. Maka setelah ngobrol dengan Bu Ermi, aku disarankan bertandang ke rumah. Nanti bisa bicara panjang lebar dengan suaminya. Meski dalam waktu dekat suaminya akan dipindahtugaskan, Bu Ermi bilang kalau Bapak masih bisa membantu desa. Peraturan baru terkait Sekdes yang berstatus PNS akan dipindahtugaskan aku sudah tahu. Ini diberlakukan setelah ada wacana status Sekdes kembali semula yakni menjadi perangkat desa biasa non-PNS.

Singkat cerita beberapa hari kemudian aku disuruh menghadap Bu Kades. Saat itu aku ditemani oleh Pak Sekdes dan salah satu perangkat desa. Sebelumnya aku sudah silaturahmi dan mengutarakan maksud fasilitasi pembuatan website desa, dan Pak Sekdes setuju. Benar apa yang dikatakan oleh Bu Ermi. Tanpa banyak bertanya, Bu Kades menyetujui registrasi website desa. Nantinya diharapkan bisa lebih mengenalkan Desa Papringan ke khalayak ramai. Syukur bisa menarik perhatian dan kecintaan warga Desa Papringan yang di perantauan. Salah satunya ya, promosi produk-produk unggulan desa.

Bagiku asyik-asyik saja membantu memfasilitasi registrasi website desa. Katanya sebaik-baik orang adalah mereka yang bermanfaat untuk orang lain. Nah, aku rasa dengan memfasilitasinya, bisa memberi manfaat untuk mereka. Apakah website itu akan tetap eksis atau hanya seumur jagung, itu urusan nanti. Paling tidak saat ngobrol di balai desa itu, Pak Sekdes mengatakan akan meminta para perangkat desa yang berkompeten untuk didampingi mengisi website. Itu itikad baik yang mesti didukung. Semoga konsisten.

Sekitar 300 orang pembatik yang ada di Desa Papringan adalah sumber daya yang tak sedikit. Meski kebanyakan mereka masih menjadikan pekerjaan ini hanya sambilan, tapi hasilnya lumayan. Yah. Lumayan untuk ukuran orang desa. Lumayan daripada nggak ada kerjaan. Daripada duduk-duduk sambil membicarakan keburukan orang, mending ikut membatik. Bisa buat beli jajan anak. Kira-kira begitu alasan mereka.

Memberi malam pada pola
Memberi malam pada pola

Mau bagaimana lagi, tidak mungkin mereka meminta bayaran lebih tinggi. Uang sejumlah 250 sampai 600 ribu tiap bulan yang bisa mereka dapatkan termasuk besar. Besar kecilnya tergantung jumlah kain yang bisa mereka torehkan malam padanya. Biaya produksi membatik memang harus ditekan, agar harga jualnya tidak mahal. Sekarang, banyak pengusaha-pengusaha yang bisa menjual batik dengan harga murah. Kalau lihat kualitas sih, ya murahan. Tapi kebanyakan konsumen melihat murahnya dulu. Kualitas belakangan. Tapi ada sih yang murah dan cukup bagus.

Sebenarnya sih kalau mereka lebih fokus di batik tulis, mungkin pendapatan mereka akan sedikit meningkat. Batik tulis harga relatif lebih mahal. Lebih-lebih jika motif yang digambarkan dalam kain memiliki nilai sejarah atau filosofi tersendiri. Konsumen mau saja menghargai dengan nominal yang besar. Ini kata beberapa orang. Sayangnya kesulitan pemasaran akan batik tulis ini lah yang belum terpecahkan. Hanya orang-orang tertentu yang mau membeli satu lembar kain batik dengan harga mahal. Kalau di seputaran Banyumas, belum banyak kayaknya. Siapa tahu nanti dengan pemasaran online via website desa, akan ketemu jodoh. Aamiin….

Desa yang berbatasan langsung dengan Desa Mandirancan menjadi batas wilayah kecamatan antara Banyumas dan Kebasen. Karena masuk wilayah kecamatan Banyumas pula lah, PNPM yang berlaku di sana adalah perkotaan. Padahal jika melihat ciri lokasi, Papringan seharusnya masuk kategori perdesaan. Begitu lah. Yang di lihat adalah kecamatan, bukan desanya. Prestasi mencolok saat program berlangsung, Papringan menjadi desa yang mendapatkan program ND. Yakni mendapat BLM sebesar 1 milyar rupiah bersama dua desa yang lain. Mantap!

Jika kamu lahir, tumbuh, dan berkembang di daerah sekitar Papringan, aku yakin persepsi mu tak jauh berbeda. Dulu Papringan termasuk desa yang sangat tertinggal. Jangan bicara soal pendidikan, akses jalan saja susah. Sepertinya jarang orang yang mau pergi ke Papringan jika malam menjelang. Sudah dipastikan gelap gulita. Rata-rata penduduknya miskin pula. Belum lagi cara bicaranya, sering jadi bahan ejekan. Sepertinya mereka pun selalu minder jika berhubungan dengan desa-desa lain. Ah, tapi itu dulu. Sekarang beda jauh.

Papringan yang dulu sering menjadi bahan olok-olokan, kini layak menjadi tempat berdiskusi. Bahkan kalau mau jujur, ada baiknya mereka mulai menjadikan Papringan sebagai salah satu tempat untuk belajar. Belajar bagaimana bisa mengubah wajah desa. Kesuksesan mendapatkan bantuan ND itu juga prestasi bergengsi. Sebab tidak semua desa bisa mendapatkannya. Kalau urusan batik, sekarang pun tidak harus ke Banyumas atau Sokaraja, sudah ada kelompok Pringmas Desa Papringan.

Kalau ingat waktu itu, orang-orang Papringan terkenal tekun dan ulet. Jika pada dini dan pagi hari ada orang yang dengan susah payah menuntun sepeda dengan dua keranjang besar berisikan sayuran, pasti lah mereka orang Papringan. Mereka yang menuntun sepeda itu bukan hanya laki-laki. Para wanita Papringan pun tangguh menuntunnya. Padahal jarak dari Papringan ke Patikraja hampir 4 kilometer. Nah, saat menjelang maghrib kita akan lihat iring-iringan para pria membawa banyak damen (pakan sapi) dengan sepeda onthel, pasti itu orang Papringan. Ketekunan dan keuletan dalam berusaha itu lah yang membuat mereka bangkit.

Butik Batik Pringmas
Butik Batik Pringmas

Saat sepeda motor mulai menjamur, karena murahnya uang muka, maka Papringan adalah pangsa pasar yang sangat potensial. Jika kita menyayangi motor dengan melarang berboncengan saat masa reyen, maka tidak bagi mereka. Ibaratnya sore di kirim, esoknya sudah dibawa mencari damen. Kalau kita senang mencuci motor agar tetap kinclong, kayaknya itu tidak berlaku bagi mereka. Bagi mereka motor adalah sarana bekerja sebagai pengganti sepeda onthel. Keren ya?

Kini Papringan bukan lagi desa yang di pandang sebelah mata. Kemajuan secara fisik dan intelektual mulai meningkat. Sepanjang jalan dari Papringan ke Banyumas sudah di hotmix. Jalan-jalan desa pun demikian. Gang-gang sudah di cor beton. Jalan raya sudah ramai. Tak perlu takut jika harus bepergian ke sana meski hari sudah petang. Gadis-gadis Papringan pun sudah banyak yang dicari. Orang tak malu lagi disebut sebagai “Wong Mingan” demikian sebutan mereka dulu.

Tentu keberhasilan ini bukan tanpa sebab. Motivasi besar masyarakat dengan didukung oleh Pemerintah khususnya Pemdes menjadi modal. Mereka tentu ingin sejajar dan meninggalkan kesan sebagai desa tertinggal. Tentu tak enak rasanya jika terus menerus merasa inferior dengan desa tetangga. Mengoptimalkan potensi diri agar lebih mandiri membuat mereka percaya diri. Kalau mereka mampu, kita juga harus dong.

Pemberdayaan masyarakat memang tak bisa dilakukan oleh satu dua pihak saja. Karena selalu saja ada yang bisa dilakukan untuk masyarakat, jika kita mau peduli. Toh dengan membersamai mereka, kita akan bertambah wawasan. Maka, saat aku tahu adanya pola pembinaan yang dilakukan oleh BI terhadap kelompok batik Pringmas, aku ingin belajar. Berbagai pola kerjasama antara masyarakat dengan desa, masyarakat dengan pihak ketiga, desa dengan pihak lain, desa dengan desa, dan lain sebagainya perlu dimengerti.

Pada saatnya nanti akan terjadi kerjasama bisnis antara kelompok masyarakat atau desa dengan pengusaha. Menurutku, yang mesti ditularkan ke kelompok masyarakat atau desa adalah pola kerjasamanya. Jangan sampai pola kerjasama dengan pengusaha justru akan merugikan mereka. Ini tidak sedang menilai buruk para pengusaha. Tapi yang namanya pengusaha orientasinya, kebanyakan, adalah profit. Maka minimal sekali, masyarakat tidak akan dirugikan. Kalau tidak bisa mendapatkan keuntungan secara materi, ada proses transfer ilmu bisnis dari pengusaha ke masyarakat. Ini penting.

Masyarakat perlu memahami terkait kerjasama harus ada perjanjian. Syukur ada perjanjian hitam di atas putih bermaterai. Klausul-klausul perjanjiannya pun harus dicermati. Semua pihak harus diuntungkan. Kemudian ditetapkan juga jangka waktu perjanjiannya. Saat dirasa ada klausul yang perlu diperbaiki, bagaimana kesepakatannya. Bagaimana pula jika terjadi wanprestasi, baik dari pengusaha maupun kelompok masyarakat. Siapa pula yang akan diserahi amanah jika itu terjadi. Ada baiknya semua dibicarakan pada awal kerjasama. Tapi prinsipnya jangan saling curiga dulu. Modal awal sebuah kerjasama adalah kepercayaan. Semua harus saling percaya.

Ini menjadi peran kita bersama. Jika masih kesulitan, ambil satu bagian saja untuk memberdayakan masyarakat. Bukankah pernah dikatakan bahwa kita menjadi orang kuat karena ada orang-orang lemah di sekitar kita.

Pengunjung Narsis
Pengunjung Narsis

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here