Ternyata Ngiwe Tuh Nggak Enak

4
990
Meski berjilbab, doi sukanya Ngewe

Kalau kamu bilang ngiwe itu enak, itu hak kamu. Tapi kemarin, bagiku ngiwe sama sekali nggak enak. Asli. Nggak percaya?

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba malam hari aku rasakan sakit di punggung sebelah kanan. Rasanya nyeri. Urat seperti tertarik. Saat pagi, sakit itu tetap aku rasakan. Aku ingat bahwa ini hari Jum’at, maka sebelum ke kantor aku belokkan motor ke grumbul Beji Desa Gambarsari. Aku menuju ke rumah Lik Kartem. Ibu rumah tangga yang satu ini memiliki banyak aktifitas untuk kegiatan ekonomi keluarga. Saat tetangga butuh tenaganya ke sawah, dia siap. Saat sang suami pulang membawa air nira, dia akan cekatan memasaknya guna dijadikan gula merah. Belum lagi urusan rumah tangga yang lain.

Selain itu, Lik Kartem juga memiliki keahlian menjadi tukang urut. Memang sih cuma tukang urut tradisional biasa. Hanya saja banyak orang yang merasa cocok dengan caranya memijat, termasuk aku. Lik Kartem masih saudara denganku. Bapaknya adik kandung nenek dari ayah. Dia pemanfaat SPP juga lho, anggota kelompok Budi Luhur. Nominal pinjamannya 3 juta. Lancar pula.

Grumbul Beji terletak tak jauh dari Bendung Gerak Serayu. Setelah melewati pompa air Gambasari dari arah Purwokerto, ada jalan desa masuk belok kiri persis sebelum pintu perlintasan. Namanya jalan Martal. Nama ini diambil dari salah seorang warga yang meninggal tertembak Belanda jaman Agresi Militer ke-1 (kalau tak salah). Insya Allah kapan aku tuliskan soal jalan Martal (diingatkan ya). Tak sampai 5 menit naik motor untuk sampai ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, pintu depan ditutup. Tapi pintu dapur terbuka. Mungkin dia di sana, sedang membuat gula kelapa (indel). Ternyata di dapur pun kosong. Aku masuk saja, siapa tahu Kaki Dapin (ayahnya) ada di dalam. Tak ada juga. Tapi aku dengar obrolan di kamar tengah Lik Kartem dengan seseorang. Rupanya sedang ada orang yang dia urut. Sebentar dia menghentikan aktifitasnya dan menemuiku. Dia suruh aku menunggu terlebih dahulu.

Doi sukses justru karena Ngewe
Doi sukses justru karena Ngiwe

Sekilas aku lihat ruang belakang. Sudah berubah. Pintu masuk dari dapur yang tadinya langsung menembus ruang tengah sudah ditutup. Pintu di geser melalui ruang makan terlebih dulu. Sedang kamar mandi dalam yang beberapa waktu yang lalu masih belum rapi, kini sudah layak pakai. Jenuh rasanya menunggu, terlebih rasa nyeri ini terus mengganggu.

Aku sempatkan telpon ke sana kemari. Ah tak ada yang diangkat. Paling juga pada sibuk kerjaan. Akhirnya Gonus telpon balik. Niatanku tadi hanya menanyakan kabar. Apakah dia sudah sembuh atau belum. Alhamdulillah sudah mulai lembur-lembur. Syukur lah.

Kemudian Andi Nopriyanto, Ketua UPK Kec. Wanareja-Cilacap pun telpon. Sebenarnya dia kemarin sempat telpon dan SMS. Hanya saja kemarin HP tertinggal di kantor saat di cas. Sedang aku mengantar rombongan Tim Audit Silang dari Patikraja ke Bangsa dan Adisana. Sayangnya dulu aku tak simpan nomor itu. Saat dia telpon tadi, baru aku kenali suaranya. Dia ingin bertanya terkait postinganku di grup FB Assosiasi UPK Indonesia Mandiri. Rencana berdiskusi secara non formal dengan Pak Sujana Royat, yang akan mengisi acara di Hotel Aston Purwokerto pada Senin mendatang. Aku bilang yang datang perwakilan saja. Biar tak di kira mau demo… hehe….

Aku, Syamil, Ata, dan Marsha (ponakan)
Aku, Syamil, Ata, dan Marsha (ponakan)

Kurang lebih satu jam aku di pijat. Mulai dari telapak kaki, jari-jari kaki hingga naik ke punggung. Saat jari kelingking kaki kiri di urut aku sudah terkesiap. Pegelnya minta ampun. Kata Lik Kartem ini saluran ke punggung sebelah kiri. Artinya di sana pun ada sedikit masalah. Cengar cengir dan tahan nafas untuk mengurangi rasa sakit, membuat aku tak bisa ikut ngobrol soal Singgih, anaknya. Meski beberapa waktu yang lalu dia bilang Singgih lagi mendaftar kerjaan di PT. KAI.

Aku baru bisa menimpali saat pijatan di punggung. Rasanya enak. Sepertinya aliran darah sudah mulai lancar. Saat tangan kiri dia urut pun aku masih enak-enak saja ngobrol. Tiba giliran punggung sebelah kanan di pegang, aku mulai cengar-cengir lagi. Tahan nafas. Dia bilang, ada urat yang bergeser. Tapi dia bilang ini tak mungkin kemarin. Pasti sudah lama, lebih dari satu minggu. Apa iya sih?

“Angger nembe wingi larane mesti ora kaya kiye,” ujarnya. Aku semakin mengerang kesakitan.

Sementara dia alihkan pijatannya. Kini kembali ke kaki dan pinggang. Kemudian ke kepala. Aku pun masih bisa ikut bincang-bincang soal aktifitasnya. Saat aku disuruh tidur miring dengan tangan kanan di atas, dia mulai beraksi lagi. Krim pijat dia ambil banyak-banyak. Tujuannya agar bagian yang di pijat jadi licin, tak terlalu sakit. Nyata nya aku tetap kesakitan. Ugh.

Ternyata rasa sakit itu menjalar ke ketiak, dan dada sebelah kiri. Dia tak lagi mengajakku ngobrol. Fokus pada pijatannya. Suara yang keluar adalah erangan dan tubuh yang mengeliat kesana kemari menahan rasa sakit. Melihatku demikian, dia berhenti sebentar. Membiarkan aku mengatur nafas. Nafasku memburu. Menahan nafas saat di pijat tadi tak bisa mengurangi rasa sakit. Sesaat kemudian aku di suruh telentang.

Dia pijat dada, leher, kening, dan kepala lagi. Tak lama kemudian aku di suruh duduk. Kali ini proses pemijatan di bagian yang sakit dia akhiri. Besok-besok aku akan ke sana lagi. Setelah sebelumnya aku disuruh minum teh, aku pamitan. Sebenarnya aku di suruh makan pula, tapi aku emoh. Karena sudah ada pasien yang menunggunya. Dia akan pergi ke rumah tetangga yang sudah mengantri. Maka aku pun pergi ke kantor.

Aroma krim pemijat mungkin begitu menyengat. Saat Nur bertanya aku darimana, dan aku bilang baru pijat, Rosi menimpali soal bau krim tadi. Tak perlu aku katakan pijat dimana, mereka sudah tahu. Lik Kartem sudah cukup dikenal soal kemampuannya memijat. Aku cuma katakan penyebabnya. Mungkin karena beban berat di tas, yang terkadang aku sampirkan di pundak kanan saja. Rasa sakit itu pula yang membuat aku ijin, dan hanya titip, saat mereka mengajak kondangan ke rumah salah satu ketua kelompok SPP.

Mungkin karena menganggap remeh, aktifitasku aku lakukan seperti biasa. Sembari menahan cenat-cenut di tempat yang sakit, aku tetap melakukan apa yang semestinya dilakukan. Termasuk menyusul kawan-kawan Gerakan Desa Membangun (GDM) di Baturaden. Hari Sabtu (13/9/14) kemarin adalah hari terakhir kegiatan TOT 2.0 pendampingan desa-desa melek IT. Materi yang disampaikan hari ini soal program Mitra Desa. Yakni program berbasis FOSS (Free Open Source System) yang digunakan untuk melakukan input data di desa.

Kencang aku tarik gas saat melihat jalanan lengang. Sekitar jam 11 siang aku berangkat. Jalanan masih sepi. Meski jalur yang aku lewati biasanya ramai, jalur Patikraja -Tanjung. Dari Alun-alun Purwokerto aku ambil arah lurus hingga SPN (Sekolah Kepolisian Negara) di Watumas Purwokerto. Jalur ini biasanya memang sepi daripada jalan HR. Bunyamin dimana para mahasiswa Unsoed akan lalu lalang berebut bersama pengguna jalan yang lain. Demikian pula saat memasuki wilayah Desa Pandak hingga terminal atas Baturaden. Gas aku tarik semauku. Memaksimalkan kecepatan motor matik keluaran 2008.

Kekhawatiran kawan-kawan di luar Banyumas sana akan berita-berita hoax yang beredar terkait erupsi Gunung Slamet harus aku buktikan. Itu hanya komoditi untuk dijual. Dampak negatifnya jelas, mengurangi jumlah pengunjung ke Lokawisata Baturaden. Padahal baik di terminal atas maupun bawah, berjajar bus-bus pariwisata. Berita hoax mesti di klarifikasi.

Rasa cenut-cenut kembali aku rasakan saat aku pulang. Bahu kanan seolah tak bisa di angkat sejajar bahu kiri. Kalau ada yang melihat dan berkomentar tentang cara ku memegang gas, mungkin mereka akan berujar, “Tangane sengkleh ndean”.

Selepas maghrib aku minta tolong Sakum, adik sepupu ku untuk memijit. Aku ceritakan kronologis kejadiannya. Kebetulan dia pun sedikit punya keahlian untuk itu. Perlahan Sakum memijit bahu, tulang belikat (centhongan), ketiak, dan dada sebelah kanan. Aku cengar cengir menahan sakit. Rheumason yang dia gunakan terasa panas. Tapi justru membuat sakit berkurang. Sakum tekan bahu kanan sembari menggerak-gerakkan tanganku memutar perlahan. Kemudian dia tarik perlahan pula. Kembali ke dada sebelah kanan, ke bagian tulang rusuk, ketiak, dan begitu seterusnya. Rasa sakit menjadi berkurang banyak. Aku merasa lebih baik.

Ternyata rasa lebih baik itu hanya sebentar. Saat rasa panas dari Rheumason sudah hilang. Rasa sakit itu kembali. Entah karena aku melayani kedua anakku yang bermain atau posisi miring ke kanan saat tidur itu penyebabnya. Yang jelas semakin malam intensitas rasa cengkring-cengkring semakin sering. Sakit sekali. Aku hampir menangis. Bingung mau bagaimana. Istri ku juga bingung.

Kemudian aku pergi ke rumah Kang Dasim yang rumahnya di belakang rumahku. Dia cucu dari Nini Katem, kakak ketiga dari Nini Karlem, nenek dari ibu. Dia baru pulang dari Maos. Ada kepentingan. Kebetulan juga, Desi, anaknya pun baru memasukkan motor. Malam ini dia shift sore, kerja di sebuah supermarket di Purwokerto. Kang Dasim segera keluar mencarikan tukang urut. Yang terdekat, Pak Yadi. Meski saat berangkat agak sedikit khawatir, karena Pak Yadi biasanya pergi memancing pas malam-malam.

Untung Pak Yadi tidak pergi memancing. Dia sedang duduk-duduk di sekitar Bundaran Pertigaan Mandirancan. Dimana saat kamu melewatinya dari arah Purwokerto, jika kamu lurus akan sampai ke Sampang melalui Kebasen, dan saat kamu belok kiri, kamu akan sampai ke Banyumas. Sebenarnya itu bukan pertigaan, tapi perlimaan. Pasalnya ada dua jalan desa yang juga berujung ke sana. Tak apa, orang lebih tahu kalau itu pertigaan.

Pak Yadi datang ke rumah Kang Dasim. Aku memang maunya di pijat di sana. Takut jika nanti aku kesakitan, eranganku akan membangunkan anak-anakku. Biasanya Pak Yadi kalau memijat memang keras, dan membuat sakit. Soalnya pas aku dulu di pijat juga demikian. Kembali aku ceritakan sebab musababnya. Dia pun menyayangkan akan keterlambatan penanganan. Mengapa tak segera aku meminta tolong kepadanya atau yang lain saat baru terasa sakit. Yah, ini lah resikonya menganggap remeh sesuatu.

Tuh, benar apa kataku tadi. Aku kembali mengerang kesakitan. Padahal Pak Yadi mengaku kalau pijatannya tak seperti biasa. Dia tahu, selain aku tak kuat menahan, berdasar pengalamannya dulu, ini pun pijatan ketiga dalam 2 hari ini. Bekas memar (njarem) masih ada. Biasanya memang harus ada jeda waktu jika mau kembali di pijat. Aku kembali mengerang. Menahan nafas. Berpegangan pada kursi di mana aku duduk.

Cara memijit Pak Yadi tak jauh beda dengan Sakum. Karena hanya fokus pada bagian yang sakit saja. Sedang Lik Kartem tidak. Dia akan memijat bagian-bagian lain meski tidak dirasakan sakitnya. Kata Lik Kartem untuk melancarkan peredaran darah. Sebaiknya memang begitu. Kebiasaan mengendurkan otot-otot melalui pijatan merupakan salah satu tindakan preventif terhadap penyakit. Cuma sayangnya, kebiasaan orang-orang jaman sekarang, pijat itu lebih pada upaya pengobatan. Mereka akan lari ke tukang pijat saat ada rasa sakit saja. Seperti aku ini… hehe….

Pijatan Pak Yadi tak terlalu lama. Seperti Sakum tadi. Rasanya kini senut… senut… panjang dan terasa besar.  Pak Yadi bilang itu wajar saja. Karena baru tadi di urut sama Sakum, lha sekarang dia pencet-pencet. Meski rasanya sudah agak baikkan, aku bilang akan minta tolong lagi ke dia jika masih terasa sakit esok harinya. Pak Yadi hanya mengiyakan. Harus ada jeda waktu katanya.

Aku kenal Pak Yadi sudah lama. Aku pun tahu karakternya, khas orang desa. Maka jangan kamu artikan naif, tatkala dia awalnya menolak uluran amplop yang aku berikan. Aku sampai berdiri mengejarnya ke halaman rumah Kang Dasim. Isinya sih memang tak seberapa, ini sekedar ucapan terima kasih saja. Ini lah ciri khas orang desa yang sebenarnya. Niat awal pasti lah menolong sesama. Tak mengharapkan imbalan apa-apa. Seperti kepada Lik Kartem dan Sakum, benar-benar aku cuma berterima kasih. Toh selama ini baik Lik Kartem maupun Sakum tak pernah berubah sikap.

Ini lah kehidupan orang desa, Saudara. Saling tolong menolong, bahu membahu, tak mengharapkan imbalan dari orang yang memang tak bisa memberi imbalan. Kamu-kamu yang sudah terkontaminasi dengan cara hidup orang kota mesti kembali. Bahkan orang kota aku rasa perlu belajar berperikehidupan seperti masyarakat desa. Bukan kah ini ciri khas bangsa kita?

Malam itu aku bisa tidur agak pulas. Rasa senut-senut panjang yang terasa besar di dada dan punggung aku bisa tahan. Aku pun memposisikan agak jauh dari anak-anak. Ata tidur di sampingku. Bantal guling aku letakkan sebagai pembatas, takut dia menendangku saat dia rubah posisi. Tidur Ata lebih tenang ketimbang Syamil. Syamil suka guling sana guling sini, posisi kepala yang tadinya di sebelah timur, bisa saja jadi di utara, selatan, atau bahkan di barat. Tak beraturan.

Kaku aku rasakan saat bangun tidur. Tangan kananku sakit saat aku gerakkan. Harus perlahan jika mau merubah posisi. Sakit pula saat aku angkat gayung di kamar mandi. Lemas pula. Untung saja ini hari Minggu. Ata tak sekolah, aku libur. Hanya saja janji untuk bepergian bersama terpaksa aku batalkan. Ata sedikit ngambek. Dia sudah menunggu-nunggu hari itu. Terlebih jauh-jauh hari sudah aku janjikan. Maafkan bapak, ya. Tapi dia anak yang pengertian. Dia tak lagi menuntut saat istriku katakan kalau aku sakit. Tak bisa naik motor.

Praktis aku gunakan tangan kiri untuk melakukan apa-apa. Makan, minum, ambil novel yang akhirnya tak aku baca, dan menyalakan notebook ini. Jenuh rasanya hanya tidur dan tidur-tiduran di kamar. Rasanya ingin pergi dan beraktifitas. Tapi rasa itu justru menambah sakit. Pikiran untuk menulis pun membuat senut-senut itu bertambah. Aku harus bersabar dan istirahat. Tubuh pun merespon demikian. Rasa kantuk mengajak aku terlelap lama. Sejak pagi hingga dhuhur, kemudian setelahnya hingga menjelang ashar.

Suka ria anak-anak demi melihatku tak kemana-mana justru membuat aku waspada. Keduanya bermain-main di dua tempat tidur yang sengaja aku posisikan berdekatan. Dempet. Kamar kami cukup luas, 5×2,8 meter. Sengaja aku setting demikian agar kami bisa tidur bersama dalam satu kamar.

Ata maupun Syamil berlari-lari kecil dan loncat-loncatan di sana. Syamil bahkan menjatuhkan diri di dekatku, kemudian berguling-guling yang diakhir tiduran di perutku. Senang rasanya. Bahkan sejak dia di sapih beberapa hari setelah lebaran kemarin, aku ingin tidur bersamanya. Sayangnya dia masih menolak. Lebih nyaman tidur bersama istriku. Entah kenapa, padahal rayuan gombalku sudah aku umbar. Masih tak mempan juga.

Saat mereka berdua dimandikan oleh istriku, rasa sakit itu kembali datang. Kegembiraanku bermain bersama anak-anak ternyata memperbanyak gerak tangan kanan yang berakibat rasa itu datang lagi. Padahal saat tak ada anak-anak harus berhati-hati, lha saat bersama mereka aku gerakkan seenak hati. Nah, saat anak-anak kembali ke kamar, menuju ranjang tidurku untuk berpakaian, aku pun menyingkir ke ranjang tidur di sebelahnya lagi. Getaran ranjang karena Syami loncat-loncat sambil bernyanyi-nyanyi, senut-senut itu terasa sekali.

Ibu menyarankan aku agar pindah ke kamarnya saja. Dia pilih menyingkir. Dia ingin aku tidur nyenyak dan tidak terganggu oleh kedua anakku. Memang setelah maghrib tiba, Syamil melempar-lempar bantal. Dia berujar dengan suara cadel-nya, yang ternyata sedang menirukan gerakan orang-orang yang sedang menaikkan kayu ke truk. Senang dia memang melihat truk. Hampir setiap dia melihat truk saat kami bepergian, dia akan berteriak: “Tak Atin… Tak Atin….”

Semua truk yang dia lihat akan dinisbatkan sebagai Truk Atin. Truk miliknya Om Atin, tetangga dekat rumah.

Benar apa kata ibu. Sejak Isya aku tertidur pulas. Tak lagi kurasakan senut-senut panjang dan terasa besar itu. Sebelah kanan ada bantal guling dimana aku taruh tangan kanan ku di sana. Saat miring ke kiri, ada bantal empuk nan besar yang bisa aku peluk. Keduanya tak menimbulkan rasa sakit.

Andai saja tak merasakan rasa lapar, mungkin aku tak terjaga. Aku cari stok makanan selain nasi. Aku temukan ada beberapa roti kaleng kering dalam kaleng. Plus aku seduh kopi sachet. Lumayan buat ganjal perut. Wah, ternyata sudah jam 01.00 WIB. Padahal kemarin dan tadi aku lihat jadwal pertandingan antara Manchester United (MU) melawan Queens Park Ranger (QPR). Telat sudah.

Efek kopi dan terlalu banyak tidur membuatku tak bisa pejamkan mata. Maka buka notebook guna mencari kabar di sosial media menjadi pelarian. Ternyata, MU menang 4-0. Miris ku lihat klub yang aku cintai ini terjajar di posisi 7 Liga Primer Inggris musim lalu, dan masih terseok-seok di musim ini. Sepeninggal Sir Alex Ferguson, tim berjuluk The Red Devil ini belum menemukan formasi yang tepat. Meski sudah mendatangkan pemain-pemain top lainnya. Kasihan Rooney.

Meski senut-senut itu masih terasa, aku bisa merampungkan tulisan ini. Bahkan sejak jam 1 dini hari tadi sampai adzan subuh terdengar, aku lancar mengetik dengan kedua tangan.

Sesuai judul diatas, aku tetap berpendirian kalau ngiwe tuh nggak enak. Buktinya saat makan, banyak nasi berceceran, saat makan bakso, eh malah menggelinding. Tadi pas menuangkan air dari termos pun hampir tumpah. Pokoknya tetap enakan pakai kedua tangan. Kecuali yang kidal… hehe….

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here