Tepiskan Rasa Terlalu Bangga Pada Diri Sendiri

0
339
Mawas diri menepis ghurur

Padanan kata untuk frasa ‘terlalu bangga pada diri sendiri’, adalah ghurur. Terlalu bangga pada diri sendiri, jelas membahayakan. Para pejuang, pegiat, dan mereka yang sedang menapaki jalan kesuksesan, bisa tergelincir olehnya. Ghurur menyelinap di relung hati dan membisikkan kalimat: “kamu lah yang terbaik”.

Dalam buku yang berjudul: “Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah”, kita menemukan salah satu penyebabnya, yaitu: ghurur. Para pendakwah yang senantiasa mendekatkan diri pada Allah SWT pun tak lepas dari rasa ini. Mereka menganggap telah berbuat baik. Bisikan-bisikan halus telah menipu. Rasa bangga pada diri sendiri begitu berlebih.

Semua manusia memiliki potensi rasa ini. Terlalu bangga pada diri sendiri membuat mereka sulit berkembang. Rasa ini merupakan pintu awal kesombongan. Sedikit demi sedikit, kita akan mengabaikan nasihat dan masukan dari orang lain. Rasa bangga yang terus di pupuk justru akan membinasakan diri.

Lebih banyak bergaul

Salah satu langkah antisipasi berkembangnya rasa ini adalah dengan lebih banyak bergaul. Bergaul yang dimaksud bukan pada kalangan sendiri. Coba lah untuk keluar dari lingkaran komunitas sendiri. Berinteraksi dengan komunitas yang memiliki patron nilai-nilai yang mereka yakini kebenarannya. Akan kamu temukan idola-idola dalam komunitas lain yang mungkin lebih baik dari kita.

Dengan banyak bergaul dengan komunitas lain, kita akan tahu, bahwa setiap komunitas pasti memiliki idola. Andai kita termasuk idola dalam komunitas sendiri, tidak serta merta akan jadi idola pada komunitas yang lain. Kesombongan dalam diri akan muncul saat akan memamerkan bahwa kita adalah idola dalam komunitas kita. Jamaknya, anggota komunitas lain akan menolak keberadaan kita dalam komunitasnya.

Jika mampu menempatkan diri dalam bergaul dengan komunitas lain, akan memberikan manfaat yang berguna. Kita akan menyadari bahwa popularitas yang kita sandang, hanya berlaku pada kalangan sendiri. Ini akan menepis ghurur dan kembali tawadhu’.

Bentuk ujian

Rasa ghurur yang muncul sejatinya wujud dari ujian. Apakah kita layak naik kelas, tetap berada pada level sekarang, atau justru terjun ke kasta yang lebih buruk. Ujian akan terus datang saat level yang kita tapaki sudah mampu dilewati. Naik atau tidaknya kita pada level yang lebih tinggi tergantung pada kemampuan melewati ujian. Rasa ghurur salah satu bentuk ujiannya.

Naiknya level kita karena mampu menempuh ujian, pasti akan diimbangi dengan kesenangan dan kebahagian yang lebih. Perjuangan yang selama ini ditempuh akan kita nikmati. Merasuknya rasa terlalu bangga pada diri sendiri menjadi hal yang mesti diwaspadai. Karena rasa ini akan selalu muncul pada tiap level yang kita tapaki.

Sebagai seorang muslim, tentu kita ingat akan peringatan ini:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sementara mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut: 2).

Mawas diri

Hal yang seharusnya terus dilakukan adalah mawas diri. Ada baiknya setiap malam menjelang tidur, kita melakukannya. Apa yang sudah kita lakukan dalam sehari. Sudahkah perbuatan yang kita lakukan benar dan bisa diterima oleh orang lain. Pastikan kita bisa melakukannya dengan baik, keesokan hari nya.

Pujian dan sanjungan dari saudara, teman, dan rekan sejawat, tak semestinya di telan mentah-mentah. Meski bibir tersungging dan berucap terima kasih, sebaiknya hati segera beristighfar. Menepis ghurur agar tak bersemayam di hati. Ghurur ibarat lumut yang mulai tumbuh dalam hati, yang kelak bisa menutupi dan membutakan hati.

Yakini lah bahwa diatas langit masih ada langit. Kita bukan siapa-siapa. Jika toh apa yang kita lakukan sudah sesuai harapan orang lain, pastikan bahwa sebenarnya hal itu wajar-wajar saja. Wajar jika melakukan hal yang demikian, karena memang itu lah tugas kita.

Nikmatnya menepis ghurur

Setiap manusia pasti akan terkena ghurur. Ghurur biasanya muncul justru pada saat kita sendirian. Awalnya rasa itu muncul sebagai pematik rasa percaya diri. Akan tetapi, memumpuk rasa percaya diri yang berlebih justru akan menumbuhkan ghurur. Kenali ciri-ciri ghurur, dan segera tepis saat dia muncul.

Mereka yang mampu menepis rasa ini, akan mengecap kenikmatan yang lain. Jika ghurur hanya dinikmati sesaat, kenikmatan karena mampu menepis ghurur, bersifat lebih abadi. Orang lain akan lebih bisa menerima kita, saat ghurur sudah pergi. Perbuatan dan ucapan kita akan dideteksi oleh orang lain, bahwa kita lebih layak dihargai.

Kemampuan menepis ghurur mampu mengeratkan jalinan persaudaraan. Imbasnya pada hubungan yang bersifat saling menguntungkan. Antara kita dengan saudara, teman, dan rekan sejawat akan saling menghargai dan menghormati. Bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang mungkin lebih baik dari kita.

Tepiskan ghurur dan songsong kebahagiaan di masa depan.

Mawas diri menepis ghurur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here