Uji Coba dan Coba Di Uji

0
120

Bagian ke-3

Tubuhku memang tak bisa di ajak berdamai dengan yang namanya dingin. Selalu saja ada masalah jika dingin mencekat. Biasanya jadi “beser”. Apalagi jika harus dihadapkan dengan AC. Kalau terlalu lama berada di ruangan ber-AC badan terasa meriang. Masuk angin. Itu pula alasanku tak menginap di sini. Hanya semalam saja. Selebihnya pulang. Efek paling parah dari AC adalah susah buang air besar. Maklum, orang desa… hehe….

Meski cukup lama, sesi yang dibawakan oleh Mas Bayu tak membuat kami jenuh. Andai semua peserta tahu kalau tahun kemarin dia mendapat penghargaan “The Young Inspiring Leader”, aku rasa mereka akan bengong. Penghargaan yang diberikan langsung oleh Presiden Jokowi itu, Mas Bayu terima karena kemampuannya memimpin desa. Sebuah penghargaan yang dulu terasa tidak masuk akal. Bagaimana bisa seseorang yang tinggal di desa bisa mendapatkan penghargaan level nasional. Susah di nalar kan ya?

Lanjut? Yuk, ah.

Selanjutnya Mas Bayu menyampaikan pentingnya perencanaan yang terdokumentasi. Perencanaan itu membutuhkan kajian langsung dengan masyarakat, lingkungan, kondisi sosial, sumberdaya, dan masih banyak hal yang ada di desa. Dengan mengumpulkan informasi-informasi tersebut, akhirnya kita bisa benar-benar mengenal desa sendiri. Mengenal dari sisi potensi kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan. Seperti halnya manusia, desa yang sudah dewasa adalah desa yang mampu mengenali diri sendiri.

Hasil pengenalan desa sendiri, maka akan lebih mudah menentukan dan menetapkan arah tujuan pembangunan. Penentuan tujuan pembangunan akan mempermudah masyarakat dan pihak lain dalam melihat ke arah mana desa akan dibawa. Apakah desa akan dibawa menjadi sentra home industri, pertanian, desa yang religius, berbudaya, adil, dan tujuan-tujuan lain yang jelas. Yang nantinya akan tergambar di masa mendatang mau jadi apa desa itu.

Jika tujuan sudah jelas, maka kegiatan-kegiatan pembangunan akan dilakukan mengarah ke sana. Saat potensi desa lebih dekat ke sektor pertanian, maka skala prioritas tentu ke bidang itu. Andai akan dilakukan peningkatan kapasitas masyarakat dalam bidang home industri, pun tak akan jauh-jauh dari situ. Pelatihan-pelatihan guna home industri akan lebih mudah jika bahan baku berasal dari hasil pertanian. Bisa melalui pendidikan teknologi hasil pertanian (THP). Dari sini akan lebih mudah menentukan skala prioritas pembangunan.

Perencanaan yang terdokumentasi juga bisa dijadikan tolok ukur kinerja pembangunan. Rasa sulit menyebutkan apakah pembangunan di desa akan berhasil atau tidak, jika tidak ada titik awalnya, yakni perencanaan itu. Dokumen perencanaan itu bisa menjadi panduan bagi masyarakat dan menjawab pertanyaan: “jane arep digawe apa desane inyong?”

Selain itu, Mas Bayu menambahkan bahwa dokumentasi perencanaan yang kita kenal dengan istilah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) dan Rencana Kerja Pembangunan (RKP) harus bisa diakses oleh warga. RPJMDes yang telah ditetapkan seyogyanya bisa disebarluaskan kepada khalayak. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Dermaji ialah menampilkan di website desa. Tujuannya agar setiap pengunjung portal desa bisa membaca bahkan mengunduhnya. Ajib!

Nah, ini yang kemarin Kang Hadian ingatkan. Peta jalan menuju kemajuan dan kemandirian, atau yang disebut Hasta Cita Desa Dermaji:

1. Mempercepat pembangunan infrastruktur dan pengembangan wilayah.
2. Meningkatkan kualitas pelayanan publik dan mendorong terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi.
3. Meningkatkan kualitas pelayanan dasar bidang kesehatan yang berbasis masyarakat.
4. Memperkuat dan mengembangkan basis-basis ekonomi masyarakat.
5. Mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai pilar kekuatan ekonomi masyarakat.
6. Meningkatkan kesempatan belajar yang lebih luas kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kecakapan hidup.
7. Melaksanakan pembangunan yang berbasis nilai-nilai keagamaan, tradisi dan kearifan lingkungan.
8. Memperkuat partisipasi masyarakat dalam seluruh proses pembangunan.

Kalau Presiden Jokowi punya Nawacita, Dermaji punya Hasta Cita. Kamu punya apa? Cita cinta? Hahaha….

Saat percepatan pembangunan infrastruktur dan pengembangan wilayah menjadi jalan pertama, aku rasa wajar. Hampir semua desa merasa penting melaksanakan pembangunan fisik. Selain karena ketimpangan pembangunan yang selama ini dirasakan, bagi sebagian masyarakat desa, pembangunan fisik adalah bukti keberhasilan seorang Kades. Apapun yang dilakukan oleh Kepala Desa, jika masih banyak jalan dan irigasi rusak, gedung sekolah mau ambruk, katakan lah sampai pos ronda tak terawat, sepertinya sang Kades akan sulit terpilih pada pilkades selanjutnya. Maka tak heran, seorang manusia pilihan masyarakat, pada jaman dulu lebih banyak mirip pengemis. Mengemis, menghiba kepada pemerintah agar diberi bantuan. Sangat bertolak belakang dengan posisinya sebagai orang terhormat di desa. Miris.

Secara pribadi, aku tertarik dengan Hasta Cita kelima, yakni soal BUMDesa. Ke depan BUMDes diharapkan menjadi pilar ekonomi kekuatan masyarakat, dimana semua aktifitas ekonomi dinaungi olehnya. Tidak menutup kemungkinan, jika BUMDes bisa berkembang dengan baik, maka desa bisa membiayai pembangunannya sendiri. Ini mimpi jangka panjang.

Kita bisa berkaca dari pengalaman baik pengelolaan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) pada PNPM MP. Saat itu, maksimal 25% harus dimanfaatkan untuk dana bergulir. Imbas positifnya ialah akumulasi modal masyarakat yang masih terjaga hingga kini. Bayangkan saja, jika semua BLM diarahkan untuk pembangunan fisik atau peningkatan kualitas hidup saja, pasti sudah tak ada sisa. Semua berubah bentuk menjadi aspal jalan, gedung, peralatan pelatihan, dan aset lain yang kurang bersifat ekonomi. Praktik baik ini bisa dilakukan oleh desa. Artinya, desa diharapkan menetapkan besaran alokasi dananya ke BUMDes. Berapapun. Soal pemanfaatnya, tidak harus untuk dana bergulir. Terserah musyawarah desa.

Pemikiran banyak pihak untuk menyisihkan alokasi dana yang diterima oleh desa bertujuan untuk proyeksi kemandirian. Lagi pula, kebiasaan buruk di negara ini, setiap ganti pimpinan, ganti aturan dan atau kebijakan. Mumpung lagi hangat-hangatnya kucuran dana, lebih baik sisihkan. Meski aku berharap tidak terjadi, tidak menutup kemungkinan kucuran dana itu akan dipersulit atau malah dihentikan. Nah, jika sudah ada penyisihan, kan masih ada yang bisa dioptimalkan.

Hal lain yang tertulis yang tak penting adalah peningkatan kesempatan belajar yang lebih luas kepada masyarakat. Masyarakat memang harus selalu ditingkatkan kualitasnya. Dengan memberikan kesempatan yang luas untuk belajar, maka peningkatan itu bisa terjadi. Meski bukan menjadi jaminan, memberikan kesempatan orang untuk bertumbuh lebih memungkinkan mereka tumbuh. Berbeda dengan tidak memberikan mereka bertumbuh, karena jawabannya sudah jelas, mereka akan susah bertumbuh.

Museum Naladipa yang didirikan menjadi salah satu sarananya. Museum yang diresmikan oleh Wakil Bupati Banyumas, Budhi Setiawan, menjadi sarana belajar yang unik. Kita tahu, museum BRI yang ada di Purwokerto saja sepi pengunjung, lha kok di desa didirikan museum. Wajar jika orang berpikiran demikian. Apalagi saat aku berkunjung ke sana pun sedikit heran. Mengapa cuma kusan, pithi, centhong kayu, garu, iyan, irus, dan peralatan yang lazim di desa, kok dijadikan koleksi museum. Apa istimewanya?

Ternyata ada ide besar yang sedang di gagas. Museum menjadi salah satu sarana transfer pengetahuan khususnya bagi anak-anak dan generasi muda. Jaman kita kecil dulu, bermain di sawah dengan menaiki luku yang ditarik oleh kerbau sangat mengasyikkan. Sekarang. Sudah jarang sekali. Fungsi luku dan garu sudah digantikan oleh traktor. Jika anak-anak tidak diperkenalkan dengan barang-barang seperti itu, mereka justru akan merasa asing dengan peninggalan nenek moyang mereka. Aku ingat sebuah hadits: “Didiklah anak-anakmu dengan baik, karena mereka akan hidup di jaman yang berbeda dengan jamanmu”.

Bentuk sarana belajar yang lain adalah perpustakaan dan tulisan-tulisan dalam website. Kalau kamu pernah berkunjung ke sana, dahi kamu pasti akan berkerut. Kenapa perpustakaan kecil dan minim koleksi ini bisa mewakili kabupaten Banyumas untuk lomba di tingkat provinsi. Yah, koleksi perpustakaan Desa Dermaji memang masih sedikit. Tapi keberadaannya yang bersisian dengan ruang museum menjadi daya tarik sendiri. Lagi pula, setahuku masih banyak desa yang belum memikirkan soal pembangunan SDM. Masih berkutat urusan pembangunan fisik. Ngarah gampang. Sing keton nang masyarakat.

Mas Bayu menambahkan, perpustakaan yang ada di Desa Dermaji bukan diperuntukkan sebagai sumber mencari ilmu. Dia katakan perpustakaan desa nya itu dimaksudkan untuk memproduksi ilmu juga. Cara mudah yang ditempuh ialah dengan mencatat kearifan-kearifan lokal Desa Dermaji sendiri. Syukur bisa dibukukan.

Saat sesi diskusi, aku bertanya tentang cara Mas Bayu “merebut hati” masyarakat sehingga tumbuh rasa memiliki terhadap desa. Pajangan foto-foto kegiatan yang dilakukan banyak diikuti oleh warga. Tentu tingkat kepedulian dan rasa memiliki terhadap desa masih tinggi. Jawabannya cukup simpel, yaitu selalu melibatkan masyarakat di setiap tahapan pembangunan. Sebelum pelaksanaan harus ada sosialisasi terlebih dulu. Saat pelaksanaan, mereka diberi informasi perkembangan pekerjaan. Hasilnya masyarakat mau bersama-sama pemerintah desa membangun desa nya sendiri.

Aku tak mendengar penuh apa yang ditanyakan Pak Warno, Ketua BKAD Kec. Rawalo. Yang aku tahu, beliau menanyakan tentang efek pembangunan yang dilakukan terhadap pendapatan per kapita masyarakat. Ternyata apa yang ditanyakan Pak Warno memang belum terpikirkan. Oleh karenanya, Mas Bayu mengatakan terima kasih dan akan menjadikan itu sebagai salah satu indikator keberhasilan nantinya.

Pertanyaan dari Mas Budi terkait kontinuitas kepemimpinan versi Mas Bayu paska periode kepemimpinannya. Dia juga menanyakan strategi yang harus dilakukan agar bisa menggerakkan masyarakat. Tak mudah memang, menggerakkan masyarakat terlebih dengan semakin terkikisnya rasa gotong royong di masyarakat sekarang ini.

Jawaban Mas Bayu, aku rasa perlu disebarluaskan terutama kepada para pejabat dan pemimpin negeri ini. Menurutnya, seorang pemimpin itu harus lebih banyak mendengar daripada bicara. Sepakat, Mas!

Terkait berubahnya pola pembangunan karena ganti kepemimpinan, Mas Bayu sudah berupaya. Dia katakan bahwa semua yang telah dilakukan dicobakan untuk menjadi sebuah tradisi. Suatu saat nanti, masyarakat akan berkata: “gemiyen tah kaya kiye”. Sebuah kalimat yang lazim kita dengar. Pernyataan bahwa tradisi itu sudah berjalan. Jika itu baik, mengapa harus diganti.

Pernah kepikiran nggak, kalau orang desa mampu melakukan perencanaan sebagus ini? Aku sih percaya. Masih banyak orang cerdas di desa yang bisa melakukan ini. Kita tentu berharap dengan implementasi UU Desa, kelak akan muncul orang-orang seperti Mas Bayu. Lantas muncul calon-calon pemimpin bangsa yang benar-benar muncul dari rakyat. Kekuatan yang dimiliki merupakan pengalaman nyata memberdayakan masyarakat, bukan memperdaya masyarakat.

BAGIKAN
Berita sebelumyaUji Coba dan Coba Di Uji
Berita berikutnyaUji Coba dan Coba Di Uji
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here