Terus Berkarya, Mama

0
236
Mendampingi memotong bahan

Kemarin pagi, Yu Tarikem bertandang ke rumah. Dandanannya yang tak lazim membuat Bi Salem, Uwa Nartem, dan Yu Narkem pangling. Mereka yang tinggal di sebelah timur, barat, dan depan rumahku tak mengenalinya. Maka saat ibu ku pulang membopong Syamil yang tertidur, mereka bilang aku ada tamu. Seringnya aku menerima teman-teman dari luar desa membuat mereka mengira demikian. Tapi ibu ku mengenali motor matik yang dipunyai Yu Tarikem. Tertawa kami mendengar penuturan ibu sembari memanggil mereka bertiga.

Mba Mumun in action
Mba Mumun in action

Pagi itu Yu Tarikem menjemput istriku. Semalam dia datang ke rumah. Janjian. Katanya ada pertemuan PKK di Balai Desa. Sedang istri ku di minta bantuannya menemani Mba Narsini mengisi acara. Yakni pelatihan pembuatan tas hajatan. Kursus yang dia ikuti bersama Mba Narsini di SKB Kalibagor memang belum usai. Tapi sekedar mengajari tas hajatan itu, bisa lah. Sayangnya istri ku sedang ke Patikraja. Pergi ke apotik guna membeli obat herpes (dompo=dampa) buatku. Beberapa hari ini bintik-bintik kecil seperti cacar timbul di dada kanan, seputaran tulang belikat, lengan kanan belakang, bawah ketiak, terasa panas, pegal, dan bikin pusing. Tangan kanan susah digerakkan.

Sebelum Yu Tarikem datang, Mba Narsini memang sudah SMS. Aku dukung saja. Aku memang ingin istri ku bergaul lebih luas. Tak hanya di seputaran tetangga dekat. Mungkin alasan yang selama ini dia kemukakan adalah malu dan rasa tak percaya diri. Masa lalunya yang memang tak pernah mengikuti aktifitas sosial di lingkungan membuatnya begitu. Selepas sekolah dia pergi ke Jakarta, Bandung, dan Bogor untuk mengadu nasib, sampai bertemu dan menjadi istriku.

Peserta Rapat PKK
Peserta Rapat PKK

Kesempatan untuk bergaul dengan banyak orang, ada saat momen peringatan HUT RI kemarin. Saat itu istri ku diminta bantuan oleh Bu RT untuk menjadi tim paduan suara pada lomba yang akan diadakan. Sayangnya setelah beberapa kali latihan, tak jadi ikut lomba. Anggota tim yang lain jarang berangkat latihan. Kekompakan dan pembagian tugas pun tak maksimal. Akhirnya diputuskan untuk tak jadi ikut lomba.

Setelah Ata agak besar, selesai kursus menjahit pun aku dorong dia belajar lebih lanjut ke tempat tetangga. Ada Mba Atun dan Bu Titi. Aku sudah ijin kepada keduanya, dan diperbolehkan. Tapi lagi-lagi dia beralasan tak enak hati dengan keduanya. Dia cuma sekali datang ke rumah Bu Titi setelah itu tak lagi. Sedang ke rumah Mba Atun sama sekali. Sebagai suami yang baik (ihir), aku tak mau memaksanya.

Mba Narsini mirip jurkam... hehe....
Mba Narsini mirip jurkam… hehe….

Sekitar jam 10.00 Yu Tarikem, istriku, dan Ata ke balai desa. Menurut istri ku acara sudah berlangsung. Mba Mumun, selaku Ketua TP PKK Desa Mandirancan sedang memimpin acara. Sedang istriku mendekati Rasinah, satu-satunya anggota PKK yang hadir hari itu yang berasal dari RT 01/01. Mungkin dia satu diantara anggota PKK yang istriku kenal, selain Mba Narsini, dan Mba Mumun juga. Istri ku memang tak banyak teman, karena rasa mindernya itu.

Mba Narsini bercuap-cuap terlebih dahulu menjelaskan ini dan itu sebelum memanggil istri ku ke depan. Soal cuap-cuap, Mba Narsini memang jago. Dia salah satu pengajar TPQ saat aku masih aktif. Secara teori Mba Narsini memang hafal, tapi jangan tanyakan soal praktik. Masih gagap. Apalagi di rumah, dia memang tak punya mesin jahit. Aku rasa dia pun tak begitu membutuhkan ketrampilan itu. Suaminya seorang PNS dengan sertifikasi, ibu nya masih buka warung di rumah. Sedang mereka pun tinggal bersama ibunya yang sudah sendiri.

Asisten Pemateri
Asisten Pemateri

Sebagai asisten, istriku lebih banyak mendampingi para ibu yang hendak praktik. Membuat pola, menggunting, dan merangkainya menjadi sebuah tas. Sayang untuk menjahit tak menggunakan mesin jahit. Jahitan masih memakai tangan dengan jarum. Tentu hasilnya tak maksimal. Ini pula yang istriku keluhkan di rumah. Aku bilang tak apa-apa. Yang penting para ibu bisa tahu dasar-dasarnya dulu, nanti kalau ada yang mau lanjut kan tinggal menghubungi Mba Narsini apa kamu. Dia juga bilang bahwa secara hitung-hitungan matematis, tak untung jika berbisnis tas hajatan dengan bahan yang tadi dicontohkan. Harga 10 ribu per meter hanya bisa untuk 12 buah saja. Kalau di jual mahal tentu nggak laku. Lagi-lagi aku bilang tak apa. Menyampaikan informasi dan menularkan ketrampilan kepada mereka saja sudah langkah baik.

Katanya peserta kegiatan hanya sekitar 20 orang, semua sudah berseragam pula. Hanya beberapa orang yang belum berseragam, termasuk dirinya. Ya nggak apa-apa. Kamu kan baru ikut. Besok-besok bisa minta bahannya, kamu jahit sendiri, kataku.

Mendampingi memotong bahan
Mendampingi memotong bahan

Aku sengaja tak banyak bercerita tentang istriku di sini. Aku berharap suatu saat bisa menulis khusus untuk itu. Kemauannya datang ke balai desa untuk ikut mengisi acara di depan para ibu yang lain sudah cukup bagiku. Aku memang ingin dia bisa bermanfaat untuk orang lain. Semoga ini bukan yang pertama dan terakhir baginya.

Tentu menjadi timpang saat sang suami begitu lancar berbicara karena rasa percaya diri yang terkadang over, sedang si istri terus berkutat dengan rasa mindernya.

Terus berkarya, Mama.

Bertemu Rasinah
Bertemu Rasinah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here