Tersihir dan Tersindir di Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru

4
832
Pemanfaatan konsep Kampung Wisata Bisnis

Kalau saja aku turun dan tidak mengikuti jadwal ke Tegalwaru, pasti aku menyesal. Tapi, aku putuskan untuk menyelesaikan kegiatan bersama teman-teman BKAD dan UPK se-kabupaten Banyumas dulu. Mengunjungi Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru di daerah Ciampea Bogor, menjadi pemicu untuk bergerak lebih kreatif lagi.

Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru membuatku tersihir sekaligus tersindir. Aktifitas pemberdayaan yang digawangi oleh Tatiek Kancaniati (43 tahun) begitu nyata. Beliau bersama teman-teman melakukan pemberdayaan kepada masyarakat di Tegalwaru hanya bermodal kemauan dan berlabel yayasan.

Kesuksesan Yayasan Kuntum yang digawangi Tatiek, tak lepas dari keterlibatan warga desa semua. Meski pada awalnya banyak rintangan, mereka yang mayoritas penggeraknya adalah perempuan, tetap berjalan. Niat baik saja memang tak cukup. Kuatnya tekad dan konsisten memberdayakan masyarakat menjadi kunci. Gaya berbeda yang dilakukan dalam hal pemberdayaan ini menarik. Meski bergerak dari sisi sosial, profit dalam melakukan usaha pemberdayaan tetap diperhatikan. Implementasi konsep social entrepreneur nya berjalan.

Pemanfaatan konsep Kampung Wisata Bisnis

Pemetaan sosial

Sebelum memutuskan terjun memberdayakan masyarakat, Ibu Tatiek melakukan pemetaan potensi Desa Tegalwaru. Meski saat pulang kampung sudah berniat melakukan pemberdayaan, namun dia merasa perlu data valid. Ibarat mau berperang, harus tahu medan sehingga tindakan yang akan diambil, akan lebih tepat. Pemetaan itu dia lakukan secara door to door.

Hasil pemetaan yang dilakukan, fakta menarik dia temukan. Masyarakat Tegalwaru cekatan dalam membuat suatu produk. Kendala klasik seperti permodalan dan pemasaran, menjadi pekerjaan yang harus dicarikan solusinya. Temuan lain berupa tidak berjama’ahnya mereka dalam hal pemasaran. Model pemasaran produk masih seadanya. Sisi produksi pun masih sekedarnya saja. Kualitas belum diperhatikan, dengan alasan: “daripada menganggur”.

Data yang dikumpulkan menjadi dasar Tatiek dan yayasan Kuntum melakukan pemberdayaan. Menurut beliau, yang kemudian segera dilakukan adalah melakukan training manajemen usaha skala rumahan, marketing kreatif, dan berkoordinasi dengan masyarakat dan aparat birokrasi, yakni Lurah dan Camat.

Untuk mengatasi permodalan, Tatiek pernah mencoba mendirikan koperasi. Sayangnya masyarakat belum siap. Koperasi yang didirikan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Masyarakat belum amanah dalam menjalankannya.

Praktek pembuatan nata de coco

Khas desa

Usaha yang dilakukan masyarakat Tegalwaru tidak terlalu istimewa. Jenis usaha khas desa, seperti jamur tiram, budidaya papaya California, jambu Kristal, aneka keripik, pembibitan ikan, ternak kelinci, dan lain sebagainya, tergolong usaha yang biasa-biasa saja. Namun, kemasan Kampung Wisata Bisnis dalam konsep pemasaran usaha, itu lah yang menarik.
Pemberdayaan dengan memperhatikan kemampuan sumberdaya manusia desa, tetap dilakukan oleh yayasan Kuntum. Tidak ada hal yang terlalu istimewa. Memang ada beberapa usaha yang dilatihkan oleh yayasan Kuntum, seperti Nata de coco, kerajinan daur ulang kertas, dan produksi Yoghurt. Akan tetapi kesemuanya, merupakan jenis usaha yang sebenarnya mudah di tiru.

Yayasan Kuntum dalam melakukan pengembangan konsep kampung wisata bisnis tidak mendatangkan sesuatu yang relatif baru. Sentuhan mereka hanya dalam konsep marketing kreatif dan kolektifitas usaha. Dan hal yang demikian, membutuhkan dukungan luas dari masyarakat, seperti Hansip, tukang ojek, para pemilik warung makan, dan aparat birokrasi tentunya.

Kunjungan ke UKM tanaman herbal

Hasil

Kerja pemberdayaan yang dilakukan bersama masyarakat, menjadikan Tegalwaru sebagai tujuan wisata dengan jumlah pengunjung lebih dari 15.000 orang. Menurut Tatiek, omzet rata-rata per bulan dari usaha ini mencapai 2 milyar. Pencapaian angka tersebut diperoleh dari hasil penjualan produk masyarakat, tiket masuk lokasi, dan event kunjungan. Untuk tiket masuk lokasi dan hasil penjualan, sepenuhnya menjadi hak pemilik UKM. Sedangkan Tatiek dan yayasan Kuntum mendapatkan hasil dari event kunjungan.

Beberapa UKM yang dibina menjadi obyek liputan televisi nasional seperti ANTV: Perempuan Hebat ANTV, MNCTV: Program Acara Liputan Pagi, Inspirasi Sore, Diantara Kita, Trans 7: Laptop si Unyil, Merajut Asa, Metro TV, NET TV dan lain sebagainya. Liputan dari televisi nasional membawa manfaat lebih. Promosi yang sedianya dilakukan melalui mulut ke mulut, pamflet, sosial media, kini menjadi lebih jauh jangkauannya.

Siapa yang bersungguh-sungguh, akan sampai apa yang dia tuju. Keyakinan yang dilakukan dengan kerja nyata, mencapai tujuan atau bahkan melebihi. Tatiek Kancaniati tak pernah bermimpi akan diundang menjadi narasumber di berbagai tempat. Kepulangannya ke kampung halaman dan melakukan pemberdayaan, lebih terinspirasi dari sang suami yang bekerja pada lembaga swadaya masyarakat.

Tatiek Kancaniati sendiri mendapat dampak positif dari aktifitasnya. Beliau pernah menjadi finalis tokoh pendamping kewirausahaan nasional yang diselengarakan oleh Yayasan Bina Swadaya dan Prof. Rhenald Kasali. Sering menjadi narasumber dalam seminar-seminar nasional baik di universitas-universitas, BUMN, Dinas Pertanian, maupun seminar internasional. Beliau juga pernah dipercaya menggawangi training persiapan Tenaga Kerja Wanita (TKW) Exit di Hong Kong dan dosen kewirausahaan di Saint Mery Universitas Hongkong.

Interaksinya bersama para buruh migran membuatnya berencana akan membangun pesantren preneur khusus untuk para BMI eks Hongkong. Membangun lembaga finansial yang syariah, menjadi perintis dan incubator bisnis berbasis masyarakat yang dijadikan contoh untuk wilayah lain.

Kunjungan ke pembuatan tas

Aktifitas pemberdayaan yang sangat terasa manfaatnya pada masyarakat membuatku tersihir. Apalagi pelaku pemberdayaan di yayasan Kuntum mayoritas adalah kaum hawa.

Selain itu, bermodalkan yayasan yang notabene-nya harus mencari donatur membuatku pun tersindir. Bagaimana tidak, lembaga pemberdayaan hasil program dimana aku bekerja didalamnya, belum mampu memberdayakan masyarakat sedemikian hebatnya. Padahal modal yang ada, lebih dari cukup untuk melakukan apa yang semestinya dilakukan.

Bagi pembaca yang tertarik, silakan berkunjung ke Kampung Wisata Bisnis Tegalwaru. Alamat sekretariat di Jl. Pulekan, No. 31, Desa Tegalwaru, Kec. Ciampea, Bogor. Nomor kontak: 0812 1413 9332.

Salam.

Keliling kampung pakai odong-odong. Meriah euy….
Penayangan di televisi nasional. Sumber: metronews

*)Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber.

BAGIKAN
Berita sebelumyaAnak-anak Perlu Sedikit Ketegasan
Berita berikutnyaBerbicara dengan Bahasa yang Sederhana
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here