Warung Mundi Sari Pasar Patikraja

0
224
Kang Daryoto warung Mundi Sari

Lalu lalang di Pasar Patikraja terlihat sangat sibuk. Jalan masuk di pintu selatan utamanya dari arah pasar ke grumbul Tambangan Desa Patikraja terkesan semrawut. Pejalan kaki, motor, gerobak pembawa sayur mayur, bahkan mobil berjajar dan berjalan lambat. Jalur itu memang jalur sibuk. Karena satu-satunya akses jalan masyarakat di grumbul Tambangan yang bisa dilalui mobil hanya itu. Jalur yang sama dipergunakan pengunjung pasar. Hasilnya, mereka harus bersabar saling bergantian utamanya mereka yang saling berpapasan.

Lebar jalan yang hanya 2,5 meter ini menjadi sangat becek ketika hujan mengguyur. Meski jalan sudah berlapiskan aspal tapi karena saluran drainase yang tak ada membuat genangan-genangan air di sana sini. Di tambah pedagang yang berjubel di kiri kanan jalan dengan “rinjing dan tampah” sebagai tempat pajangan dagangan menambah sempit.

Ah, daripada pusing melihat semrawut-nya jalan aku pun masuk ke warung kecil bertuliskan: “MUNDI SARI”. Warung yang hanya di buat dari anyaman bambu dan berlantai tanah ini menjadi tempat favourit ku setiap kali mengantar istri ke pasar. Sambil menunggu biasanya aku pesan wedang susu jahe dan beberapa gorengan.

Warung yang dimiliki oleh Kang Daryoto dan istri ini menyediakan aneka gorengan dan minuman. Menu seperti mendoan, tahu isi, dage, lontong, kopi, dan varian minuman sejenisnya menjadi sajian utama.

Duduk bersama para tukang becak dan kuli pasar menjadikan diskusi ringan sebagai pemecah kesunyian. Keresahan akibat naiknya harga-harga menambah beban mereka. Belum lagi biaya sekolah pada awal tahun ajaran baru ini. Biar pun alokasi 20% dana APBN untuk biaya pendidikan, tidak berarti masyarakat mendapatkan imbas langsung. Karena nyatanya pungutan-pungutan tetap ada.

Diskusi kecil para tukang becak
Diskusi kecil para tukang becak

Kata Kang Daryoto pemilihan kata MUNDI SARI bukan tanpa makna. MUNDI itu berarti konsisten, sedangkan SARI itu lebih mengarah ke mutu atau rasa. Jadi kata MUNDI SARI berarti warung yang konsisten dalam menjaga rasa.

Setiap pagi hari, pasangan suami istri mangkal sejak pukul 05.30 WIB hingga kira-kira pukul 11.00 WIB. Namun, sekitar pukul 09.00 WIB, Kang Daryoto mesti meninggalkan istri di warung untuk bekerja mengelilingkan air mineral galon.

“Ngger esuk kan ribut pisan. Ana acara nggoreng, ana jujug wedang meng bakul-bakul, urung liya-liyane. Jam sangaan wis mandan aso, dadi tek tinggal,” demikian penuturan Kang Daryoto. Sambil menyeduh wedang susu jahe pesananku.

Pria lulusan setara SLTA ini pernah menjadi karyawan pabrik di Jakarta, pernah bekerja pada bagian marketing ini, akhirnya memutuskan untuk berwiraswasta di desa. Memulai dari menjadi pencari pisang ke pelosok-pelosok desa dan menjualnya ke pasar ini, terus berusaha mengembangkan usahanya. Kejujuran dan kegigihannya bekerja membuatnya juga di percaya menjadi Sekretaris RT di tempat tinggalnya, yakni di RT 07 RW II Desa Mandirancan.
Usaha yang dilakukan oleh Kang Daryoto tidak sia-sia. Anak gadisnya, Nisa, sekarang sudah bekerja sebagai Deck Officer di sebuah perusahaan pelayaran. Nisa itu sudah menyelesaikan pendidikannya di Politeknik Ilmu Pelayaran di Semarang. Keren kan?

Pas kamu ke pasar Patikraja di pagi hari, mampir ke warung MUNDI SARI ya.

Kang Daryoto warung Mundi Sari
Kang Daryoto warung Mundi Sari
BAGIKAN
Berita sebelumyaBupati Resmikan Tugu Sinderan Mandirancan
Berita berikutnyaOlahraga malam
Suami dari seorang istri dan ayah dari tiga anak yang ingin hidup sejahtera bersama saudara, para tetangga, dan masyarakat. Sekarang masih dipercaya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Desa Kec. Kebasen Kab. Banyumas Prov. Jawa Tengah. Suka membaca dan berteman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here