Uji Coba dan Coba Di Uji

0
122

Bagian ke-2

Senin pagi aku berangkat ke Baturraden. Meski semalam ikut tenis meja hingga larut, pagi ini tak terasa mengantuk. Apalagi katanya Mas Bayu mau datang. Dia daulat menjadi narasumber untuk kegiatan pertama. Kemarin kami pun ngobrol via fesbuk. Rupanya kegiatan keluar seperti ini adalah aktifitas pertamanya. Setelah sekitar 6 bulan bergulat dengan cedera kaki yang parah, ini seperti obat baginya. Keinginannya untuk berbagi ilmu dan bertemu banyak orang akhirnya kesampaian. Meski tertatih-tatih dengan tongkat saktinya, dia tak merasa repot. Dia menolak saat sesuai makan siang aku bawakan tas ranselnya yang cukup berat.

Perasaan bahagia pasti sedang meliputi hatinya. Berdiam diri di rumah dan terpisah secara fisik dengan kawan-kawan dan pekerjaan adalah hal sangat menjemukan. Meski beda kasus, apa yang dia rasakan rasanya mirip dengan yang pernah aku rasakan. Selama 13 bulan hanya berkutat di rumah karena sakit, kesempatan pertama bersosialita secara fisik benar-benar membuatku bahagia saat itu. Aku rasa, Mas Bayu pun demikian.

Sesi pertama pagi hingga acara makan siang memang menjadi panggung Mas Bayu. Wajahnya sumringah. Aku yakin, bukan karena merasa tersanjung sebagai narasumber. Bagi nya itu sudah terlalu terbiasa. Tapi kesempatan dan kemampuannya beraktifitas seperti semula selepas kecelakaan itu yang membuatnya demikian. Kayaknya sih.

Sepertinya materi yang dia sampaikan bukanlah sesuatu yang istimewa bagiku. Bukan karena aku bisa melakukan hal yang sama. Hanya saja, apa yang dia lakukan sebagai seorang Kepala Desa, sudah aku ketahui dari dulu. Memberdayakan diri dan masyarakat Desa Dermaji yang kemudian disampaikan ke publik lewat website dan berbagai media lain, bukan informasi baru bagi ku. Mungkin bagi yang lain, itu hal yang luar biasa. Dan sebenarnya memang di luar kebiasaan. Satu hal yang kemudian aku tanyakan adalah bagaimana cara nya menarik simpati masyarakat. Bahasa “merebut hati” masyarakat aku gunakan untuk mempermudah saja. Akan tetapi demi melihat kebersamaan masyarakat dalam musyawarah dan pelaksanaan kegiatan pembangunan itu yang harus dicari tahu tips dan trik-nya.

Sebelum Mas Bayu memberikan paparan, Kang Hadian memberikan alasan mengapa memilih Kepala Desa Dermaji ini sebagai narasumber. Desa yang berada di kecamatan Lumbir ini pernah mendapat penghargaan Si Kompak Award untuk kategori perencanaan partisipatif tingkat provinsi Jawa Tengah. Pada foto-foto kegiatan yang nantinya dipertontonkan, terlihat bagaimana antusias warga masyarakat Dermaji dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan di desa.

Paparan yang diberi judul: “Strategi Membangun Desa” ini dimulai dari paparan alasan mengapa Desa. Alasan pertama berdasar argumen historis, yakni desa adalah basis masyarakat, kearifan lokal, dan sumber daya. Argumen filosofis dan konseptual, diartikan bahwa desa adalah fundamen negara dan merupakan tata pemerintahan awal sebelum negara ini merdeka. Dari sisi yuridis, keberadaan desa diakui oleh negara berdasar UUD 1945 pasal 18B ayat 2, yaitu: “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”.

Perbedaan paradigma Membangun Desa dan Desa Membangun dipaparkannya. Perbedaan mencolok adalah subyek pelaku. Jika pendekatan Membangun Desa dilakukan oleh pihak luar desa dengan menjadikan desa sebagai obyek, maka Desa Membangun berkata sebaliknya. Dalam pendekatan Desa Membangun, desa lah pelaku utamanya. Semua bentuk inisiatif dan memaksimalkan potensi berasal dari masyarakat desa sendiri. Masyarakat tidak terlalu menggantungkan pada uluran tangan pihak lain. Bukan berarti menolak atau berlaku sombong. Jika ada bantuan dari pihak lain yang tidak mengikat tentu akan diterima. Tapi tidak mengandalkan bantuan-bantuan itu. Kalau bisa sendiri, mengapa harus menengadahkan tangan. Kira-kira begitu.

Apa yang dilakukan oleh masyarakat Dermaji benar-benar menginspirasi. Sesekali mataku jelalatan melihat muka-muka kagum dari peserta yang lain. Pasti mereka terkesima dengan keguyubrukunan masyarakat Dermaji. Bahkan dalam sesi penutupan nanti, Mas Budi mengatakan bahwa terlihat sekali, seolah Mas Bayu tak mengharapkan bantuan apa-apa. Sepertinya bagi Mas Bayu dan masyarakat Dermaji yang paling penting adalah bekerja, bekerja, dan bekerja untuk desa sendiri. Berbeda dengan kebanyakan desa yang masih mengharap uluran tangan pemerintah. Paradigma yang dianut memang sudah bukan Membangun Desa, tapi benar-benar Desa Membangun.

Ternyata apa yang dilakukan oleh Desa Dermaji pun ditiru oleh Kang Hadian dan masyarakat Cibiru Wetan. Meski sudah bekerja di Jakarta, sepertinya Kang Hadian masih ingin mengabdi kepada masyarakat desa. Posisinya sebagai ketua LPMD Desa Cibiru Wetan benar-benar dia maksimalkan. Kalau selama bekerja dia lebih banyak memaparkan berbagai teori, maka keterlibatannya dalam lembaga desa merupakan ranah implementasi baginya. Maka istilah yang sering aku katakan: “Di sini kita bekerja sebagai pemberdayaan, maka di desa kita harus menjadi pelaku pemberdayaan”. Bener nggak?

Penerapan konsep Desa Membangun bukan tanpa kendala. Menurut Mas Bayu, masih banyak SDM yang tidak memahami tahapan pembangunan. Oleh karenanya, dia berinisiatif membuat modul sederhana tentang tahapan-tahapan tersebut. Manfaat yang dia rasakan ialah perangkat desa mau belajar tentang aturan-aturan sehingga terjadi transfer ilmu pengetahuan. Transfer ilmu pengetahuan sebagai bagian dari pembangunan sumberdaya manusia menjadi penting katanya. Sering kita terjebak dengan pembangunan fisik dengan mengabaikan peningkatan mutu SDM. Maka jangan heran ketika fasilitas sudah tercukupi, masih banyak orang yang norak dan atau gagap. Terjebak pada modernisasi tanpa tahu esensi.

Dalam menerapkan konsepsi Desa Membangun, Mas Bayu menerapkan 5 (lima) strategi pendekatan. Pertama, menguatkan perencanaan partisipatif. Perencanaan dengan melibatkan banyak masyarakat terbukti ampuh. Masyarakat merasa diposisikan “manusia” atau bahasa banyumasan: “diwongna”. Jika dulu mereka dianggap tidak tahu dan bodoh, sekarang mereka diajak untuk ikut memikirkan desa nya. Imbas positifnya adalah rasa memiliki desa yang tinggi. Mereka mau terlibat, tidak canggung melibatkan diri dalam berbagai kegiatan di desa. Ini berbeda dengan banyak kenyataan yang ada. Jika mereka di undang, selalu punya alasan. Pada waktu mereka tak di undang, mereka bilang: “aku kan nggak di undang”. Hadeuh. Susah.

Strategi kedua dengan menjadikan tokoh masyarakat sebagai fasilitator. Tokoh masyarakat di desa masih memiliki pengaruh yang besar. Mereka adalah para pemimpin non-formal yang petuah-petuahnya masih banyak didengar oleh masyarakat. Melakukan pendekatan kepada mereka guna membantu dalam hal pembangunan adalah strategi jitu. Saat terjadi sumbatan komunikasi antara masyarakat dengan masyarakat atau masyarakat dengan pemerintah desa, tokoh masyarakat bisa membantu mencairkan sumbatan itu. Memanfaatkan para tokoh masyarakat ini mirip “nabok nyilih tangan” tapi dalam artian positif.

Tokoh masyarakat di satu desa dengan desa lain tentu berbeda. Berbeda pula cara pendekatannya. Jika masyarakat desa cenderung religius, maka Kyai kampung adalah tokoh yang tepat kita dekati. Tatkala masyarakat desa didominasi oleh kaum abangan, bisa jadi “Kamitua” adalah tokoh kuncinya. Sebagai seorang pemberdaya masyarakat, kita dituntut bisa memahami kondisi sosio-budaya masyarakat setempat. Pendekatan kepada para tokoh masyarakat bisa menjadi wasilah bagi kamu yang masih jomblo. Siapa tahu anaknya cantik…hehe….

Kesadaran akan keterbatasan ilmu dan sumberdaya sendiri membuat perlunya berjejaring. Dalam hal ini, mengembangkan jaringan kolaboratif dengan berbagai pihak menjadi penting. Oleh karenanya, jaringan yang bernama Gerakan Desa Membangun (GDM) Mas Bayu manfaatkan betul. Apalagi dia menjadi salah satu pionir berdirinya GDM. Strategi ini dia ambil sebagai bagian dari semangat belajar bersama dan saling berbagi. Penerapan strategi ketiga ini banyak memberi manfaat. Salah satunya ketika para mahasiswa UI yang tergabung dalam Bukapeta membantu pemetaan dengan drone. Tak perlu mengeluarkan banyak biaya, pemetaan dengan drone ini gratis. Kalau sekedar memberi tempat menginap dan makan, aku rasa itu wajar.

Jaringan kolaboratif ini menjadi sarana belajar bagi perangkat desa Dermaji juga. Saat teman-teman di GDM mengadakan workshop atau pelatihan-pelatihan pengelolaan pemerintah desa, Mas Bayu sering mengirimkan perangkat desa nya. Bayangkan saja, jika strategi ini tak dilakukan, berapa banyak dana yang harus dikeluarkan saat harus membayar berbagai training-training dari lembaga profesional. Semangat saling berbagi, tukar pengalaman, informasi dalam rasa “ndesa” menjadi ciri GDM. Tak perlu menginap di hotel dengan makanan yang wah. Dimana saja kita bisa belajar. Maka harga yang harus dibayar pun tak perlu mahal-mahal. Cukup punya uang buat beli bensin, mendoan, kopi, cimplung, dan lain yang senada dengan itu.

Melibatkan diri dalam jaringan GDM yang aku ikuti sejak peringatan Harlah pertama, aku rasakan manfaatnya benar. Bergaul bersama orang-orang hebat semacam Yossy, Pak Budi, Kang Tarjo, Mas Sani, Soep, Pradna, Anton, Arya, Kang Gino, dan masih banyak lagi, membuat aku merasa lebih pintar sekarang. Pemahaman makna pemberdayaan menjadi semakin jelas. Memupuk agar tidak tinggi hati dan merasa lebih dari yang lain pun banyak aku pelajari di sini. Maka, langkah yang Mas Bayu tempuh itu benar. Aku pun bersyukur tersesat ke jalan yang benar… hahaha….

Sering diantara kita hanya mau berjejaring dengan para pejabat saja. Harapannya tentu mendapat bantuan berupa materi. Atau bahkan ingin sekedar narsis agar di bilang hebat. Padahal setahuku, berjejaring itu hanya lah sarana belajar. Andai nanti ada hasil secara materi yang diterima, itu sekedar bonus. Aku rasa, tak ada guna kenal atau dikenal oleh pejabat jika kelak mereka tahu bahwa kita bukan apa-apa. Lebih baik bekerja dengan baik, maka orang lain akan menghargai kita.
Strategi keempat yang dilakukan ialah pendekatan manajemen pengetahuan. Dalam sebuah hadits dikatakan, “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat”. Ini menjadi kewajiban kita untuk terus menuntut ilmu. Sebab ilmu yang ada di dunia ini sangat banyak. Allah SWT berfirman, “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat (ilmu dan hikmah) Allah. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana” (QS. Lukman: 27).

Sayangnya kita masih memaknai kalau belajar itu hanya di sekolah atau kampus. Apalagi jika masih membanggakan gelar. Tentu tidak salah juga. Akan tetapi, tak bijak rasanya hanya mengandalkan pengetahuan yang kita dapatkan di sekolah atau kampus saja. Kehidupan ini dinamis, banyak perubahan yang terjadi, maka kesiapan menghadapi dengan terus belajar harus dilakukan. Belajar bisa dari mana saja, termasuk pengalaman-pengalaman yang telah kita lakukan.

Oleh karenanya, Mas Bayu menyarankan agar kita mau mendokumentasikan kegiatan-kegiatan yang kita lakukan. Salah satunya dengan menulis. Menuliskan berbagai pengalaman yang pernah kita alami. Suatu saat di masa mendatang, tulisan-tulisan yang kita buat pasti akan bermanfaat. Sepakat, Mas. Mulane siki nyong nulis kiye… hehe….

Strategi kelima merupakan awal mula kegiatan utama GDM. Yakni pengembangan sistem infomasi desa. Sistem informasi desa diperlukan sebagai bagian dari pembangunan. Dengan adanya sistem informasi ini, maka masyarakat desa diharapkan bisa dengan mudah mengaksesnya. Masyarakat berhak tahu dan harus tahu. Sering tidak mau nya masyarakat ikut serta dalam pembangunan, hanya karena miskomunikasi. Informasi sering tidak sampai kepada mereka. Bukan sedang merendahkan para ketua RT yang sering ikut pertemuan, tapi tidak semua mampu menyerap informasi. Tak sedikit yang DDR (Daya Dong-e Rendah).

Lagi pula, penelitian menyebutkan bahwa daya serap maksimal seseorang akan informasi yang didapat hanya 80% saja. Sering informasi tidak utuh. Jika rangkaian informasi itu terlalu panjang, bisa-bisa mirip permainan pesan berantai. Orang pertama mendengar kata mobil bagus, orang terakhir bisa saja berujar “paha mulus”. Eh.

BAGIKAN
Berita sebelumyaUji Coba dan Coba Di Uji
Berita berikutnyaUji Coba dan Coba Di Uji
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here