Tersenyum karena Temanggung Bersenyum

0
323
Narsis bareng beberapa Kades

Bagian ke-3

Paska pemaparan materi, dialog pun dilakukan. Sesi ini dipandu oleh Ketua BKAD Kec. Bulu. Meski sudah agak sore, para Kepala Desa masih antusias berdiskusi. Apalagi saat sesi sambutan baik dari Camat maupun Kepala Bapermas, acara diskusi sepertinya tak ada. Berbagai informasi menarik dari Pemkab. Temanggung menjadi bagian diskusi tersebut.

Pengembangan ekonomi berbasis kawasan berupa bantuan ternak sapi dan pengembangan pasar desa, membuatku agak iri. Kepala Bapermas menghimbau agar pemanfaatan pasar desa bisa mendorong perekonomian masyarakat desa. Salah satu pasar desa yang hendak didorong ialah Pasar Desa Ngimbrang. Beliau berharap sentra pemasaran sayuran akan diwujudkan secara bersama di sana.

Kelangkaan gas LPG 3 kg pun menjadi sorotan. Para kepala desa berharap agar BKAD bisa melakukan pendekatan terhadap distributor guna mencari solusi nya. Andai diperlukan agen penyalur di kecamatan Bulu, para Kepala Desa siap mendukung. Tentu saja dengan pola kemitraan dari UPK dan BKAD.

Semangat kebersamaan

Diskusi tersebut menggambarkan semangat kebersamaan. Kesadaran akan pentingnya kerjasama antar desa begitu terasa. Kesulitan yang tak bisa diselesaikan sendiri, bisa diupayakan dengan bekerjasama. Kerjasama antar desa menjadi salah satu solusinya.

Menurut Kepala Desa Ngimbrang, selaku Ketua Forum Kepala Desa, para Kades yang hadir di sini lah yang selama ini mendukung kegiatan UPK dan BKAD. Kesolidan antar mereka, tak perlu diragukan. Pertemuan ini menjadi pemantik wacana-wacana kerjasama kemitraan di tahun 2017 mendatang.

Sesekali memang perlu ruang-ruang diskusi begini. Kesibukan beliau-beliau di masing-masing desa, akan terbantu saat saling sumbang saran. Tak menutup kemungkinan, terjalin kerjasama untuk meringankan permasalahan yang ditemui di masing-masing desa. Wawasan bertambah, solusi pun lebih mudah ditemukan.

Usaha BUMDesa

Saat diskusi dengan Kepala Desa Pandemulyo, aku tertarik gagasannya. Beliau sudah merencanakan membuat jaringan air bersih di desa nya. Pemasangan pipa dari sumber mata air ke pemukiman warga sangat diperlukan. Namun demikian, beliau ingin agar nantinya instalasi ala PAMSIMAS ini dikelola oleh BUMDesa.

Oleh karena nya, beliau sudah mulai menghitung biaya instalasi, perkiraan nilai ekonomis, prediksi biaya perawatan, dan jumlah calon pelanggan air bersih. Menurut beliau, perhitungan estimasi biaya dan besaran iuran bulanan akan dipertimbangkan benar. Perkiraan biaya total dan variabel guna pemasangan pipa tersebut akan menjadi ukuran dalam menentukan besaran iuran.

Beliau yakin, peminat pelanggan di desa nya akan banyak. Namun demikian, keberadaan BUMDesa dalam pengelolaan tak mencari profit murni. Asal cukup untuk biaya perawatan dan operasional pengurus, sudah Alhamdulillah. Syukur bisa memberikan sumbangsih bagi pendapatan desa.

Pemikiran maju disampaikan oleh Pak Said, Kadus di Desa Tegalrejo. Beliau tertarik ingin mengembangkan wisata desa. Wisata edukasi menjadi gagasan yang ingin dikembangkan. Ketiadaan destinasi wisata alam yang menarik, tak membuatnya surut.

Dari berbagai diskusi dimana aku terlibat didalamnya, aku menemukan satu kekurangan. Yakni keberanian mengeksekusi. Kebanyakan ide dan gagasan yang terungkap, masih menjadi angan-angan. Hal ini tidak terjadi di kecamatan Bulu saja. Di beberapa tempat, dimana aku ikut berdiskusi pun demikian.

Eksekusi gagasan memang membutuhkan keberanian. Tentu saja keberanian dalam eksekusi yang berkualitas. Yakni ada nya perencanaan meski tak terlalu detail. Memposisikan diri sebagai risk manager, bukan risk taker, apalagi avoid the risk. Ini lah pembeda antara leader dan manajer.

Promosi via Internet

Keberadaan desa yang berada di pelosok, tak banyak diketahui orang. Ini lah perlu nya desa narsis. Dengan sering mempromosikan desa melalui internet, keberadaan desa akan lebih di kenal khalayak. Demikian juga dengan segenap potensi yang dimiliki oleh desa. Promosi desa pun akan lebih mudah.

Hal ini aku sampaikan pada diskusi-diskusi kecil. Saat paparan, lupa tidak aku sampaikan.

Promosi wisata ala Tegalrejo dan pemasaran produk UKM di Desa Campursari, perlu dilakukan melalui internet. Kemanfaatan internet dalam mendukung kemandirian desa, aku sampaikan. Lagi-lagi Dermaji yang aku jadikan contoh. Tak ketinggalan keuntungan dari hobi menulis via website pribadi ku.

Menurut Gondo, salah satu masalah yang akan dibantu solusi nya ialah soal jaringan internet. Anggaran sudah disiapkan untuk mengatasi blank spot di beberapa titik. Sebagai pengguna sosial media, teman-teman di sana sudah merasakan betul manfaatnya. Sayang nya jaringan internet masih jadi kendala di desa-desa.

Saat itu, aku perkenalkan Kang Dodiet pada mereka. Aku sampaikan bahwa di Desa Wlahar Wetan ada 3 (tiga) titik free wifi bagi warga masyarakat. Tapi urusan teknis aku tak tahu. Biar saja Gondo dan Pak Bagyo bertanya langsung.

Tak ketinggalan aku sampaikan program 1 juta domain bagi UKM. Program dari Kominfo bisa dimanfaatkan. Siapa tahu ada yang berminat, silakan kontak Pradna.

Narsis bareng beberapa Kades
Narsis bareng beberapa Kades

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here