Tidak Ikut Membela yang Tak Perlu Dibela

0
448

Wibisana memutuskan menyeberang dan mendukung Sri Rama. Bujukan pada kakaknya, Rahwana, untuk mengembalikan Dewi Shinta, tidak berhasil. Keberpihakan pada kebenaran membuatnya terpaksa menyeberang dan berhadapan dengan kakaknya sendiri. Wibisana merupakan simbol bahwa membela kebenaran tak bisa dibatasi oleh sekat nasionalisme, ikatan persaudaraan, dan ras. Keberpihakan pada kebenaran lebih utama daripada sekat-sekat yang dibuat oleh manusia.

Sikap yang berbeda ditunjukkan oleh Kumbakarna, kakak keduanya. Dia memilih membela tanah air, yakni Alengka, dari kerusakan yang ditimbulkan oleh para pasukan Kera. Meski Kumbakarna mengakui kakak pertamanya, Rahwana, berada pada posisi yang salah. Nasionalisme yang lebih dia utamakan.

Meski berbeda menentukan pilihan, baik Wibisana maupun Kumbakarna sepakat bahwa mereka tidak membela Rahwana. Kakak pertama mereka bersalah karena menculik Dewi Shinta. Perbedaan sikap keduanya merupakan hal yang sepatutnya di toleransi, yakni dibiarkan dan dihormati.

Seseorang yang jelas-jelas bersalah, tak perlu dibela. Dia cukup dijaga. Jangan sampai pengadilan yang diberikan padanya melebihi ambang batas kewajaran. Pembelaan atas penjagaan agar tak melampaui batas, dilakukan oleh Kumbakarna. Sedang Wibisana mendukung pengadilan atas kesalahan Rahwana yang dilakukan oleh Sri Rama.

Kesalahan berpihak

Seringkali kita heran dengan seseorang yang semangat membela mereka yang salah. Andai semangat pembelaannya didudukkan sebagai antisipasi ambang batas kewajaran, itu lumrah. Akan tetapi, pembelaan yang dilakukan bertujuan lain. Dia ingin membebaskannya. Pembela melakukan berbagai upaya agar si pembuat kesalahan terbebas dari dakwaan.

Pembelaan publik pun dilakukan secara massif karena latah. Opini yang dibentuk membuat banyak orang ikut-ikutan membela si pembuat kesalahan. Informasi parsial yang dihembuskan terus menerus membentuk opini bahwa si pembuat kesalahan layak dibebaskan. Terlebih masyarakat kita, sangat mudah digoyang emosinya.

Tak sedikit yang tampil bak pahlawan kesiangan. Meski duduk perkara sudah jelas, masih saja dibela secara berlebihan. Padahal pemerintah sudah menyediakan lembaga bantuan hukum untuk itu. Saat yang bersangkutan sudah jelas salah, maka tegakkan konsekuensinya tanpa berlebihan.

Andaikan Raden Wibisana hidup di jaman sekarang, tentu akan bersliweran sumpah serapah padanya. Dia akan di cap sebagai pengkhianat. Meski tindakannya benar, di mata pendukung Rahwana, dia tetap salah. Keputusannya pun dimaklumi oleh Kumbakarna.

Kritis

Saat mendengar, melihat, dan membaca isu yang sedang berkembang, baiknya kita kritis. Tidak segera menyimpulkan hanya dari sumber satu sisi. Sabar dan tunggu lah klarifikasi dari sumber yang lain. Kritis dalam mensikapi sebuah isu mendasarkan pada obyektifitas dalam berpikir. Sisi subyektifitas harus dikesampingkan terlebih dahulu. Subyektifitas akan mendorong kita mengambil kesimpulan, sikap, dan pernyataan yang keliru. Andai ini diikuti oleh khalayak, maka kekeliruan akan menyebar dan berakibat buruk.

Tentunya akan kita dapati mereka yang asal bunyi (asbun). Kedangkalan ilmu yang dibungkus dengan retorika yang menarik, seakan menunjukkan bahwa kebenaran ada padanya. Atau justru sebaliknya. Mereka yang kita anggap asbun malah lebih paham dari kita. Ketinggian ilmu yang kita anggap dangkal, perlu di kaji. Ini saat yang tepat agar kita belajar lebih giat lagi.

Bandingkan antara pernyataan dari kedua belah pihak dengan kenyataan yang kita dapati. Tidak terlena dengan retorika karena ketinggian bahasa atau gelar yang disandangnya. Apa yang mereka sampaikan cukuplah sebagai rujukan. Sikap dan pernyataan yang sok bijak namun justru membawa petaka bagi masyarakat, sangat tak layak diikuti. Tinggi rendah moral pribadinya menjadi jaminan layak tidaknya dia diikuti.

Keadilan untuk semua

Sering melihat patung wanita cantik memegang timbangan dan pedang dengan mata tertutup? Itu lah Dewi Themis yang lebih dikenal dengan Dewi Keadilan. Simbol patung Dewi Themis menandakan bahwa hukum harus adil. Tidak membeda-bedakan siapa pelakunya. Siapa yang bersalah, dia pantas mendapatkan hukumannya.

Pembelaan oleh oknum penegak hukum terhadap si pembuat kesalahan, sungguh miris. Upaya pengurangan tuntutan hukuman, vonis ringan, hingga bebas, masih kita jumpai. Sebaliknya, mereka yang tak layak dihukum, justru vonis berkata lain.

Meski patung Dewi Keadilan bertebaran di kantor-kantor institusi penegak hukum, pada kenyataannya masih ada yang tidak demikian. Obyektifitas yang digambarkan dalam patung tersebut, tidak serta merta terimplementasi di lapangan. Politik, kekuasaan, dan atau uang banyak berpengaruh di sana. Apalagi jika pelaku nya masih kalangan “orang kuat”. Ini lah lahan jihad para penegak hukum demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Rasa optimis akan penegakan hukum di Indonesia selalu ada. Keyakinan bahwa kasus nyleneh yang mencuat di tataran hukum, masih sedikit jumlahnya daripada yang layak diapresiasi. Pengawalan dan dukungan terhadap para penegak hukum yang berintegritas mesti terus dilakukan. Karena pada obyektifitas mereka lah kita berharap keadilan akan tegak. Agar yang benar diputuskan benar, dan yang salah tidak di vonis berlebihan.

Salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here