Tumbuhnya Benih Kemandirian dari Pos Latihan Usaha

4
368
Nasrudin, Kusriah, dan mesin jahit baru nya.

Bagi Kusriah (35 tahun), membuka usaha warung sembako dan menerima jahitan di rumah masih belum cukup. Maklum saja, lokasi rumah yang masuk jalan sempit di desa, kurang strategis. Sepeda motor pun agak kesusahan mencapainya. Belum lagi berbicara soal permodalan dan persaingan.

Niat membantu suami dalam mencari nafkah, ia lakukan sembari mengurus rumah tangga dan anak-anak. Kerepotan akan dia rasakan benar, saat sang suami terpaksa berkeliling ke luar kota hingga menginap. Profesi sebagai seorang salesman membuat suaminya harus melakukan itu.

Demi mendengar adanya Pos Latihan Usaha “Sukses” di rumah Nasrudin (48 tahun), ibu empat orang anak ini bergegas ikut bergabung. Ketrampilan menjahit yang didapatkan saat kursus di Gombong-Kebumen, terasa semakin lancar. Beberapa tips dan trik yang tidak didapatkan saat kursus, dia peroleh saat bergabung bersama teman-teman di sana.

Awalnya Kusriah belajar dan menyelesaikan pekerjaan menjahit di rumah Nasrudin sampai hampir satu tahun. Ketrampilan menjahit sebelumnya, banyak membantu. Dia mengaku memperoleh pendapatan diatas 300 ribu tiap minggu. Akan tetapi, aktifitasnya menguras cukup banyak waktu dan tenaga. Pekerjaan rumah dan warung menjadi keteter. Meski sebenarnya keduanya sama-sama berdomilisi di Desa Adisana Kec. Kebasen, hanya beda RT.

Nasrudin, Kusriah, dan mesin jahit baru nya.

Mandiri

Berbekal keyakinan akan ketrampilan yang semakin meningkat, dia putuskan untuk mandiri. Mandiri bukan berarti terlepas dari aktifitas sebelumnya. Kusriah tetap bekerjasama dengan Nasrudin untuk sebagian pekerjaannya. Dia tetap ikut mengambil pekerjaan menjahit baju dan atau kaos. Tapi dikerjakan di rumah dengan peralatan sendiri.

Berbekal sedikit tabungan dan modal dari suami, dia mampu membeli mesin obras sendiri. Sayangnya, mesin jahit yang selama ini dia punya, tidak mampu mengerjakan jahitan dengan cepat. Akhirnya, atas persetujuan suami dan difasilitasi oleh Nasrudin, dia mengajukan pinjaman pengadaan mesin jahit yang kualitasnya lebih bagus.

Pengadaan mesin jahit tersebut, setelah dilakukan studi kelayakan, diputuskan untuk didanai dari Unit Usaha Bersama BKAD Kec. Kebasen. Pembelian mesin jahit dilakukan sendiri oleh Kusriah dengan didampingi oleh Nasrudin dan Thukul Yoga Purwita, Manajer Usaha Bersama. Sesuai kesepakatan, angsuran pembelian akan dibayarkan tiap bulan. Angsuran akan dibayarkan dari hasil pekerjaan yang diambil dari Nasrudin.

Berdirinya Pos Latihan Usaha “Sukses”

Awalnya, diskusi demi diskusi dilakukan bersama Nasrudin dan beberapa tetangga yang ditemui di sana. Menurut mereka, keinginan untuk terlibat dalam usaha Nasrudin jelas ada. Akan tetapi kemampuan tidak mumpuni. Padahal Nasrudin membutuhkan tenaga kerja untuk mengejar target dari perusahaan induk di Jakarta. Namun apa daya, para tetangga memang miskin kemampuan sesuai standar yang diinginkannya.

Setelah beberapa kali berkunjung, terjadilah kesepakatan untuk bekerjasama. Pengadaan peralatan jahit direalisasikan. Tugas Nasrudin mengajari tetangga yang berminat di sela-sela pekerjaannya. Setelah mereka mahir, dipersilakan akan mandiri, atau menjadi karyawannya. Nasrudin diberi kebebasan memanfaatkan mesin jahit yang disediakan di luar jadwal pelatihan. Akan tetapi, dia tidak menerima honor atas pelatihan yang diberikan pada para tetangganya tersebut.

Target dari pendirian pos latihan usaha ini adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia. Nasrudin bersedia mengajari tetangga agar mahir menjahit, sedang para tetangga membutuhkan ketrampilan yang akan menghasilkan. Ketika Nasrudin membutuhkan tenaga baru, para tetangga membutuhkan peluang kerja. Gayung pun bersambut.

Kunjungan dari kelembagaan BKAD Kec. Kaliori Kab. Rembang di Pos Latihan Usaha “Sukses”.

Pos Latihan Usaha lainnya

Dampak positif Pos Latihan Usaha “Sukses” memantik berdirinya pos-pos latihan usaha yang lain. Tercatat ada 6 (enam) pos latihan usaha tambahan per tahun 2017. Namun hanya 2 (dua) lokasi yang beraktifitas secara rutin. Pos Latihan Usaha “Mukti” Desa Gambarsari yang fokus pada pelatihan souvenir dan menjahit baju, dan Laboratorium Bisnis Online “Trajang” Desa Kaliwedi yang mendampingi pelaku usaha meng-online-kan pemasarannya.

Pos latihan usaha lain masih perlu dukungan agar diminati masyarakat. Pos Latihan Usaha “Aster” Desa Sawangan yang fokus pada pembuatan bantal dan sprei, baru seorang peserta. Sedangkan yang fokus di bidang pembibitan dan pembesaran ikan, tidak berjalan sesuai harapan. Faktor kesibukan pengelola menjadi kendala.

Perubahan pola pelatihan masyarakat dari Belajar Antar Kelompok menjadi pos latihan usaha merupakan ijtihad. Setelah dilakukan evaluasi, kegiatan Belajar Antar Kelompok tidak sesuai harapan. Para peserta lebih sekedar hanya ingin tahu. Sedang praktek paska pelatihan, meski sudah didampingi, tidak jua menampakkan hasil.

Fenomena Kusriah membuat gairah memberdayakan bergelora. Nilai tambah dengan melahirkan sumber daya manusia trampil membutuhkan proses. Tahapan yang dilalui tidak cukup dengan pengadaan alat dan mentransfer ketrampilan. Pekerjaan yang cukup berat adalah membangunkan kesadaran kemandirian dalam masyarakat.

Keputusan Kusriah untuk mandiri merupakan bukti awal cita-cita pendirian pos latihan usaha akan terealisasi. Benih-benih kemandirian dari pos latihan usaha ini akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Kusriah akan menjadi ikon keberhasilan pemberdayaan dengan pola ini.

Pelatihan pemotretan produk di Lab. Bisnis Online “Trajang”.
Pelatihan mengukur baju di Pos Latihan Usaha “Mukti”.
Asyiknya belajar membuat souvenir di Pos Latihan Usaha “Mukti”.

4 KOMENTAR

  1. Inisiatif hebat. Desa “baru” harus berwajahkan produktivitas, kemandirian, dan kesejahteraan. Jalannya dibangun melalui kewenangan, anggaran, dan keterlibatan masyarakat dalam program pembangunan dan pemberdayaan. Peran yang dimainkan Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Kebasen mampu memicu beragam kreativitas dan merajut ruang kerjasama desa, terutama penguatan kapasitas, pertukaran pengetahuan dan pengalaman, serta membangun kompetensi kolektif masyarakat. Siap belajar bila diizinkan!

  2. Menjadi kebahagiaan yang nyata saat sukses itu berwujud, bukan hanya diri pribadi tapi sukses bersama penuh kebersamaan, dan ketika itu menjadi nyata, semoga aku kita berperan didalamnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here