Tingkatkan Kualitas Diri dengan Banyak Membaca

0
360
Menunggu dibaca

Saat suntuk aku membaca. Saat bergairah pun aku membaca. Bedanya pada buku yang dibaca. Saat suntuk aku baca novel atau cerpen, saat bergairah baca literatur. Novel akan meringkankan suntuk, literatur akan menambah bobot kualitas diri. Jangan sampai kita dikatakan sebagai: Umat yang perintah pertamanya membaca, eh malah malas. Yuk, budayakan membaca.

Aku masih ingat pelajaran Sosiologi yang disampaikan oleh Pak Agus. Katanya ada 4 sebab orang akan dihormati oleh orang lain. Sebab yang pertama karena kekuasaan. Seseorang yang memiliki kekuasaan karena jabatan, akan dihormati oleh banyak orang. Segala perintahnya akan ditaati oleh para bawahannya. Siapa yang berani menentang, bisa beralamat buruk baginya. Bentuk penghormatan yang dia terima secara nyata adalah perintahnya dituruti.

Menunggu dibaca
Menunggu dibaca

Sebab yang kedua karena kekayaan. Orang kaya dihormati karena harta benda yang dia miliki. Dengan harta benda, dia bisa mengatur segala urusan yang bisa dilakukan dengan menukarkan sedikit hartanya. Orang tak peduli dari mana asal harta itu. Yang penting saat dia diperintah oleh sang pemilik harta, dia akan mendapatkan imbalan dari tugasnya.

Kemudian yang ketiga, orang dihormati oleh orang lain karena keturunan. Bisa saja dia termasuk keturunan ningrat, pejabat, tokoh masyarakat, tokoh agama, atau yang lainnya. Sedang sebab yang keempat karena ilmu. Seseorang akan dihormati tatkala dia memiliki ilmu. Ketinggian ilmu seseorang akan dirasakan manfaatnya oleh orang lain saat dia mau mengamalkan ilmu-ilmu yang dia miliki.

Panduan menulis
Panduan menulis

Saat itu aku berpikir. Tak mungkin aku mencapainya dengan mengandalkan ketiga faktor diatas, yakni kekuasaan, kekayaan, dan keturunan. Aku bukan siapa-siapa. Beruntung aku masih bisa sekolah di sini. Salah satu sekolah favorit di kota Satria. Kata Mas Iwan Syams, seniorku di ASMANDA (Asal SMAN 2 Purwokerto) sekolah ku ini termasuk SMA tertua di Indonesia. Dua SMA yang lain adalah SMAN 1 Jakarta, dan SMAN 1 Yogyakarta. Klaim ini didasari atas sejarah bangunan yang dulu digunakan sebagai Sekolah Belanda, yaitu MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Yang dalam perkembangannya menjadi dua tempat, yakni kelompok ilmu alam (B) di sekolah ini, sedang kelompok ilmu sosial (A) dan ilmu sastra (C) sekarang menjadi SMAN 1 Purwokerto.

Kebiasaan membaca sudah sejak kecil. Ibu mendidik aku dengan keras untuk bisa membaca. Ia tak sungkan membentak dan menjewerku saat aku salah mengeja. Tangannya ringan jika aku tak mampu membaca huruf-huruf di buku yang entah darimana dia dapatkan. Paling juga pinjam tetangga. Kalau beli tak mungkin. Seorang janda beranak tiga yang tak jelas penghasilannya pasti tak mampu membeli buku. Buku yang dulu dihargai rendah dalam nominal rupiah, toh tetap saja mahal jika dikurskan dengan pendapatan rata-rata masyarakat. Apalagi dulu tak ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Alokasi APBN pun belum mencapai angka 20%. Sekarang saja buku-buku masih terkesan mahal.

Tema cinta selalu menarik. Ahihi....
Tema cinta selalu menarik. Ahihi….

Sering aku menangis sambil membaca. Sampai sesenggukan pula. Biasanya, Mbakku akan menggantikan ibu saat dia sudah tak tega melihatku menangis. Ibu tak mau menunjukkan rasa belas kasihan di hadapanku. Mungkin dia takut aku akan berani melawannya di lain waktu. Disiplin ibu sangat keras menurutku waktu itu. Mbakku akan sabar mendampingiku setelah ibu berlalu. Dengan tekun dia mengajariku. Saat aku besar, aku tahu kalau Mbakku pun tak luput dari “kegalakkan” ibu.

Saat aku kecil, bagiku, ibu ibarat makhluk jahat yang tak bisa aku lawan. Aku hanya bisa menangis dan menangis saat pantatku berkali-kali dipukul dengan pegangan sapu. Biasanya ini ia lakukan saat aku pulang bermain dalam keadaan kotor. Entah bermain di sawah atau mandi di sungai. Atau saat malam tiba, aku belum juga pulang. Padahal ibu menanamkan disiplin agar sore kami bertiga harus makan. Kemudian mengaji di masjid dekat rumah hingga Isya. Setelah itu belajar.

Tempat ngumpet
Tempat ngumpet

Didikan keras ibu membuahkan hasil. Saat aku sekolah di TK, aku selalu menjadi juara. Sering aku mewakili lomba-lomba TK baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Sering pula aku ikuti lomba deklamasi dan cerdas cermat. Dalam berbagai pentas seni aku pun sering ditunjuk. Bangga ibu melihatku demikian. Meski tak dia katakan padaku. Baru aku tahu saat aku sudah besar.

Hasil positif berikutnya saat aku juara I Lomba Lancar Membaca di tingkat kecamatan. Saat itu aku ingat, lawan-lawanku masih terbata-bata dalam membaca: Ini ibu budi, ini bapak budi, ini kakak budi, ini adik budi, dan seterusnya. Saat giliranku tiba, aku langsung disuruh membaca di halaman belakang yang paragrafnya terdiri dari banyak kalimat. Kalimatnya panjang-panjang pula. Lancar aku membacanya, hampir tanpa kesalahan. Mungkin guru pendampingku sudah membisikkan kepada penilai kalau aku lancar membaca. Maka aku tak disuruh membaca “ini budi” dan sebagainya. Terlalu mudah.

Cuma akting, Sodara... hihi....
Cuma akting, Sodara… hihi….

Kemahiranku membaca semakin terasah di tingkatan lanjut. Aku di didik oleh guruku untuk membaca dengan intonasi yang lebih baik. Maka tak heran jika aku sering diminta oleh guru untuk membaca tulisan-tulisan di buku dengan keras. Baik dengan tetap duduk di bangku atau harus berdiri di depan kelas. Kebiasaan seperti ini menjadikan aku percaya diri, meski rasa percaya diri berlebih itu pernah hinggap dan menjadi bumerang bagiku. Dengan kata lain, kesombongan pernah bersemayam dalam hati ini.

Sampai di tingkat SMP dan SMA, kebiasaan membaca menjadi bagian dari aktifitasku. Hampir setiap hari ada jadwal ke perpustakaan. Saat SMP, majalah yang aku tunggu-tunggu adalah MOP (Majalah Oentuk Pelajar) yang kala itu dipelesetkan menjadi Majalah Ora Payu. Karena majalah itu hanya beredar di sekolah-sekolah, dan sepi pembaca. Apakah karena memang begitu atau mereka yang malas membaca.

Pilihan buku bacaan semakin banyak saat memasuki SMA. Meski terkadang perpustakaan hanya jadi ajang ngobrol saja. Paling tidak pergi ke perpustakaan sudah diniati untuk membaca. Kadang, kebiasaan ke perpustakaan, baik kala SMP maupun SMA hanya sebuah pengalihan saja. Pengalihan dari keinginan untuk jajan. Bisa saja saat itu tak punya uang saku karena sudah habis pada jam istirahat pertama, atau memang benar-benar tak punya. Berdiam diri di kelas, saat itu bukan pilihan yang tepat. Teman-teman jelas akan mengajak keluar. Yang paling tidak enak saat menolak ajakan teman-teman cowok. Biasanya mereka akan keluar gerbang sekolah untuk merokok. Menolak ajakan teman-teman cewek pun jadi sungkan. Pasti mereka akan lari ke kantin. Jadi kalau mau cari aman ya, ke perpustakaan.,, hehe….

Kegemaranku membaca pun berimbas pada prestasi menulis di SMA. Waktu itu kelas 2, aku menjadi juara II membuat karya tulis dalam momen Peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Juara I nya, Lena Maydianasari. Teman satu kelas yang urutan absennya persis setelah aku.

Menurut teman-teman panitia di OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) berdasarkan nilai yang diberikan oleh guru bahasa Indonesia, bobot tulisanku lebih tinggi. Hanya saja kaidah penulisannya yang jelek. Waktu itu untuk urusan mengetik komputer yang masih menggunakan program Word dengan banyak rumus, aku minta tolong Koko (Arif Hatmoko), teman setia se-bangku sejak kelas 1 hingga kelas 3. Aku tak menyalahkan dia. Justru aku berterima kasih sekali. Sebab ketentuan lomba, salah satunya ya harus di ketik. Bukan tulisan tangan. Waktu itu kami rental komputer di Jalan Adhyaksa. Kalau dari arah barat, sebelah kiri jalan rumah besar berwarna putih.

Tulisanku jelas berbobot karena banyaknya tulisan yang aku baca tentang Kesaktian Pancasila. Referensi yang aku gunakan dalam menyusun karya tulis, termasuk kosakatanya, aku kutip dari tulisan-tulisan di Harian Kompas dalam satu bulan terakhir waktu itu. Dari sana pula aku kenal yang namanya Prof. Frans Magnis Suseno. Mengenalnya membuat aku lebih memilih jurusan IPS, selain nilai jelek pada mata pelajaran Matematika. Alibi atau bukan ya? Hihi….

Membaca malah menjadi kewajiban saat aku menjadi loper dan penjaja koran. Sambil menunggu agak siang, aku sempatkan membaca meski cuma headline-nya saja. Biasanya para pembaca akan bertanya tentang topik yang menarik dari koran yang aku jajakan. Beda koran, beda topik, maka harus bisa menguasai isi dengan membaca cepat. Ini menjadi salah satu trik pemasaran. Yang kelak saat aku bekerja menjadi sales, ini yang disebut dengan product knowledge. Hasyah.

Nyatanya demikian. Calon pembeli akan segera mengeluarkan uang dari saku saat dengan singkat dan jelas aku ceritakan topik utama berita. Mereka akan penasaran dan membacanya lebih lanjut. Tentu harus membayar dulu.

Kadang kemurahan hati untuk membiarkan mereka membaca dulu menjadi sesuatu yang membuatku kesal. Sudah lama-lama membaca, eh cuma nebeng. Tak jadi beli. Padahal aku setia menemani dia duduk. Ini masukan buat kamu. Kalau memang tak berniat membeli koran, jangan sekali-kali membaca hanya untuk cari gratisan. Kasihan mereka.

Persinggunganku dengan dunia membaca terus berlanjut. Saat aku gagal tes wawancara di PT. KAI, aku melamar kerja di sebuah supermarket di Purwokerto. Awal-awal bekerja di sana aku benar-benar bingung dengan banyaknya jenis produk. Maka aku harus mau belajar dengan membaca keterangan di produk-produk yang di pajang. Agar aku bisa tunjukkan kepada konsumen saat mereka bertanya. Ini wasiat penting yang aku dapat saat training selama satu minggu di sana. Pesan itu aku ingat betul, hingga tak berapa lama aku semakin tahu jenis, ukuran, dan manfaat sebuah produk untuk konsumen.

Pengetahuan akan product knowledge ternyata sangat penting. Ini pahami tatkala aku coba-coba menjual produk lain di luar jam kerja. Termasuk saat aku menjadi sales. Satu-satunya cara yang tepat untuk menguasai produk ya belajar. Dengan cara banyak membaca. Tentu aku tak enak hati sama supervisor ku. Dia yang memasukkan aku di sebuah perusahaan distributor. Surat lamaran pekerjaan hanya formalitas saja. Terima kasih ya, Bro. Good Luck kamu di Lampung sana. Senggol Dede Yohan.

Meski honor di supermarket hanya pas dengan UMK, aku selalu wajibkan untuk membeli buku. Minimal 1 buah. Biasanya saat menjelang gajian, aku akan jalan-jalan ke toko buku. Mencari-cari jenis buku apa yang akan aku beli. Terpenting harganya berapa. Hari H pas gajian aku akan menuju ke toko tersebut, agar bisa aku dapatkan segera. Jika ditunda, biasanya sering tak kebagian alokasi.

Buku yang baru aku beli, akan aku baca tuntas. Sejak aku sampai di rumah hingga malam hari. Tak peduli selesai jam berapa, dan tak peduli esok masuk pagi atau siang. Nah, jika ada pemasukan lain aku akan cari buku atau majalah bekas.

Membaca juga aku jadikan pembunuh rasa sepi. Waktu itu aku belajar sambil bekerja di sebuah jasa pengetikan di Patikraja, sekarang sudah tutup. Sambil menunggu konsumen, aku belajar mengoperasikan komputer. Buta waktu itu. Untung saja ada Mas Rohman. Mantan dosen di Indokomputer Purwokerto ini telaten mengajari saat aku bertanya. Model pengajarannya menunggu aku aktif bertanya. Kalau aku diam saja ya, itu salahku.

Aku tak membatasi diri untuk membaca buku apapun. Kecuali saat aku baca buku-buku Islami. Kekhawatiran akan terjerumus dalam aliran sesat membuat aku harus sering berkonsultasi dengan orang-orang yang aku anggap mumpuni dalam bidang ini. Pengalaman dari yang sudah-sudah, saat pikiran sudah terpatri dengan alisan sesat, biasanya akan berperilaku aneh. Sedikit-sedikit akan mengkafirkan orang lain. Tak peduli orang tua, saudara, teman, atau tetangga. Pokoknya kalau beda keyakinan, kafir. Walah….

Keadaan memaksaku untuk mau membaca. Yakni saat pelanggan menyerahkan semua keputusanku untuk membuatkannya surat atau minta dibuatkan cerpen untuk tugas sekolah. Maka jari-jari ini menari-nari membuat cerpen. Cerpen-cerpen yang tak terarsipkan itu aku rubah saja nama, nomor absen, dan kelas sesuai keinginan anak-anak SMA. Koleksi cerpen yang semestinya sudah banyak lahir dari hasil membaca dan membuang jenuh karena sepi order.

Membaca konsepsi pemberdayaan dari hasil mengunduh di internet dan pemahaman saat pelatihan pertama kali di Baturaden itu yang membuat aku sedikit berbeda. Aku tidak begitu saja manut dengan konsultan. Konsep pemberdayaan yang aku pahami berbeda dengan kewajiban sebagai Unit Pengelola Kegiatan (UPK) yang mereka sampaikan. Bagiku sekedar mengurusi uang agar mendapatkan surplus saja terlalu mengkerdilkan peran seorang pemberdaya. Yang aku yakini bahwa mereka salah mentafsirkan pemahaman konsep pemberdayaan.

Lihat saja tujuan awal program ini, kemudian tupoksi masing-masing, yang ternyata aplikasi di pekerjaan seperti tak mengarah kepada tujuan awal. Keanehan ini di tangkap oleh pegiat-pegiat desa yang lain. Antara lain Yossy, Kang Budi, Kang Dirin, dan semua yang mengatasnamakan Gerakan Desa Membangun (GDM). Kesamaan visi membuat aku merasa dekat meski belum pernah tatap muka. Belajar dari Pak Dwi Purnomo akan sejarah PPK hingga berganti nama PNPM pun memperkaya khasanah pemahamanku. Diskusi-diskusi panjang dengan pelaku program yang lain termasuk dalam upaya memahamkan aku akan gerakan pemberdayaan ini.

Membaca tak lagi berasal dari buku atau literatur lain. Membaca juga bisa dilakukan dari melihat banyak aktifitas orang-orang. Apa yang mendasari, dan apa tujuannya. Beberapa teman mengira aku sudah lulus kuliah dan sedang mengambil S2. Mereka akan bertanya, kuliah dimana lagi. Padahal hingga tulisan ini aku ketik, skripsi saja belum tersentuh.

Jika kamu ingin dihormati oleh orang lain, maka hormati lah mereka terlebih dulu,
Jika kamu ingin dihormati secara berbeda oleh orang lain, maka tingkatkan kualitas diri dengan banyak membaca, dan
Jika kamu ingin dihormati secara permanen, maka amalkan ilmu-ilmu yang kamu peroleh dari membaca.

Begitu kalimat yang aku katakan saat bercermin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here