Tersenyum karena Temanggung Bersenyum

4
311
Ngobrol bareng Pak Mukidi

Bagian ke-5 (terakhir)

Beruntung perjalanan kami difasilitasi oleh mobil inventaris BKD (Badan Kredit Desa). Lembaga keuangan milik desa ini akan bertransformasi menjadi BPR sesuai surat edaran dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Salah satu branding yang dilakukan, ya dengan pengadaan mobil operasional ini.

Kami tak perlu susah payah berpindah dari Rumah Makan Kampoeng Sawah ke Kedu dan dilanjutkan sowan ke rumah Pak Mukidi. Pegiat pemberdayaan yang fokus pada peningkatan kesejahteraan petani kopi, beberapa waktu lalu jadi viral. Guyonan dengan tokoh Mukidi justru berkah bagi beliau. Selain di undang di acara Hitam Putih, para tamu dari luar kota bertambah banyak.

Beliau sebenarnya sudah dikenal oleh para pegiat pemberdayaan. Aktifitasnya mengajak warga untuk mengatasi lahan kritis didaerahnya, menjadi fokus awalnya. Alhasil, komoditas kopi menjadi andalan beliau dan masyarakat sebagai produk unggulan. Sekilas tentang Pak Mukidi dan kopi nya, sudah aku tulis di website ini dengan judul: “The Mukidi Series”.

Sang idealis

Beliau begitu semangat bercerita tentang pemberdayaan petani kopi. Bersama para petani di Desa Gendurejo Kec. Bulu Kab. Temanggung, beliau sepakat untuk tidak menjual green bean. Sebab harga green bean sangat murah. Tidak match dengan pengorbanan yang sudah dilakukan para petani. Padahal kita tahu, harga secangkir kopi di Starbuck sangat mahal.

Pak Mukidi melakukan edukasi kepada para petani. Jika ingin sejahtera, maka petani harus bisa menjual kopi dalam bentuk bubuk. Proses dari memetik, mensortir, mengupas, mengeringkan, dan memasak biji kopi, coba beliau ajarkan. Inti nya, petani kopi harus pintar dan cerdas agar kesejahteraannya meningkat.

Kebiasaan petani menjual pada tengkulak, mesti di lawan. Tak mudah memang. Apalagi kebanyakan petani masih sangat tergantung dengan mereka. Padahal jika membandingkan jumlah uang yang diterima, dengan tenaga yang sudah dikeluarkan, sangat tidak sepadan.

Seperti para idealis lainnya, Pak Mukidi lebih memilih hidup sederhana ketimbang menggadaikan gagasannya. Bisa saja beliau menjadi makelar biji kopi bagi para pengusaha. Uang akan datang dengan sendiri nya. Tapi tak beliau lakukan.

Aktif di internet

Pak Mukidi termasuk orang yang melek IT. Sembari ngobrol, beliau asyik dengan laptop nya. Sambil membaca berita, belajar banyak hal, beliau pun sering narsis. Beliau sering mengunggah aktifitas nya di internet. Melalui jejaring ini lah orang-orang di luar Temanggung mengenal dan mengunjungi kediamannya.

Pemasaran online menjadi salah satu kekuatannya. Pasalnya untuk mendirikan kedai kopi, butuh modal tak sedikit. Memamerkan aneka produk kopi yang diolahnya melalui sosial media, website, merupakan cara murah yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Kearifan dalam memanfaatkan teknologi, pasti berbuah manis.

Sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI)

Salah satu kritik beliau yang aku sepakat ialah soal SNI. Sembari ngobrol, beliau pamerkan lembar sertifikat SNI untuk kopi nya. Beliau mengaku, andai tidak ada yang membayari, tentu kopi buatannya tak mungkin ber-SNI. Satu lembar sertifikat SNI membutuhkan dana sampai ratusan juta untuk mengurusnya. Wow!

Kebijakan menstandarkan semua produk harus ber-SNI, sama saja mematikan kreatifitas. Kasus televisi Kusrin pun demikian. Karena tak memenuhi standar SNI, televisi buatan kuli bangunan itu disita dan dibakar oleh pihak Kejaksaan Negeri Karanganyar.

Sebenarnya, keberadaan SNI dimaksudkan sebagai perlindungan konsumen. Langkah ini dilakukan oleh pemerintah untuk melindungi masyarakat dari perilaku nakal produsen. Penipuan demi penipuan yang dialami oleh konsumen lah pemicu nya. Sertifikat SNI merupakan intervensi pemerintah dalam mencegah penjualan produk tak layak konsumsi.

Namun, pengenaan tarif tinggi untuk mengurus biaya sertifikat itu lah permasalahannya. Para pengambil kebijakan berpikir, dengan tinggi nya biaya, maka tak mudah para pelaku plagiat mengurusnya. Jika produk tak benar-benar layak, sulit beredar. Sertifikat SNI jadi patokan.

Bagi pemerintah, ini menjadi dilema. Keinginan untuk melindungi konsumen dari penipuan, justru mematikan kreatifitas masyarakat. Andai mereka bisa memproduksi dan bisa dipasarkan, tentu skala usaha nya masih kecil. Tingkat kepercayaan konsumen akan produk tertentu, dijamin oleh sertifikat SNI.

Bagaimana solusi nya? Ini tugas kita bersama.

Yang jelas, perjalanan ke Temanggung kali ini, banyak manfaat yang membuat aku tersenyum. Mengisi workshop bagi para Kepala Desa di Kec. Bulu, belajar pengolahan kefir di Kedu, dan menyerap energi positif dari Pak Mukidi, merupakan pelajaran yang berharga.

Yang belum sempat aku dapati ialah nugget ala Mba Nurwening dan ketemu si pembuat riang: Beni.

Ngobrol bareng Pak Mukidi
Ngobrol bareng Pak Mukidi

4 KOMENTAR

  1. di warungkatapusur, kami menyajikan menu joker. yoghurt kelor. kelor kan banyak khasiatnya dan berlimpah di sekitaran kita. susu sapi perah juga banyak di KUD Jatinom. memberi perasa dan pewarna alam untuk keluarga tercinta adalah keharusan lah. mosok keluarga mau disuguhin produk yg beracun, pake pengawet, perasa buatan kimia, perisai yg tidak sehat tubuh dan lingkungan.

    pinarak ke desa polan, kecamatan polanharjo, klaten. mandi-mandi cantik di umbul sigedang. hehe. hanya 2 km saja dari warungkatapusur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here